ArtikelIhwal Stunting di Aceh

Ihwal Stunting di Aceh

Dr. Ibrahim, SKM., M.Kes.

(Dosen Akademi Kesehatan Pemda Aceh Utara/Praktisi Kesehatan Masyarakat)

Email: ibrahimbram29@gmail.com

 

Stunting atau pendek, bukan hanya disebabkan faktor gizi buruk yang dialami ibu hamil dan balita. Tapi disebabkan multi dimensi seperti pola pengasuhan anak yang kurang baik hingga minimnya pengetahuan ibu. Disamping itu terbatasnya layanan kesehatan dari layanan ante natal care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan), post natal care (pelayanan kesehatan untuk ibu setelah melahirkan) yang berkualitas, hingga asupan makan bergizi.

Ditambah lagi minimnya akses air bersih dan sanitasi dan ketersediaan pangan di rumah tangga karena status sosial ekonomi yang kurang memadai. Semua sepakat, petugas kesehatan bertanggungjawab terhadap masalah itu. Namun peran sektor seperti petugas kesehatan (bidan dan pelaksana gizi) menjadi suatu keniscayaan. Optimalisasi layanan di Posyandu mulai dari wanita usia subur, persiapan kehamilan, kesehatan ibu hamil, edukasi terhadap ibu hamil agar anak dilahirkan tidak stunting. Tahapan itu ditambah dengan asuhan persalinan normal dengan baik, pemberian ASI exsklusif dan makanan pendamping ASI sesuai umur, pemberian imunisai lengkap dan perawatan tumbuh kembang balita. Rentetan program itu harus berbanding lurus antara pusat dan daerah. Menjadi program membumi untuk seluruh rakyat negeri ini.

Publikasi terbaru badan kesehatan dunia (WHO) tahun lalu tentang penurunan stunting pada anak disebutkan secara global tahun 2016, sebanyak 22,9 % atau 154,8 juta anak balita menderita stunting di dunia. WHO membatasi stunting di setiap negara, provinsi, dan kabupaten/kota hanya sebesar 20 % dari jumlah balita di daerah itu. Indonesia proporsi status gizi stunting sebesar 30,8 % (Riskesdas, 2018). Artinya jauh dari target yang ditetapkan WHO. Lalu Aceh tercatat salah satu dari tiga propinsi dengan jumlah kasus stunting tertinggi di tanah air.

Bonus demografi

Kondisi stunting bukan sebatas berdampak pada fisik, tetapi juga pada kecerdasan. Terganggunya perkembangan sel otak berdampak pada kecerdasan dan  kemampuan belajar rendah karena kehilangan point IQ.

Anak dengan stunting juga berpotensi mengalami penyakit tidak menular (PTM).Resiko lainnya berpotensi mengalami obesitas karena terganggunya fungsi organ tubuh dalam sistem pencernaan. Akibatnya asupan makanan yang bergizi tidak menambah tinggi badan melainkan tumbuh ke samping (gemuk). Fungsi organ lainnya yang terganggu juga membuat anak stunting bisa menderita penyakit diabetes, jantung, stroke dan lain-lain.  Dan itu semua akan berpengaruh terhadap kehidupannya di masa mendatang.

Saat ini Indonesia memiliki peluang bonus demografi pada rentang tahun 2028-2031. Dimana usia produktif lebih besar dari usia non produktif, serta tingkat ketergantungan (dependency ratio) penduduk tidak produktif terhadap penduduk produktif cenderung rendah.

Melimpahnya jumlah penduduk usia produktif sejatinya harus dimanfaatkan untuk meningkatkan capaian-capaian program pembangunan di berbagai bidang. Namun jika angka balita stunting masih relatif tinggi tentu itu menjadi ancaman serius. Bonus demografi menjadi berkah jika mempersiapkan generasi yang unggul dan berdaya saing dari negara-negara lainnya. Sebaliknya, akan menjadi musibah atau petaka jika tak mengatasinya sejak dini, saat ini juga.

Rekor Aceh dengan angka stunting tertinggi di Indonesia tentu saja sangat memprihatinkan. Bonus demografi diharapkan akan sirna jika diisi oleh sumberdaya manusia yang tidak berkualitas dan berdaya saing. Dan akan menjadi ancaman terhadap pembangunan sosial ekonomi masyarakat Aceh.

