Di ujung utara Pulau Sumatra, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dan keramaian destinasi wisata populer, terdapat sebuah mahakarya alam yang masih terjaga keasriannya. Namanya Air Terjun Tujuh Bidadari, sebuah surga tersembunyi yang berada di Desa Pulo Meuria, Kecamatan Geureudong Pase, Kabupaten Aceh Utara.
Bagi sebagian orang, perjalanan menuju lokasi ini mungkin terasa berat dan melelahkan. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Air Terjun Tujuh Bidadari bukanlah destinasi yang bisa dinikmati dengan mudah. Ia adalah hadiah bagi mereka yang berani menantang medan, menembus hutan, dan menghargai keindahan alam yang masih perawan.
Ketika suara deburan air mulai terdengar dari kejauhan, rasa lelah selama perjalanan perlahan menghilang. Di hadapan mata, hamparan air yang mengalir bertingkat di antara rimbunnya pepohonan hijau menghadirkan pemandangan yang seolah keluar dari lukisan alam. Sebuah panorama yang membuat siapa pun terdiam dalam kekaguman.
Menembus Hutan Menuju Negeri Para Bidadari
Perjalanan menuju Air Terjun Tujuh Bidadari dimulai dari Kota Lhokseumawe. Jarak sekitar 50 kilometer mungkin terdengar tidak terlalu jauh. Namun perjalanan ke lokasi wisata ini bukan sekadar soal jarak, melainkan pengalaman petualangan yang sesungguhnya.
Pada awal perjalanan, wisatawan akan melewati jalan beraspal yang cukup baik. Rumah-rumah penduduk, hamparan sawah, dan aktivitas masyarakat menjadi pemandangan yang menemani perjalanan. Namun suasana berubah ketika memasuki kawasan Geureudong Pase.
Aspal perlahan berganti dengan jalan tanah bercampur batu. Pepohonan semakin rapat. Sinyal telepon mulai menghilang. Alam mengambil alih seluruh ruang pandang.
Di beberapa titik, pengunjung harus melintasi jalan berlumpur, menanjak bukit, hingga menyeberangi aliran sungai. Saat musim hujan tiba, medan menjadi semakin menantang. Tidak heran jika kendaraan roda dua jenis trail menjadi pilihan utama para wisatawan yang ingin mencapai lokasi.
Namun justru tantangan itulah yang membuat perjalanan terasa istimewa. Setiap tanjakan yang berhasil dilewati menghadirkan rasa puas tersendiri. Setiap lekukan jalan seakan menyimpan kejutan berupa panorama alam yang menakjubkan.
Di kiri dan kanan jalan, terbentang hamparan hutan tropis yang masih alami. Burung-burung liar berkicau dari balik pepohonan. Udara terasa segar dan sejuk, jauh berbeda dengan suasana perkotaan yang penuh polusi.
Perjalanan menuju Air Terjun Tujuh Bidadari bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan untuk kembali menyatu dengan alam.
Saat Air Terjun Itu Menampakkan Wajahnya
Setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan, wisatawan akhirnya tiba di sebuah kawasan yang dikelilingi hutan lebat. Dari kejauhan terdengar gemuruh air yang menghantam bebatuan.
Langkah kaki pun semakin cepat.
Dan di situlah Air Terjun Tujuh Bidadari menampakkan keindahannya.
Air jernih mengalir bertingkat-tingkat dari ketinggian, membentuk undakan alami yang unik. Pepohonan hijau mengelilinginya seperti benteng alam yang melindungi keindahan tersebut dari kerusakan.
Tidak ada bangunan beton.Tidak ada kebisingan kendaraan. Tidak ada hiruk-pikuk manusia.
Yang ada hanyalah suara air, semilir angin, dan aroma hutan yang menenangkan.
Banyak wisatawan yang mengaku terpesona saat pertama kali melihat air terjun ini. Keindahannya sulit digambarkan dengan kata-kata. Kamera sekalipun sering kali tidak mampu menangkap seluruh pesona yang terlihat oleh mata.
Air yang mengalir tampak berwarna kebiruan dan sangat jernih. Dasar sungai terlihat jelas dari permukaan. Bebatuan besar yang tersebar di sekitar lokasi semakin mempercantik pemandangan.
Tidak berlebihan jika banyak orang menyebut tempat ini sebagai salah satu destinasi wisata alam paling eksotis yang dimiliki Aceh Utara.
Misteri Nama Tujuh Bidadari
Hingga kini belum ada catatan resmi mengenai asal-usul nama Air Terjun Tujuh Bidadari. Namun masyarakat sekitar memiliki berbagai cerita yang berkembang dari generasi ke generasi.
