Terhubung dengan kami

Kegeritan di Pinggir Krueng Keureuto …

News

Kegeritan di Pinggir Krueng Keureuto …

Bupati boleh berganti. Erosi belum tertangani.

KELUH kesah itu berulang kali disebutkan korban erosi sungai Kreueng Kereuto di Desa Blang Gunci, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Salah satunya  Khadijah (50) yang sebelumnya sudah lebih dulu tidur di teras rumah dan pada akhirnya memilih mengungsi ke rumah tetangga karena rumahnya telah amruk ke sungai pada 28 Juli 2020 lau.

Kini penderitaan serupa juga harus dirasakan keluarga A Rasyib T (70). Akibat tanah tanah longsor, ia dan keluarganya terpaksa tidur diteras rumahnya kendati posisi rumahnya sudah hampir amruk bahkan 50 persen bangunan rumahnya sudah tergantung dan nyaris amblas.

“Prihatin kita lihat keadaan A Rasyib ini, kondisi umur yang tak muda lagi ia sangat ketakutan setelah melihat setengah rumahnya sudah tergantung, kita beri pilihan mengunsi juga tidak tau harus kita ungsikan kemana,” ujar Kepala Desa Blang Gunci Samsul Kamal,  Jumat (4/9/2020).

Tak hanya mengancam rumah warga, bencana longsor itu hampir merenggut nyawa anak A Rasyib. Berdasarkan cerita dari Kepada desa tersebut tahan longsor terjadi anak A Rasyib sedang melakukan ibadah sholat magrib.

“Untungnya kejadian itu, berselisih waktu dengan anak Rasyib selesaikan sholatnya di kamar, melihat kejadian itu diapun lari dan memberitahukan kepada orangtuanya, kondisi terparah itu terjadi beberapa hari lalu,” katanya.

Mereka kawatir jika tak segera ditangani, mereka khawatir sewaktu – waktu keluarga A Rasyib tersebut amruk kesungai bersama bangunan rumah. Bahkan mereka sering takut tidur di rumah, namun mereka hanya bisa pasrah kerena tidak tau harus mengunsi.

Pihak desa sempat berdiskusi dengan warganya namun belum ada kepastian ingin mengunsi kemana, mereka mesih memilih bertahan di rumahnya karena tak memiliki lahan untuk pindah ke daerah lain.

“Jika warga saya tidur di Meunasah kan tidak mungkin juga mereka mau, waktunya pasti lama karena belum ada kepastian kapan di bangun bronjong atau tanggul,” katanya lagi.

Sekarang kondisi rumah disepanjang sungai Kreueng Kereuto semakin mengawatirkan, kata kepala desa rumah A Rasyib, ada empat rumah lainya hampir amruk bersama tanah longsor.

“Mereka adalah Wardiah (60), Ismail (75), Hafasah (50) dan satu lagi bukan rumah namun tempat usahanya atau kedai kelontong milik Umar (38). Jangankan rumah, jarak sungai dengan jalan utama di desa kami jaraknya tersisa 10 meter lagi,” sebut Samsul.

Sejauh ini kata Samsul warganya hanya menginginkan bantuan pemerintah untuk penanggulangan dan solusi untuk mereka mengunsi. Belum ada solisi dari pemerintah daerah maupun Provinsi belum ada petunjuk mereka yang menjadi korban longsor itu harus diungsikan kemana.

“Selama kejadian itu, baru beberapa hari yang lalu mereka diberikan sembako dari dinas sosial, beras bulog 50 kilogram bagi tiga rumah yang terparah, minyak peralatan sholat, gula dan beberapa lainya,” sebutnya.

Kata Samsul, saat ini warganya sangat membutuhkan tenda darurat agar bisa tidur dengan tenang sembari menunggu solusi lain dari pemerintah.

“Kadang saya merasa tidak enak dan segan terus-teruisan mengeluh dan memohon kepada pemerintah daerah untuk segera memberikan solusi terhadap korban ini, mau tak mau tetap saya lakukan,” pungkasnya.

|GITA

Baca selengkapnya
Rekomendasi...

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Ke Atas