NewsSetahun Menanti Pulang di Utara...

Setahun Menanti Pulang di Utara…

Reza Angkasah terlihat kesal bukan kepalang siang itu, Jumat (11/9/2026). Direktur CV Raya Enginering Aceh tersebut bukan sedang mempermasalahkan pekerjaan pembangunan rumah yang dikerjakannya, melainkan persoalan listrik yang hingga kini belum memiliki kepastian. Di Desa Alue Papeun, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, puluhan rumah untuk korban banjir mulai berdiri, tetapi belum satu pun memiliki jaringan listrik. Kondisi itu membuat proses pembangunan berjalan lebih lambat dari yang diharapkan, padahal rumah-rumah tersebut sangat dinantikan para penyintas banjir yang sudah berbulan-bulan harus bertahan di hunian sementara.

Reza mengatakan, usulan pembangunan jaringan listrik telah disampaikan kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sejak sekitar tiga bulan lalu. Usulan tersebut tidak hanya disampaikan olehnya sebagai pelaksana pembangunan, tetapi juga oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Namun, sampai saat ini belum ada kepastian kapan jaringan listrik akan dibangun. Pihak PLN, kata Reza, masih menunggu instruksi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI untuk memasang sambungan listrik bagi para penyintas banjir yang akan menempati hunian tetap tersebut.

“Saya bangun 130 unit. Sebanyak 80 unit sudah selesai. Seluruhnya belum ada jaringan listrik. Itu membuat kerja lambat, harusnya bisa cepat selesai. Cepat juga diserahkan ke penyintas banjir yang sudah berbulan-bulan di hunian sementara,” kata Reza.

Bagi Reza, persoalan listrik bukan perkara kecil. Rumah yang sudah selesai dibangun belum bisa sepenuhnya dimanfaatkan apabila kebutuhan dasar tersebut belum tersedia. Apalagi pembangunan 130 unit hunian tetap itu memang ditujukan untuk warga yang kehilangan rumah akibat banjir pada 26 November 2025 lalu. Pemerintah menjanjikan warga yang kehilangan tempat tinggal akan mendapatkan rumah pengganti atau hunian tetap sehingga mereka dapat meninggalkan hunian sementara dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih layak. Pembangunan rumah yang dilakukan Reza merupakan bagian dari bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi bagi penyintas banjir di Aceh Utara.

“Saya bangun bantuan dari Yayasan Buddha Tsu Chi,” terang Reza.

Di tengah pekerjaan yang harus dipercepat, Reza juga menghadapi persoalan lain berupa kenaikan harga material bangunan. Tekanan biaya tersebut membuat pekerjaan tidak mudah, tetapi ia tetap berusaha mempercepat pembangunan agar rumah dapat segera diserahkan kepada warga yang membutuhkan. Ada alasan lain yang membuatnya tidak ingin pekerjaan tersebut berlarut-larut. Reza mengaku dirinya juga merupakan korban banjir sehingga memahami betul kondisi warga yang kini masih tinggal di hunian sementara. Menurutnya, hidup di tempat penampungan sementara dalam waktu lama bukanlah keadaan yang mudah bagi sebuah keluarga.

“Saya korban banjir juga, jadi kerja cepat. Paham kita bagaimana susahnya di hunian sementara itu,” katanya.

Persoalan yang dihadapi penyintas banjir di Aceh Utara memang tidak berhenti pada pembangunan fisik rumah. Data yang dihimpun Kompas.com menunjukkan sebanyak 100 hunian tetap telah diserahkan kepada penyintas banjir di Desa Meunasah Bujok, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, yang dibangun Yayasan Buddha Tzu Chi. Sementara sejumlah rumah lainnya masih dalam proses pembangunan. Secara keseluruhan, Kabupaten Aceh Utara membutuhkan sekitar 8.000 unit hunian tetap bagi penyintas banjir, sedangkan Yayasan Buddha Tzu Chi membantu pembangunan sebanyak 500 unit rumah.

Di Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, kebutuhan hunian tetap juga masih jauh dari selesai. Kepala Desa Buket Linteung, Mansur, mengatakan terdapat 430 unit rumah yang dibutuhkan untuk para penyintas banjir di desanya. Saat ini, pembangunan sebanyak 180 unit rumah yang berasal dari bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi sedang dikerjakan dan tersebar di dua titik. Selain itu, sebanyak 50 unit lainnya telah diajukan kepada Kementerian Perumahan dan Kawasan Pemukiman, tetapi prosesnya masih terkendala pembebasan lahan.