Sebagian orang meyakini nama tersebut muncul karena air terjun ini memiliki tujuh tingkatan utama yang terlihat jelas dari kejauhan. Tujuh tingkatan itu membentuk susunan yang begitu indah sehingga diibaratkan seperti tujuh bidadari yang turun dari langit.
Ada pula yang percaya bahwa suasana tempat ini begitu menawan dan damai sehingga menghadirkan kesan magis bagi siapa saja yang datang. Keindahannya dianggap menyerupai taman surga yang sering digambarkan dalam berbagai kisah.
Apa pun asal-usul namanya, satu hal yang pasti: Air Terjun Tujuh Bidadari memang memiliki pesona yang mampu memikat hati setiap pengunjung.
Surga bagi Para Pecinta Petualangan
Tidak semua wisatawan datang ke Air Terjun Tujuh Bidadari hanya untuk menikmati panorama alam.
Bagi para pecinta petualangan, perjalanan menuju lokasi menjadi daya tarik utama. Medan yang menantang menghadirkan sensasi tersendiri yang sulit ditemukan di tempat lain.
Komunitas trail dari berbagai daerah bahkan menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi favorit. Mereka datang berkelompok, menaklukkan jalan berlumpur, melintasi sungai, dan mendaki bukit sebelum akhirnya menikmati keindahan air terjun.
Bagi sebagian orang, perjalanan tersebut adalah ujian keberanian.
Bagi sebagian lainnya, perjalanan itu adalah cara terbaik untuk menikmati kebebasan.
Setiap kilometer yang dilalui menghadirkan pengalaman berbeda. Mulai dari melewati perkebunan sawit yang luas hingga menyusuri jalur hutan yang masih sangat alami.
Tidak sedikit pula wisatawan yang mengaku menemukan ketenangan batin selama perjalanan menuju air terjun ini.
Bermain Air di Tengah Keheningan Hutan
Sesampainya di lokasi, hampir tidak ada pengunjung yang mampu menahan godaan untuk segera turun ke kolam alami di bawah air terjun.
Airnya terasa sangat dingin dan segar.
Setelah berjam-jam menempuh perjalanan yang melelahkan, berendam di kolam alami menjadi pengalaman yang luar biasa menyenangkan.
Beberapa wisatawan memilih duduk di atas batu besar sambil menikmati guyuran air yang jatuh dari ketinggian. Sebagian lainnya berenang menikmati kejernihan air.
Suasana hutan yang sunyi membuat pengalaman tersebut terasa semakin istimewa. Tidak ada musik keras atau suara kendaraan yang mengganggu. Hanya suara alam yang menemani.
Di tempat seperti inilah seseorang dapat benar-benar merasakan arti ketenangan.
Camping di Bawah Langit Geureudong Pase
Bagi pencinta alam, Air Terjun Tujuh Bidadari juga menawarkan pengalaman berkemah yang tidak terlupakan.
Ketika sore menjelang dan sinar matahari mulai menembus sela-sela pepohonan, suasana di sekitar air terjun berubah menjadi sangat romantis dan menenangkan.
Tenda-tenda mulai berdiri di area yang aman. Api unggun dinyalakan. Aroma kopi dan makanan sederhana mulai tercium di udara.
Malam hari menghadirkan pengalaman yang berbeda. Langit terlihat lebih cerah. Suara air terjun menjadi musik alam yang menemani sepanjang malam.
Di tengah gelapnya hutan, pengunjung dapat merasakan kedekatan yang begitu kuat dengan alam.
Banyak yang mengaku pengalaman bermalam di kawasan Air Terjun Tujuh Bidadari menjadi salah satu momen paling berkesan dalam hidup mereka.
Menjaga Warisan Alam untuk Generasi Mendatang
Air Terjun Tujuh Bidadari bukan sekadar tempat wisata.
Ia adalah warisan alam yang harus dijaga bersama.
Keindahan yang dimilikinya tidak tercipta dalam hitungan tahun, melainkan melalui proses alam selama ribuan tahun. Oleh karena itu, setiap pengunjung memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersihan dan kelestariannya.
Tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak lingkungan, serta menghormati nilai-nilai budaya dan syariat yang berlaku di Aceh merupakan bentuk penghormatan terhadap alam dan masyarakat setempat.
Di tengah semakin banyaknya kawasan wisata yang kehilangan keasriannya akibat eksploitasi berlebihan, Air Terjun Tujuh Bidadari hadir sebagai pengingat bahwa alam yang terjaga selalu memiliki daya tarik yang luar biasa.
Ketika langkah kaki meninggalkan lokasi dan suara gemuruh air perlahan menghilang, satu hal yang pasti akan tertinggal dalam ingatan setiap pengunjung adalah rasa kagum.
