SosokCerita Facriz Memasarkan Kopi Sumatera

Cerita Facriz Memasarkan Kopi Sumatera

SENYUM M Facriz Tanjung melebar ketika diajak berbicara tentang kopi Sumatera. Mantan jurnalis salah satu koran lokal dan sejumlah media massa di Medan, Sumatera Utara ini, mulai khatam ihwal bisnis kopi tanah air.

Pengetahuannya tentang kopi bertambah saat dia memutuskan menjadi petani kopi di Simpang Teuritit, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, tahun 2011 silam. Saat itu, dia membeli lahan dari petani lokal. “Luasnya nggak seberapa. Malu aku bilangnya. Lumayanlah,” kata Fachriz, Jumat (16/5/2019).

Dunia jurnalis pun ditinggalkan. Dia fokus bertani kopi. Belakangan Fachriz menyadari kopi Gayo bukan satu-satunya terbaik di Sumatera. Masih ada kopi lainnya, dan semua anugerah Tuhan itu harus dikembangkan.

“Maka, saya pun mulai berbisnis kopi dengan merk dagang Bumi Coffee. Modalnya benar-benar kepercayaan dari teman-teman. Saya hanya punya kebun di Aceh Tengah. Sedangkan di daerah penghasil kopi lainnya di Sumatera, saya mengandalkan kerjasama dengan petani dan kelompok tani,” ujarnya.

Memulai pengetahuan baru dari kopi, Fachriz belajar banyak. Mulai dari menyulap rumahnya di Jalan Pelajar No 168 Medan hingga bernegosiasi dengan pembeli.

Bahkan, diamulai memahami aneka jenis kopi mulai Arabica hingga robusta. Bukan hanya biji kopi yang disediakan, FAchriz juga menyediakan bubuk kopi dengan merk dagang yang sama.

Selai kopi Gayo, Fachriz juga menjual kopi dari sejumlah daerah di Sumatera Utara seperti asal Lintongnihuta, Doloksanggul, Tanah Karo, Langkat, Sipirok,Simalungun dan Serdang Bedagai. Rata-rata harga beli ditingkat petani Rp 60-Rp.65 ribu per kilogram.

Lalu Fachriz akan mengolah sebagian biji kopi terbaik itu menjadi bubuk kopi. Sebagian lagi dijual dalam bentuk biji sangrai dan sebagian dalam bentuk biji kopi mentah. “Bagi saya, kopi ini sungguh menjanjikan buat bisnis. Namun terpenting, bagaimana mengenalkan kopi ke masyarakat dunia, kopi terbaik Aceh dan Sumatera,” terangnya.

Ke Negeri Jiran
Saat ini, Bumi Coffee memasarkan ke sejumlah coffe shop di Jakarta, Jawa Timur, Bali dan Kalimantan. Untuk Aceh dan Sumatera, Bumi Coffee juga mudah ditemui di sejumlah gerai.

Bahkan, beberapa kali Fachriz menjual ke Malaysia dan Brunai Darussalam. Namun, karena tak memiliki izin sebagai pengekspor, Fachriz belum terlalu rutin mengimkan kopi terbaik Sumatera itu ke negeri jiran.

“Waktu ngirim ke Malaysia itu dititip ke perusahaan teman yang punya izin ekspor. Ke depan, kita bahas soal ekspor itu. Sekarang fokus ke pasar dalam negeri yang kian hari kian populer, ngopi itu sudah jadi gaya hidup,” sebutnya tersenyum.

Fachriz juga mengemas bubuk kopi 10 gram dalam plstik kecil menjadi souvenir pernikahan. Di dalam bungkusan itu diberi foto pasangan pengantin. Bubuk kopi dalam souvenir pernikahan itu cukup untuk satu gelas. “Jadi, souvenir dari kopi ini mulai diminati,” katanya.

Sedangkan bubuk kopi biasa, dia memasang ukuran 250 gram, 500 gram dan 1 kilogram. Dalam sebulan dia bisa menjual bubuk kopi sebanyak 300 kilogram. “Lumayan buat dapur tetap ngebul, dan kopi kita semakin menjadi tuan di negerinya sendiri dan dihormati di negeri lain,” pungkasnya. |DIM

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Hadirkan Pasar Murah untuk 1.000 Warga di Padang

Padang– Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut)...

Bupati Aceh Utara ; Tunda Aturan Desil Hingga Juli demi Akses Berobat Warga

ACEH UTARA — Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil,...

Pertamina Patra Niaga Sumbagut Perkuat Sinergi dengan Polda Riau dalam Menjaga Ketahanan Energi

Pekanbaru – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara...

24.500 UMKM Rusak Karena Banjir Aceh Timur, Berharap Stimulus dari Pemerintah

IDI RAYEUK- Sebanyak 24.500 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)...

Derita Anak Penyintas Banjir Tamiang, Ribuan Belum Miliki Seragam dan Alat sekolah

KUALA SIMPANG - Ribuan pelajar Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi...