UncategorizedKisah Gadis Penghapal Quran yang Putus Kuliah karena Biaya   

Kisah Gadis Penghapal Quran yang Putus Kuliah karena Biaya   

CUT Winda Sari (18), warga Desa Ujong Blang, Kecamatan Sakti, Kota Lhokseumawe, tersenyum saat menerima kedatangan sejumlah wartawan ke rumahnya, Selasa (5/3/2019).

 

Anak kedua pasangan TM Murdani dan Mulyani Ilyas, bukan sembarangan. Dia penghapal 20 juz Al Quran. Prestasi membanggakan itu tak semulus jalan hidupnya. Tahun lalu dia terpaksa berhenti kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAN) Lhoksemawe.

 

Himpitan ekonomi dara mungil itu membuatnya terpaksa berhenti kuliah. Padahal baru semester pertama di jurusan tarbiyah, Fakultas Tarbiah dan Bahasa Arab, IAIN Lhokseumawe.

 

TM Murdani, sang orang tua, tak bisa berbuat banyak. Penghasilannya sebagai nelayan bak gelombang laut nan pasang surut tak mampu menyelesaikan pembayaran uang kuliah. Ditambah lagi uang jajan dan biaya buku.

 

Apalagi, saat itu Cut menderita sakit tipes. Fokus sang ayah hanya mengobati putrinya agar pulih dan bisa beraktivitas kembali.

 

“Akhirnya saya putus kuliah. Walau saya ingin kuliah, namun biaya berkata lain. Saya pernah daftar biaya siswa berprestasi (Bidikmisi). Namun, kuota kampus sedikit dan saya tak lolos,” katanya.

 

Selepas tak kuliah, Cut tak patah semangat. Dia pun membantu keuangan keluarga, mengajar anak-anak hapal Al Quran di Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Lhokseumawe.

BACA JUGA : Warga Ketakutan, Buaya 2,8 Meter Ditangkap dengan Perangkap di Aceh Selatan

“Satu hari mungkin saya bisa kuliah lagi. Sekarang saya mengajar penghapal Quran juga. Semoga saya bisa kuliah lagi,” sebutnya berulang kali.

 

Tekad itu ditanam dalam relung sanubarinya. Impian menyandang gelar sarjana dan memperbaiki kehidupan terus tumbuh dihatinya. Untuk saat ini, Cut mengaku belum mampu membiayai kuliahnya.

 

Gadis mungil ini mulai menghapal Quran sejak kelas lima Madrasah Ibtidaiyah (MI) Banda

Masen, Lhokseumawe hingga menjadi hafizhah (penghafal Al-Qur’an) 20 jus. Menurutnya, aktivitas menghafal Al-Qur’an dengan target waktu 3 tahun, semua itu dijalaninya dengan ikhlas.

 

Sebagai anak dari keluarga kurang mampu, biaya pendidikan dasarnya pun berasal dari sejumlah lembaga. Saat duduk di madrasah tsnawiyah dan aliyah, Cut memperoleh beasiswa dari MuslimAID, sebuah lembaga donor dari Inggris dan Baitul Mal, Kota Lhokseumawe.

 

Beasiswa itu tak sia-sia, buktinya tahun 2017 dia meraih  juara tiga MTQ Tingkat Putri Dalam Rangka HUT ke 72 TNI, Juara 2 Hifdzil Al-Alquran 10 Juz MTQ  tingkat nasional di Papua tahun lalu.

 

Namun, segudang prestasi itu tak bisa berlanjut secara formal lewat kampus. Langkah pendidikan formalnya kini terhenti. Dia terus berharap, satu hari bisa kembali ke perguruan tinggi. Menimba ilmu dan meraih sarjana. “Entah kapan, saya terus mengimpikannya,” pungkasnya. |KCM

 

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

SDN 2 Dewantara Gelar Maulid, Kadis Pendidikan : Pendidikan Islami Modal Utama Anak …

ACEH UTARA – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448...

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Sinergi dengan Ombudsman Sumatera Utara, Kawal Penyaluran Energi

Medan– PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara...

Masa Sewa Huntara Berakhir Desember 2026, Nasib Ratusan Penyintas Banjir di Aceh Utara Mengantung?

ACEH UTARA – Ratusan kepala keluarga (KK) penyintas banjir...

Di Musda Golkar, Al-Farlaky Buka Pintu Kolaborasi untuk Pembangunan Aceh Timur

ACEH TIMUR – Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky,...

Steam Blowing Rampung, Rekind Kawal PLTP Salak Unit 7 Menuju Commissioning

JAKARTA -PT Rekayasa Industri (Rekind) tengah mengawal pelaksanaan kegiatan...