Kagum kepada alam.
Kagum kepada Aceh Utara.
Dan kagum kepada sebuah surga tersembunyi bernama Air Terjun Tujuh Bidadari, tempat di mana keindahan, petualangan, dan ketenangan berpadu dalam harmoni yang sempurna.
Komit Pulihkan Air Terjun Tujuh Bidadari Pascabanjir
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menegaskan komitmennya untuk melakukan pemulihan dan pengembangan kawasan wisata Air Terjun Tujuh Bidadari di Kecamatan Geureudong Pase yang terdampak banjir besar pada 26 November 2025 lalu. Upaya pembenahan akan dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat setempat.
Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa), Rabu (1/7/2026) mengatakan bahwa Air Terjun Tujuh Bidadari merupakan salah satu aset wisata alam unggulan yang memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat pedalaman Aceh Utara.
Menurutnya, bencana banjir yang melanda wilayah tersebut telah menyebabkan sejumlah kerusakan pada akses menuju lokasi wisata, termasuk tertutupnya beberapa jalur oleh material banjir berupa lumpur, kayu, dan bebatuan yang terbawa arus deras.
“Kita memahami bahwa pascabanjir yang terjadi pada November 2025 lalu, sejumlah titik akses menuju Air Terjun Tujuh Bidadari mengalami kerusakan. Karena itu Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berkomitmen melakukan pembenahan secara bertahap agar destinasi wisata ini kembali dapat dinikmati masyarakat dan wisatawan dengan aman dan nyaman,” kata Ayahwa di Lhoksukon, Kamis (1/7/2026).
Ayahwa menjelaskan, tahap awal yang akan dilakukan adalah pemetaan kondisi lapangan dan identifikasi tingkat kerusakan pada jalur akses menuju kawasan wisata. Setelah itu, pemerintah akan melakukan pembersihan material sisa banjir serta perbaikan pada sejumlah titik yang dianggap menjadi prioritas.
Selain pembenahan infrastruktur dasar, pemerintah daerah juga akan melakukan penataan kawasan wisata agar tetap mempertahankan keaslian alam yang menjadi daya tarik utama Air Terjun Tujuh Bidadari.
“Kami tidak ingin pembangunan yang dilakukan justru menghilangkan keindahan alami kawasan ini. Karena itu setiap langkah yang diambil akan mempertimbangkan aspek konservasi lingkungan sehingga keasrian hutan dan ekosistem di sekitar air terjun tetap terjaga,” ujarnya.
Bupati menambahkan, pemulihan kawasan wisata tersebut juga akan melibatkan masyarakat sekitar sebagai bagian dari strategi pembangunan berbasis komunitas. Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan, keamanan, dan keberlanjutan destinasi wisata tersebut.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kita ingin masyarakat ikut terlibat dalam menjaga dan mengembangkan kawasan wisata ini sehingga manfaat ekonominya juga dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar,” katanya.
Lebih lanjut, Ayahwa mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Utara juga akan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi, pemerintah pusat, dunia usaha, komunitas pecinta alam, dan pelaku pariwisata untuk mendukung percepatan pemulihan kawasan Air Terjun Tujuh Bidadari.
Menurutnya, proses pembenahan pascabencana harus menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola destinasi wisata yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
“Kita ingin Air Terjun Tujuh Bidadari tidak hanya pulih dari kerusakan akibat banjir, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata alam yang lebih tertata, lebih aman, dan lebih berdaya saing. Ini merupakan bagian dari ikhtiar kita bersama dalam membangun sektor pariwisata Aceh Utara yang berkelanjutan,” katanya.
Ayahwa juga menegaskan bahwa pengembangan destinasi wisata di Aceh Utara akan tetap mengedepankan nilai-nilai Syariat Islam, kearifan lokal, dan pelestarian lingkungan sebagai identitas daerah.
“Pembangunan sektor pariwisata harus berjalan seiring dengan pelestarian budaya dan nilai-nilai keislaman yang menjadi jati diri masyarakat Aceh Utara. Dengan demikian wisatawan yang datang tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga merasakan keramahan dan karakter masyarakat Aceh yang religius,” ujarnya.
Di akhir keterangannya, Bupati Aceh Utara mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan mendukung proses pemulihan destinasi wisata yang terdampak banjir sebagai bagian dari upaya membangkitkan kembali sektor pariwisata daerah.
