Gaes. Pernah gak kamu mendengar keluhan orang atau kamu sendiri bilang begini: kapan ya gue bisa bahagia seperti dia? Kok bisa ya dia senang dan bahagia terus, sementara hidup gue begini-begini aja, susah!
Kalau kamu pernah mendengar itu, coba deh gaes didalami dan cari alasan kenapa keluhan seperti itu bisa muncul? Apakah pertanyaan itu karena faktor rasa atau mindset yang tidak benar? Atau karena faktor keduanya?
Okay. Sekarang saya ingin bertanya lagi sama kamu? Bahagia dan tidak bahagia itu sumbernya dari mana gaes? Merasa senang karena banyak uang apakah secara otomatis bahagia? Saat kamu lihat pasangan suami isteri yang catik dan ganteng jalan bareng, makan bareng, dan selfie bareng yang diunggah di medsos apakah juga pasti bahagia?
Nops! Hentikan cara berpikir bahwa senang dan bahagia itu sama? Memiliki uang banyak, pasangan cantik/ganteng, rumah dan mobil bagus, gaji besar, dan lain-lain itu adalah “unsur luar” yang mendorong seseorang bisa menjadi senang. Hidup senang tidak berbanding lurus dengan bahagia.
Senang lebih pada aspek kecukupan material yang oleh rerata orang disalahpahami sebagai kebahagiaan itu sendiri. Sementara bahagia adalah suatu kondisi pikiran yang sinkron dengan emosional dan spiritual dalam berbagai situasi dan kondisi. Bahagia tidak selalu harus dipenuhi dulu seluruh kebutuhan material (fisik), seperti uang yg banyak, mobil dan rumah yang bagus, jabatan tinggi, dan lain-lain.
Bahagia itu suatu kondisi batin yang merasa nyaman (comfort) dan lega tanpa beban atas kondisi apapun. Rasa nyaman karena mau menerima atas apa yang dimilikinya dengan sepenuh jiwa. Jadi kebahagiaan muncul dari hati terdalam, hati yang tenang, hati yang ikhlas atas kondisi yang ada dalam wujud syukur. Rasa bahagia dan tidak bahagia tergantung bagaimana akal dan hati menyikapi diri dan lingkungan tanpa tergantung oleh faktor luar.
Memang benar, bahwa faktor luar diri bisa menjadi pendukung kebahagiaan, seperti kecukupan ekonomi, status sosial. Namun tidak bisa dipastikan bahwa orang kaya dan terkenal pasti bahagia. Istri cantik atau suami ganteng juga belum pasti membahagiakan. Betapa banyak orang kaya yang tidak bahagia. Berapa banyak pasangan yang bubar (cerai) padahal mereka ganteng-ganteng dan cantik-cantik, dan lain-lain.
Jadi gaes, kebahagiaan itu muncul tergantung kemampuan seseorang dalam memaknai hidup ini (meaning life). Hidup itu bermakna atau tidak tergantung cara pandang hidupnya yang dipengaruhi oleh pikiran dan rasa. Tidak sedikit orang yang hidup pas-pasan, rumah sederhana dengan segala keterbatasan hidupnya justru sangat bahagia.
Inilah kenapa Viktor Frankl, ilmuan Yahudi bidang psikologi, melalui teori “logotherapy” menyebut hidup bermakna justru bisa muncul dari penderitaan. Frankl memiliki pengalaman berada di kamp konsentrasi NAZI yang kejam dan dia mengamati ragam perilaku manusia dalam penderitaan. Ia menemukan sejumlah orang tetap mampu berjuang dalam hidup yang penuh derita. Sementara sejumlah orang lainnya mengalah dan merasa kalah kepada derita. Bahkan ada yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Menurut Frankl, hal yang membedakan dari sejumlah orang yang mempertahankan kehidupan ini adalah karena mereka memiliki hidup yang bermakna. Tanpa makna hidup, kehidupan dirasakan hampa. Ketika kehidupan dirasa hampa, manusia tak ubahnya seperti mayat hidup (zombie). Ia bergerak, namun tidak ada arti dan tujuan.
Karenanya, untuk hidup bahagia itu ketika kamu mampu menjadikan hidup ini indah yang penuh arti. Kamu bisa menerima keadaan, merasa hidup kamu penting dan memberi manfaat bagi sesama. Artinya, kamu mampu memaknainya secara positif, penuh optimisme, dan banyak berbagi manfaat kepada orang lain, apapun bentuknya dengan tetap “positive thinking“.
Apa kata Islam soal ini? Islam itu agama yang komplit membincang soal ini. Dalam QS: Al-An’am: 32: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”
Ayat tersebut ingin menggambarkan bahwa kehidupan dunia, kehidupan yang bersifat material hanyalah “mainan” atau kamuflase kebahagiaan. Lalu yang menjadi pertanyaan, kenapa Allah swt menurunkan Nabi Adam as ke bumi ini dan akhirnya, kenapa kita harus ada di dunia ini?
Yes, pertanyaan yang cerdas. Kalau disederhanakan begini: kenapa kita mesti hidup di dunia jika kita pada akhirnya mati juga?
Kamu harus tahu, bahwa siklus hidup manusia di dunia ini hanya satu kali, yaitu hidup dan setelah itu mati. Dalam QS: Al-Mulk: 2, disebutkan: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
Dalam ayat tersebut, kenapa kata “mati” disebut dahulu sebelum hidup? Karena kematian adalah akhir dari segalanya, tidak bisa kembali lagi untuk bertobat atau memperbaiki diri. Sementara kata “hidup” disebut belakangan karena Allah menghargai hidup kita, bahwa kehidupan manusia merupakan peluang yang luar biasa untuk kebaikan, meskipun hal yang buruk (dosa) juga bisa dilakukan. Tegasnya, Allah ingin menguji manusia siapa yang paling baik dalam perbuatannya.
Inti dari uraian di atas, bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai oleh hati-hati manusia yang tenang (muthmainnah). Jiwa-jiwa manusia yang bersih, lapang dan kuat dari tekanan ego. Jiwa yang mampu mengelola sampah emosi dengan baik.
Lalu bagaimana caranya? Langkah yang paling bisa dilakukan adalah bagaimana kita mampu memaknai hidup ini dengan baik. Jangan biarkan jiwa ini dikotori oleh kehendak-kehendak yang bersifat material yang hanya menawarkan kebahagiaan semu di bumi. Wallahu a’lam []
Thobib Al-Asyhar
(Kabag OKH Ditjen Bimas Islam, Dosen Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI Salemba, Jakarta)

Subscribe to my channel

