RAHMI Sasmita Sari, guru Pendidikan Agama Islam, SMPN 44 Takengon, Kabupaten Aceh Tengah mengalahkan rasa takutnya untuk menuju sekolah di pedalaman itu.
Bagi Mita-panggilan akrab-Rahmi Sasmita Sari- dua hari terakhir ini menjadi pengalaman luar biasa. Dia haru menyeberang sungai dengan bergantungan tali sling baja untuk menuju Desa Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Saban pagi, dia bersama guru lainnya mengantre satu per satu menaiki kotak besi diatas tali sling. Satu kotak diisi dua orang, lalu warga menarik sling di ujung agar kotak itu bergerak ke seberang sungai.
Tahun ajaran baru dimulai 5 Januari 2026. Mereka diminta ke sekolah untuk mengajar dan persiapan lainnya. Selama dua hari ini pula dia berjuang, bertaruh nyawa, melewati sungai dengan tali sling.
Selain sling, kawasan itu juga dipasang tali sling yang bisa dilewati dengan berjalan kaki. Kaki menginjak sling besi, tangan berpegangan lalu berjalan pelan-pelan.
Namun, MIta memilih cara menaiki kotak sling dan ditarik. Dibawahnya sungai Ketol terlihat keruh berlumpur. Sungai ini pula yang meluluhlantakan kawasan itu pada 26 November 2026 lalu.
“Jembatannya tidak putus, hanya saja, sungainya jadi lebih luas, jalan amblas. Jalan jadi sungai, itulah yang kami lewati sekarang ini dengan sling,” terang Mita.
Jika sling putus, resiko jatuh ke sungai. Nyawa menjadi taruhan perjuangan Mita dan seluruh masyarakat pedalaman Kabupaten Aceh Tengah itu.
Proses pembangunan jembatan darurat sedang dikerjakan. Namun belum rampung. Dia berharap, jembatan itu segera rampung, sehingga bisa ke sekolah dengan sepeda motor seperti sebelumnya.
Saat ini, proses belajar mengajar belum dimulai dengan normal. Guru datang ke sekolah untuk mempersiapkan bahan ajar semester baru sembari menunggu pelajar datang.
Beruntung sekolah itu selamat dari longsor dan banjir. Sehingga para pelajar bisa datang ke sekolah. Namun, akses menuju sekolah menjadi kendala terparah.
Bukan hanya harus menaiki sling, mereka juga harus melewati longsor di sepanjang jalan. “Kalau longsor kami bisa lewati pelan-pelan dan hati-hati. Kalau sungai ini, tak cara lain, semoga bisa segera rampung jembatan daruratnya,” pungkas Mita.
|KOMPAS

Subscribe to my channel

