LHOKSUKON – Gemuruh 50 Rapai Pase terdengar hingga dini hari dalam Pertunjukan Budaya Duel Akbar 50 Rapai Pase sekaligus Deklarasi Rumoh Rapai Pase di Seung (Arena Uroeh), Gampong Dayah Meuria, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, Sabtu (25/7/2026) malam hingga Minggu (26/7/2026) dini hari
Pertunjukan yang mengusung tema “Gemuruh Warisan, Harmoni Peradaban” itu mempertemukan dua kawasan budaya Rapai Pase, yakni Blah Nou Krueng (Tengah–Barat Aceh Utara) dan Blah Deh Krueng (Tengah–Timur Aceh Utara).
Sebanyak 50 rapai digantung di seung dan dimainkan secara bergantian oleh para syekh dan awak rapai. Sebagian merupakan rapai pusaka peninggalan indatu yang diwariskan secara turun-temurun, sementara tujuh di antaranya merupakan karya generasi muda.
Pertunjukan diawali prosesi peusijuek (tepung tawar) terhadap Rapai Pase oleh Imam Gampong Dayah Meuria, Tgk Ridwan. Prosesi tersebut menjadi pembuka sebelum rangkaian seremoni dan dimulainya uroeh.
Usai seremoni pembukaan, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Utara Dayan Albar, S.Sos., MAP, yang hadir mewakili Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil, melakukan tabuhan rapai perdana.
Tabuhan tersebut kemudian disambut serentak oleh awak rapai dari Blah Nou Krueng dan Blah Deh Krueng, menandai dimulainya Duel Akbar 50 Rapai Pase.Pertunjukan utama dimulai sekitar pukul 22.30 WIB dan terus berlangsung hingga sekitar pukul 02.30 WIB dini hari.
Blah Deh Krueng diperkuat sejumlah grup Rapai Pase dari wilayah Tengah–Timur Aceh Utara. Menariknya, kubu ini juga mendapat dukungan awak rapai dari Matang Keupula, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur.
Selain itu hadir Grup Rapai Geunta Alam Desa Blang Pha, Kecamatan Seunuddon; Grup Rapai Raja Meudeuhak Desa Pucok Alue, Kecamatan Baktiya; Grup Rapai Kram-Krum Tam-Tum Boh Beureutoh Desa Lhok Merbo, Kecamatan Tanah Jambo Aye; Grup Rapai Geulumpang Tujoh, Kecamatan Matangkuli; serta Grup Rapai Pusaka Indatu Desa Buket Mee, Kecamatan Lhoksukon.
Sedangkan Blah Nou Krueng diperkuat tim tuan rumah Grup Rapai Raja Mulieng, kemudian grup dari Peureupok, Kecamatan Syamtalira Aron; Putroe Canden Blang Asan, Kecamatan Syamtalira Aron; Rumoh Cut Meutia, Kecamatan Pirak Timu; Lapang; serta Barona Jaya Desa Hueng, Kecamatan Tanah Luas.
Selain grup yang membawa rapai, sejumlah syekh dari grup lainnya turut hadir untuk menyaksikan dan bersilaturahmi.
Namun, mereka tidak membawa rapai karena membran atau kulit rapai milik sejumlah grup mengalami kerusakan setelah terendam banjir besar yang melanda Aceh Utara pada akhir November 2025.
Duel Akbar tersebut tidak hanya menghadirkan persaingan musikal antara dua wilayah, tetapi juga menjadi ruang pertemuan para pelaku Rapai Pase lintas generasi.
Para syekh dan ketua grup yang sebagian telah berusia sekitar 60 hingga 70 tahun berkumpul dalam satu arena. Mereka secara bergantian memainkan rapai dengan berbagai pola dan lagu yang diwariskan dalam tradisi Rapai Pase.Di antara para pemain senior itu terlihat pula generasi muda yang ikut mengambil posisi di depan rapai.
Keterlibatan mereka menjadi pemandangan penting di tengah kekhawatiran terhadap keberlanjutan tradisi Rapai Pase.
Generasi muda tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi mulai terlibat langsung memainkan dan bahkan membuat Rapai Pase.
Dari 50 rapai yang ditampilkan malam itu, tujuh merupakan karya generasi muda, yakni Raja Paya Reukam, Raja Jamok, Tualang Muda, Tualang Buket Asee Grah, Tualang Karu, Tualang Meu Pep-Pep, dan Putroe Bunthok.
Kehadiran rapai baru berdampingan dengan rapai pusaka peninggalan indatu sekaligus memperlihatkan pertemuan dua generasi dalam satu seung: warisan masa lalu dan karya generasi penerus.
