ACEH TIMUR | Pengembangan lapangan Alur Siwah dilakukan untuk mempertahankan produksi akibat penurunan alami produksi pada lapangan tersebut. Lapangan tersebut sudah mulai berproduksi sejak Q3 2018 hingga saat ini.
Sehingga sesuai dengan strategi pengembangan lapangan yang tertuang dalam Plan of Development (POD), dibutuhkan penambahan sumur untuk menjaga laju produksi yang optimum dan untuk memenuhi komitmen Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) yang telah disepakati dengan pembeli.
Sebelumnya, Lapangan Alur siwah sudah dikembangkan pada tahap pertama dan telah mulai berproduksi sejak tahun 2018.
“Untuk tahap kedua, saat ini sudah diproses pengajuan pembebasan lahan. Selanjutnya, pada tahun 2022 direncanakan akan dilakukan pembuatan lokasi (site preparation) untuk lokasi pemboran serta proses pengajuan FEED untuk fasilitas produksi yang kemungkinan besar akan di Tie-In dengan existing facilities yang telah dibangun pada tahun 2018,” ujar Deputi Perencanaan BPMA, Muhammad Mulyawan, siang ini kepada Bakata.net.
Diharapkan segala proses sudah terkoneksi dengan produksi yang ada pada Q1 tahun 2024.
Lalu, untuk pengembangan tahap kedua ini adalah untuk mempertahankan laju produksi pada level 72-74 MMSCFD dengan pengeboran tambahan sumur pengembangan sejumlah 3 sumur di lapangan tersebut.
Nilai investasi yang akan digelontorkan Medco untuk kegiatan ini adalah sebesar USD 76,8 Juta
Adapun latar belakang proyek drilling sumur Alur Siwah adalah untuk mempertahankan produksi yang turun secara alami dan menjaga komitmen PJBG dengan pembeli sehingga pendapatan pemerintah dari hasil produksi sumur ini dapat dipertahankan. Selain itu kegiatan ini menjadi sangat strategis
karena produksi gas dari lapangan ini dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan industri pupuk di Aceh sehingga memberikan multiplier efek yang jauh lebih besar.
Selain lapangan Alur Siwah, BPMA bersama KKKS, baik yang mengoperasikan Blok A maupun Blok B memiliki rencana mengembangkan beberapa lapangan di Cekungan North Sumatera Basin diantaranya Alur Rambong, Drasip, Matang, Kuala Langsa, Cunda, Rayeu dan Arun Overburden.
Namun, semua itu butuh kajian yang lebih komprehensif baik dari sisi ekonomis maupun teknis.
Lapangan-lapangan seperti Cunda, Rayeu maupun Arun Overburden merupakan lapangan yang sudah discovery namun belum dikembangkan pada saat itu.
Pada tahun ini, BPMA meminta PT Pema Global Energi (PGE) sebagai operator Blok B melakukan persiapan seismik 3D pada lapangan tersebut untuk mendapatkan data permukaan bawah tanah yang lebih baik. Akuisisi seismik 3D tersebut direncanakan akan dilakukan pada awal tahun 2022.
Setelah itu , data kemudian diproses dan diinterpretasi. Dari hasil kajian terhadap seismik 3D tersebut barulah ditentukan titik pengeboran untuk melakukan appraisal dan pengembangan terhadap lapangan tersebut.
|RIL

Subscribe to my channel