“Sedang dikerjakan 180 unit dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Tersebar di dua titik. Untuk 50 unit lainnya sudah diajukan ke Kementerian Perumahan dan Kawasan Pemukiman sebanyak 50 unit, namun masih dalam pembebasan lahan,” kata Mansur.

Mansur berharap persoalan lahan tidak berlangsung terlalu lama. Sebab, di balik proses administrasi dan pembangunan tersebut terdapat warga yang setiap hari harus menjalani kehidupan dalam hunian sementara yang kondisinya serba terbatas. Mereka telah hampir satu tahun meninggalkan rumah setelah banjir melanda. Hunian sementara yang sempit dan panas membuat kehidupan para penyintas semakin berat, terutama bagi keluarga yang harus menjalani hari-hari panjang dengan fasilitas yang jauh dari kondisi rumah permanen.

“Kasihan warga menetap di hunian sementara sempit, panas, lengkap sudah menderita hampir satu tahun ini,” katanya.

Karena itu, Mansur berharap pembangunan hunian tetap dapat dipercepat dan diselesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ia berharap setidaknya pembangunan rumah yang sedang berjalan dapat rampung dalam enam bulan sehingga warga tidak perlu terlalu lama lagi bertahan di hunian sementara. Waktu terus berjalan dan sebentar lagi genap satu tahun sejak banjir besar melanda, sementara sebagian warga masih belum memiliki rumah untuk kembali.

“Kalau bisa enam bulan rampung dikerjakan hunian tetap itu. Sebentar lagi pas satu tahun pascabanjir, tapi rumah belum ada,” katanya.

Hampir setahun setelah banjir 26 November 2025, penantian para penyintas belum sepenuhnya berakhir. Sebagian rumah memang mulai berdiri, tetapi proses pembangunan masih berjalan. Di tempat lain, persoalan lahan masih menjadi hambatan, sementara rumah yang telah selesai pun masih membutuhkan jaringan listrik agar benar-benar dapat dihuni. Bagi warga yang kehilangan rumah, semua itu bukan sekadar persoalan pembangunan atau angka dalam daftar bantuan. Mereka sedang menunggu tempat untuk kembali pulang, tempat anak-anak mereka bisa tidur dengan nyaman, serta tempat keluarga dapat kembali menjalani kehidupan tanpa harus memikirkan kapan hunian sementara itu akan berakhir.

Di tengah penantian tersebut, Reza berharap pekerjaan pembangunan rumah di Alue Papeun dapat segera dituntaskan. Baginya, setiap hari yang berlalu berarti semakin lama pula para penyintas harus menunggu untuk meninggalkan hunian sementara. Rumah-rumah yang dibangunnya perlahan mulai terlihat bentuknya, tetapi tanpa listrik dan sejumlah fasilitas pendukung lainnya, rumah itu belum sepenuhnya menjadi tempat tinggal yang layak. Harapan para penyintas kini bertumpu pada percepatan pembangunan dan kepastian dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan, agar rumah yang telah lama dijanjikan benar-benar dapat menjadi tempat mereka memulai kembali kehidupan setelah banjir.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Aceh Utara, Muhammad, belum memberikan keterangan hingga berita ini ditayangkan. Telepon tidak diangkat dan pesan singkat tidak direspons.|KCM

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

DPRK Aceh Timur Setujui Pertanggungjawaban APBK 2025, Bupati Al-Farlaky Banjir Apresiasi

ACEH TIMUR – DPRK Aceh Timur menyetujui Rancangan Qanun...

Bupati Ayahwa Saksikan Festival Layang Tunang, Syamtalira Aron Terbang Tinggi

ACEH UTARA — Semangat melestarikan permainan tradisional kembali terasa...

Aceh Timur Juara, Ny. Lismawani Sabet Pembina Organisasi Kewanitaan Terbaik I se-Aceh

BANDA ACEH – Nama Kabupaten Aceh Timur kembali harum...

Wujud Kepedulian terhadap Pendidikan Keagamaan, PIM Resmikan Balai Pengajian Raudhatul Madinah

ACEH UTARA | PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) memperkuat...

Deteksi Dini Sindrom Metabolik, 70 Warga Reuleut Timu Ikuti Pembinaan Kesehatan Lansia

ACEH UTARA – Sebanyak 70 masyarakat Desa Reuleut Timu...