ACEH UTARA – Wartawan Beritamerdeka.net, Haikal Alfikri, mengungkap kronologi dugaan pemukulan terhadap dirinya oleh dua oknum TNI saat terjadi kericuhan dalam pertandingan sepak bola di Lapangan Bumigas, Gampong Blang Jruen, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Kamis (27/8/2026).
Akibat kejadian tersebut, Haikal kini menjalani perawatan intensif di RSUD Cut Meutia Aceh Utara. Ia mengaku mengalami pukulan di bagian rusuk kiri dan kanan, perut hingga bagian bawah perut.
“Saya dipukul di rusuk bagian kiri dan kanan, perut hingga bawah perut. Setelah kejadian saya kesulitan bernapas. Alhamdulillah sekarang sudah mendingan,” ujar Haikal, Jumat (28/8/2026).
Haikal menegaskan, saat kericuhan terjadi dirinya berada di lokasi bukan sebagai suporter maupun pihak yang terlibat dalam pertandingan. Ia mengaku datang untuk mendokumentasikan keributan tersebut sebagai bahan produk jurnalistik.
“Saya duduk di kursi belakang bersama salah satu anggota Polsek Tanah Luas dan sama sekali tidak berada di garis lapangan. Posisi saya bukan sebagai suporter,” katanya.
Bendahara Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Aceh Utara-Lhokseumawe itu juga membantah anggapan bahwa dirinya merupakan pemicu kericuhan. Menurutnya, keributan sudah terjadi sebelum dirinya mengambil video.
“Saya mau video untuk produk jurnalistik, tapi kenapa saya didorong-dorong? Mungkin karena saya orang kampung situ sehingga dianggap berpihak, apalagi saya kebetulan sebagai ketua pemuda,” ungkapnya.
Haikal menduga insiden tersebut tidak semata-mata terjadi secara spontan. Ia mengaitkannya dengan sejumlah pemberitaan yang dibuatnya dalam beberapa hari terakhir, termasuk terkait dugaan penggelapan dana seremonial 17 Agustus oleh Sekretaris Camat Tanah Luas, dugaan penggelapan dana meugang, serta dana share sebesar Rp1 juta dari keuchik untuk sebuah institusi.
“Saya rasa ini momentum dimanfaatkan oleh mereka kepada saya,” ujarnya.
Haikal juga membantah narasi bahwa kedua oknum TNI tersebut sedang melakukan pengamanan saat insiden berlangsung. Menurutnya, justru anggota Polsek Tanah Luas yang berupaya melerai ketika dirinya dipukul.
“Ketika mereka menarasikan melakukan pengamanan, itu tidak dilakukan. Dalam peristiwa kericuhan itu mereka tidak melakukan peleraian, malah mereka dilerai oleh anggota Polsek ketika menghantam saya,” katanya.
Ia bahkan menilai dugaan pemukulan tersebut bukan tindakan spontan.
“Jika memang dikatakan spontan, tidak benar. Memang saya dibidik,” tegas Haikal.
Haikal turut menyoroti tindakan salah seorang oknum berinisial J yang menurutnya berupaya membangun narasi seolah-olah ikut melerai kejadian.
“Salah satu dari mereka berinisial J malah playing victim, seakan-akan dia ikut melerai dan berpura-pura tidak bersalah,” ujarnya.
Menurut Haikal, fakta di lapangan seharusnya dapat diuji melalui rekaman video yang menjadi dokumentasi kejadian. Ia menilai narasi yang disampaikan pihak TNI perlu diuji secara terbuka berdasarkan bukti yang ada.
“Dalam video terbukti seluruh narasi yang disampaikan oleh Danramil menyudutkan saya, padahal faktanya bukan demikian. Artinya, bukan berarti apa yang disampaikan mereka sebagai instansi negara itu fakta. Mereka juga berpotensi melakukan hoaks,” katanya.
Atas kejadian tersebut, Haikal meminta kedua oknum TNI yang diduga melakukan pemukulan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku di lingkungan militer.
Ia juga meminta jajaran pimpinan TNI menangani kasus tersebut secara profesional, transparan, dan terbuka.
“Petinggi TNI harus berani proses hukum terhadap kedua oknum tersebut agar menjadi obat serta efek jera. Saya juga menuntut agar dilakukan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH),” tegasnya.
Haikal menilai tindakan terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik tidak semestinya terjadi. Menurutnya, masyarakat dan wartawan bukanlah musuh TNI.
“Pada dasarnya lawan TNI bukan masyarakat dan wartawan. Lawan mereka itu militer separatis. Ketika ada gangguan keamanan tingkat tinggi, boleh bagi TNI melakukan tindakan berlebih,” katanya.
“Harusnya musuh mereka kelompok bersenjata, bukan saya. Saya wartawan dan tidak bersenjata. Ketika berhadapan dengan masyarakat, TNI harus humanis karena TNI adalah pagar perlindungan masyarakat, bukan malah pagar makan tanaman yang merusaknya,” pungkas Haikal.|KOMPAS

Subscribe to my channel

