Teman-teman
Akhir-akhir ini kami menerima siaran pers dalam jumlah lumayan besar. Uniknya, semua siaran per situ tanpa ba bi bu, langsung kirim siaran pers, lengkap dengan foto. Ada dua kemungkinan yang dipikirkan oleh pengirim siaran pers ; 1. Siaran persnya sangat dibutuhkan oleh redaksi, 2. Pengirimnya tokoh maha tokoh.
Dulu, zaman saya kuliah, saya juga ngirim siaran pers. Bahkan sampai hari ini beberapa kali saya juga kirim siaran pers dan artikel ke sejumlah media. Teknologi memudahkan, bisa lewat layanan whatsapp.
Sebelum saya kirim, saya membiasakan diri lihat medianya dulu. Apakah media itu mengambil posisi untuk mengadvokasi tema yang akan saya komentari dalam bentuk siaran pers atau tidak.
Lalu, apakah media ini menentukan kekhususan wartawan. Misalnya untuk isu tertentu ditugaskan wartawan sebut saja namanya si Ismail, untuk isu lainnya si Udin. Ini termasuk wilayah teritori si wartawan itu.
Lazimnya, wartawan itu punya isu tertentu, atau wilayah tertentu untuk diawasi. Bayangkan jika tidak ada pembagian, apa tidak gempor itu para wartawan?.
Maka, saya akan pilih berkomunikasi dengan wartawan yang menangani isu itu. Dengan harapan dia sudah paham duduk perkaranya.
Tentu, layaknya orang timur, basa-basi menjadi penting. Saya akan memperkenalkan diri dulu, kalau belum kenal. Siapa saya, kredit title saya sebagai apa dan seterusnya. Prinsip narasumber harus jelas dan kredibel menjadi acuan soal ini.
Kalau saya sudah kenal wartawannya, apakah saya akan langsung pakai jurus diawal tulisan ini? Tentu tidak. Maka saya akan kirim pesan pembuka, tentu lebih santai, lebih rileks. Ya maklum, wartawannya saya kenal.
Saya akan bilang boleh dalam daerah atau bahasa Indonesia. Kalau bahasa Aceh, saya akan kirim modelnya begini “kabantu kuh, kunak toh embong bak media” terjemahan bebasnya ‘bantu saya, saya mau keluarkan pernyataan di media”.
Tetap saja ada tradisi timur yang kita anut. Lalu, apakah ada media memuat langsung siaran pers tanpa basa basi tadi itu? Saya jawab sendiri. Pasti ada. Tapi, saya pribadi, sampai kiamat sudah dekat tidak akan saya ambil siaran pers itu.
Belum lagi tukang kirim siaran persnya ahli segala ahli. Mulai ahli ekonomi hingga geopolitik antara perang Israel dan Iran dia komentari.
Saya dua bulan menunda menulis kekhawatiran ini. Terlepas tulisan ini membantu kawan-kawan atau tidak soal siaran pers, saya juga tidak terlalu perduli. Saya hanya menulis keresahan saya. Tabek.
|MASRIADI ZA

Subscribe to my channel