Bonus demografi tidak akan berarti apa-apa tanpa generasi sehat, karena dengan kondisi tubuh sehat mereka mampu memaksimalkan potensi diri dalam berbagai aspek kehidupan. Jika, tahun 2030 populasi penduduk stunting menjadi jumlah penduduk terbesar maka dipastikan mereka menjadi generasi tidak produktif, kualitas dan berdaya saing sesuai tuntutan globalisasi dewasa ini.

Padahal kita memasuki revolusi industry 4.0 yang membutuhkan generasi kreatif, produktif dan berdaya saing secara global. Bukan sebatas bersaing di tingkat lokal dan nasional.

Upaya strategis

Untuk menghindari persoalan di atas, maka berbagai upaya harus dilakukan, seperti pemerataan ekonomi, mengurai angka kemiskinan, dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan secara merata di Aceh.

Distribusi tenaga kesehatan secara merata dan tidak menumpuk pada titik perkotaan harus dibenahi.Sehingga, seluruh pelosok daerah ini mendapat layanan dari tangan-tangan terampil petugas medis. Bukan sebatas petugas medis yang tidak kompeten dibidangnya.

Saat ini hampir seluruh desa ditempatkan bidan yang sejatinya bisa mendeteksi dini potensi stunting. Itu bisa dilakukan sejak kehamilan sampai balita. Sayangnya, tidak semua bidan memiliki sensitifitas untuk isu stunting, belum lagi ditemukan fakta bahwa sebagian mereka tidak menetap di desa tempat tugasnya.

Upaya lain harus meningkatkan pengetahuan kaum ibu tentang gizi. Karena ibulah sebagai pemeran utama sekaligus sutradara dalam menjaga kesehatan keluarga.

Terpenting lainnya yaitu menselaraskan komitmen kepala daerah dengan program yang dijalankan untuk menangani masalah stunting. Koordinasi multi sektor (kesehatan, perikanan, pertanian, perekonomian dan pemberdayaan masyarakat) harus menjadi fokus utama.

Sinkronisasi lintas sektor ini bisa berupa sosialisasi dan edukasi berkesinambungan untuk meningkatkan kesadaran keluarga dan masyarakat terkait risiko stunting. Pembangunan akses pangan dan gizi berkualitas sehingga ketersediaan pangan ditingkat rumah tangga akan terpenuhi utamanya untuk ibu hamil dan balita. Terakhir pembangunan infrastruktur air bersih dan sanitasi memenuhi syarat kesehatan untuk kebutuhan hidup dan menghambat timbulnya penyakit, khususnya penyakit infeksi.

Diharapkan dengan intervensi yang tepat, faktor risiko  stunting dapat dicegah. Bahkan mereka yang memiliki riwayat kurang gizi saat balita, tetap bisa dioptimalkan sebagai modal Aceh meraih bonus demografi. Pertanyaan kemudian, sejauh mana kita mempersiapkan pembangunan manusia dewasa ini akan menentukan sejauh mana kita berhasil memanfaatkan peluang. Mari perangi Stunting! Selamat hari gizi nasional ke 59 tahun 2019. [SI]

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

24.500 UMKM Rusak Karena Banjir Aceh Timur, Berharap Stimulus dari Pemerintah

IDI RAYEUK- Sebanyak 24.500 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)...

Derita Anak Penyintas Banjir Tamiang, Ribuan Belum Miliki Seragam dan Alat sekolah

KUALA SIMPANG - Ribuan pelajar Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi...

Bupati Al-Farlaky Minta Camat dan Geuchik Uji Publik Ulang Data Penerima Bantuan Rumah BNPB

Aceh Timur — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky,...

Kebangkitan Wisata Aceh Tengah Masih Terkendala, Ini Harapan Pelaku Bisnis

Takengon — Kebangkitan sektor pariwisata di Aceh Tengah pasca...

2 Jembatan Amblas Penghubung Antar Kecamatan Aceh Utara Belum Diperbaiki

LHOKSUKON - Sebanyak dua jembatan yang amblas karena banjir...