Gemuruh rapai yang berlangsung selama berjam-jam menjadi tontonan sekaligus hiburan bagi masyarakat.
Warga bertahan di sekitar arena hingga dini hari. Sebagian bahkan membawa dan menggelar tikar di sekitar lokasi pertunjukan.
Ada yang duduk bersama keluarga, berbincang sambil menikmati pertunjukan, hingga tidur-tiduran di atas tikar sementara suara puluhan Rapai Pase terus bergemuruh dari seung.
Pertunjukan budaya itu juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memanfaatkan keramaian dengan membuka lapak makanan, minuman, dan berbagai dagangan di sekitar arena.
Keuchik Gampong Dayah Meuria, Hizulyadi AB, AMd, mengatakan Rapai Pase bukan sekadar seni pukul, melainkan warisan indatu yang memiliki nilai penting bagi masyarakat.
“Rapai uroeh bukan sekadar seni pukul. Rapai adalah warisan indatu kita, seni yang lahir dari kerajinan tangan indatu kita dahulu. Setiap pukulan penuh dengan makna dan setiap gerakannya mengajarkan kekompakan,” ujar Hizulyadi.
Menurutnya, nilai kekompakan dalam permainan rapai juga dapat menjadi pelajaran dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kalau dalam rapai satu orang salah pukul, maka iramanya rusak. Begitu juga dalam membangun gampong. Kalau kita tidak kompak, gampong tidak akan makmur. Jadi rapai ini mengajarkan kita tentang kebersamaan,” katanya.
Ia mengaku bangga karena generasi muda di Dayah Meuria dan kawasan sekitarnya masih memiliki keinginan mempelajari dan memainkan Rapai Pase.
“Saya sangat bangga anak-anak muda kita di Gampong Dayah Meuria dan sekitarnya masih mau belajar dan memainkan Rapai uroeh. Di tengah zaman modern ini, ini adalah hal yang luar biasa. Ini bukti kecintaan kita kepada adat Aceh masih ada dan harus terus kita jaga,” ujarnya.
Pemerintah gampong, katanya, akan terus mendukung kegiatan positif yang bertujuan menjaga dan mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya.
Selain Duel Akbar, malam tersebut juga menjadi momentum Deklarasi Rumoh Rapai Pase sebagai wadah bersama untuk memperkuat pelestarian Rapai Pase.
Rumoh Rapai Pase diarahkan menjadi ruang yang mempertemukan syekh, awak rapai, perajin, akademisi, generasi muda, komunitas, serta masyarakat dalam kegiatan riset, dokumentasi, regenerasi, edukasi, pertunjukan, dan promosi digital.
Kehadiran wadah tersebut juga diharapkan dapat memperkuat pendokumentasian sejarah, nama dan silsilah rapai, pengetahuan para syekh, teknik pembuatan rapai, hingga tradisi uroeh yang selama ini sebagian besar diwariskan secara lisan.
Duel Akbar 50 Rapai Pase sendiri merupakan bagian dari program Pelestarian Warisan Rapai Pase melalui Riset, Pertunjukan Budaya, Dokumentasi Buku, dan Promosi Digital.
Program tersebut digagas Tim Rumoh Rapai Pase yang melibatkan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh bersama pelaku dan komunitas pecinta budaya Aceh.
Tim Rumoh Rapai Pase menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang ikut mendukung terlaksananya pertunjukan budaya dan Deklarasi Rumoh Rapai Pase.
Apresiasi khusus disampaikan kepada BPMA–MedcoEnergi, BPMA–PGE, Bank Syariah Indonesia (BSI), Bank Aceh, dan Perta Arun Gas atas dukungan terhadap kegiatan pelestarian Rapai Pase.
“Dukungan para mitra bukan hanya membantu terlaksananya pertunjukan budaya ini, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga, merawat, mendokumentasikan, dan mewariskan Rapai Pase kepada generasi berikutnya,” ujar Ketua Jafaruddin.
Menurutnya, pelestarian Rapai Pase membutuhkan kolaborasi antara para pelaku budaya, masyarakat, pemerintah, akademisi, generasi muda, dunia usaha, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan Aceh.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut menjaga gemuruh warisan ini agar terus hidup. Semoga kolaborasi ini menjadi energi untuk memastikan Rapai Pase tetap dikenal, dicintai, dan diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.
Program Pelestarian Warisan Rapai Pase tersebut mendapat dukungan Dana Indonesiana yang dikelola LPDP bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, serta berbagai mitra yang mendukung pelaksanaan kegiatan di Aceh Utara.(*)

Subscribe to my channel

