Lhokseumawe – Program Zakat Aceh yang dikelola oleh Baitul Mal harus dilakukan evaluasi dan program tersebut juga dinilai belum memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat miskin di provinsi itu
Akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh (Unimal) Damanhur Lc. MA, mengatakan program zakat Aceh yang dikelola selama ini, belum memiliki Blue Print atau kerangka kerja secara rinci.
“Program zakat yang dilakukan selama ini belum memiliki Blue Print dan tentunya ini harus dilakukan evaluasi kembali, sehingga nantinya program itu bisa lebih memberikan dampak kepada masyarakat,” ujar Damanhur, Minggu 26 Januari 2020.
Damanhur menambahkan, indikatornya belum memiliki Blue Print pada program tersebut, dapat terlihat pada indeks kemikinan Aceh, yang setiap tahunnya semakin meningkat. Apalagi Aceh menduduki peringkat termiskin di Sumatera.
Seharusnya dengan adanya program zakat tersebut, bisa menekan angka kemiskinan di Provinsi Aceh. Apalagi alokasi dana zakat yang dikelola itu, jumlah penyalurannya cukup banyak.
“Dana zakat ini jumlahnya cukup banyak dan apalagi di Aceh mempunyai Dana Otonomi Khusus (Otsus) juga, tapi angka kemiskinannya setiap tahun terus mengalami peningkatan dan ini harus dilakukan evaluasi,” tutur Damanhur.
Sebagaimana diketahui, pada Desember 2019 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Provinsi Aceh sebagai daerah termiskin di Sumatera atau berada di urutan ke-6 secara nasional.
|TG

Subscribe to my channel

