MALAM ini, Prof Dr Syukur Kholil, MA sekitar 21.09 WIB mengakhiri perjalanan panjangnya dalam mendidik generasi Indonesia di RS Murni Teguh, Sumatera Utara, Sabtu (26/9/2025).
Beliau meninggalkan dunia fana ini. Saya mendengar kabar ini dari WAG (Whatsapp Group) ASPIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi) Provinsi Aceh. Kabar duka ini dikirimkan pertama kali oleh Dr Zahari. Satu dari sekian banyak murid Prof Syukur asal Aceh.
Saya salah satu muridnya. Guru besar yang santai, suaranya pelan. Kadang nyaris tak terdengar saat diskusi. Memiliki ilmu mumpuni. Namun selalu menunduk, nyaris tak mengerti apa pun. Pendengar yang baik. Sesekali membuat guyon khas bapak-bapak.
Dia alumnus IAIN Sumatera Utara, lalu magister dan doktoral di Universiti Kebangsaan Malaysia. Tesis saya dibimbing Prof Syukur.
Ini tipe dosen yang bertanggungjawab. Mempertahankan anak didiknya hingga tetes darah terakhir. Saya ingat betul, saat seminar proposal tesis, seorang penguji saya saat itu. Baru pulang dari Australia dan masih berstatus kandidat doktor mengeluarkan jurus-jurus pamungkasnya.
Sebagai orang yang malang melintang di lapangan, jurus seperti ini saya sudah khatam benar. Layaknya orang baru belajar satu atau dua jurus silat, rasa-rasanya mau ngetes ilmu di mana saja. Tanpa liat medan atau area. Bahkan pohon pisang pun jadi sasak yang empuk untuk ditinju.
Saya senyum-senyum saja saat penguji bersikeras bahwa dua model analisis media bisa digabungkan dalam satu tesis. Model analisis framing. Tentu model ini banyak pakarnya. Saya memilih salah satu yaitu Robert N Etman. Penguji ini pun bersikukuh agar digabungkan dengan model pakar lainnya, Thomas E. Nelson, Rosalee A. Clawson, dan Zoe M. Oxley atau lainnya, terserah, kata penguji saya. Penguji ini mengutip pendapat guru besar salah satu universitas top di Ausie, untuk memperkuat pendapatnya.
Sebagai orang yang paling santai, saya pun senyum-senyum. Prof Syukur sambil angguk-angguk kepala. Setelah penguji selesai, Prof Syukur memberi kode angkat tangan. Saat saya mau bicara, dia memberi kode untuk tutup mulut.
Disitulah saya terkejut. Sekaligus bangga. Bahwa beliau berbicara panjang lebar soal metodologi analisis framing. Mungkin beliau merasa tersingung saat penguji saya membanggakan guru besar asing itu.
“Profesor anda tidak salah pendapatnya. Hanya anda saja yang salah mengerti. Ngapain dua model analisis framing digabungkan dalam satu penelitian. Seperti pengangguran yang bangun jam 2 siang saja”
Tampaknya, penguji saya baru sadar, di depannya guru besar yang benar-benar besar. Bukan hanya GBHN (Guru Besar Hanya Nama).
Dia pun menutup dengan permohonan maaf. “Saya ikut Prof saja. Mohon maaf atas kelancangan saya,” tutup penguji saya.
Belakangan penguji ini diganti, disebabkan hingga batas akhir, doktoralnya tidak rampung. Saya mendapat penguji baru saat sidang tesis. Setelah tamat, belakangan Prof Syukur menelepon saya. Persis saat Covid19. Beliau mengajak agar kuliah lagi.
“Mumpung Covid. Online semuanya. Kau pakailah buat sekolah. Pasti mudah. Aku bantu. Kan aku ketua Prodi S3 Komunikasi Islam di UIN,” katanya.
Saya menjawab nanti sajalah Prof. Belum ada uang dan segala macam alasan lainnya. Belakangan, ini salah satu penyesalan saja. Penyesalan itu saya sampaikan langsung di Sirocco Hermes Palace Medan. Tiba di Medan, saya telepon dan beliau meminta untuk ditemui di hotel itu, sekitar dua tahun lalu.
Kebetulan saya juga nginap di hotel yang sama. Itulah terakhir saya baku muka dengan Prof Syukur. Kini, beliau telah pergi. Batas pengabdiannya telah berakhir. Selamat jalan Prof. Surga menanti. Amin.
|M SAMBO

Subscribe to my channel