“Pembenahan Air Terjun Tujuh Bidadari bukan sekadar memperbaiki kerusakan yang ditinggalkan bencana, tetapi juga menjadi simbol semangat kebangkitan daerah. Dengan kerja sama, komitmen, dan gotong royong seluruh pihak, kita optimistis mampu mengembalikan kejayaan destinasi wisata alam ini menuju Aceh Utara Bangkit, bangkit dari kerusakan destinasi wisata pascabanjir,” tutup Ayahwa.
Dukung Penataan Ulang Air Terjun Tujuh Bidadari Pascabanjir
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Poraparekraf) Kabupaten Aceh Utara, Zulkifli, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana penataan ulang kawasan wisata Air Terjun Tujuh Bidadari di Kecamatan Geureudong Pase yang terdampak banjir besar pada 26 November 2025 lalu.
Menurut Zulkifli, Air Terjun Tujuh Bidadari merupakan salah satu destinasi wisata alam unggulan yang dimiliki Aceh Utara dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata petualangan serta wisata alam berbasis konservasi. Karena itu, pemulihan kawasan pascabencana menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah dalam upaya membangkitkan kembali sektor pariwisata Aceh Utara.
“Kami sangat mendukung arahan dan komitmen Bupati Aceh Utara untuk melakukan pembenahan Air Terjun Tujuh Bidadari secara bertahap. Destinasi ini memiliki daya tarik yang luar biasa dan sudah dikenal oleh para pecinta wisata alam maupun komunitas petualangan. Pascabanjir, tentu perlu dilakukan penataan kembali agar kawasan ini semakin aman, nyaman dan menarik untuk dikunjungi,” kata Zulkifli.
Ia menjelaskan, banjir yang terjadi pada akhir November tahun lalu telah membawa material berupa lumpur, kayu, dan bebatuan yang berdampak pada beberapa jalur akses menuju lokasi wisata. Selain itu, sejumlah titik yang selama ini menjadi jalur lintasan wisatawan juga memerlukan perbaikan dan penataan agar lebih aman digunakan oleh pengunjung.
Menurutnya, Dinas Poraparekraf Aceh Utara saat ini terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk memetakan kebutuhan penanganan di lapangan serta menyusun langkah-langkah pengembangan kawasan wisata secara berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan bahwa proses penataan tidak hanya berfokus pada perbaikan kerusakan akibat banjir, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas destinasi wisata. Penataan yang dilakukan nantinya harus mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan sekaligus menjaga keaslian lingkungan yang menjadi daya tarik utama Air Terjun Tujuh Bidadari,” ujarnya.
Zulkifli mengatakan, konsep pengembangan yang direncanakan akan tetap mengedepankan prinsip wisata alam yang ramah lingkungan. Kawasan hutan yang masih alami, kejernihan air, serta keunikan air terjun bertingkat menjadi aset utama yang harus dipertahankan.
Menurutnya, keindahan Air Terjun Tujuh Bidadari justru terletak pada kondisi alamnya yang masih asri dan belum tersentuh pembangunan secara berlebihan. Oleh sebab itu, setiap upaya penataan akan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek konservasi dan keberlanjutan lingkungan.
“Kami tidak ingin pembangunan yang dilakukan merusak karakter alam kawasan ini. Justru yang ingin kita hadirkan adalah fasilitas pendukung yang sederhana namun fungsional, sehingga wisatawan dapat menikmati keindahan alam dengan nyaman tanpa mengurangi nilai ekologis yang dimiliki kawasan tersebut,” katanya.
Selain aspek fisik, Dinas Poraparekraf juga berencana mendorong keterlibatan masyarakat sekitar dalam pengelolaan wisata. Langkah tersebut dinilai penting agar manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat setempat.
“Partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengembangan destinasi wisata. Masyarakat dapat berperan sebagai pemandu wisata, pengelola usaha kuliner, penyedia jasa transportasi lokal maupun pelaku usaha ekonomi kreatif lainnya yang mendukung aktivitas pariwisata,” jelas Zulkifli.
Ia optimistis, apabila proses pemulihan dan pengembangan dilakukan secara bertahap serta didukung seluruh pemangku kepentingan, Air Terjun Tujuh Bidadari akan kembali menjadi salah satu ikon wisata alam kebanggaan Aceh Utara.
“Kami berharap kawasan ini nantinya tidak hanya menjadi tujuan wisata masyarakat Aceh, tetapi juga mampu menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara. Potensi yang dimiliki Air Terjun Tujuh Bidadari sangat besar dan layak untuk terus dikembangkan sebagai destinasi unggulan daerah,” katanya.
Zulkifli mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan wisata tersebut agar proses pemulihan yang dilakukan pemerintah dapat berjalan optimal.
“Air Terjun Tujuh Bidadari adalah aset bersama yang harus kita jaga. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan, kami yakin destinasi ini akan kembali bangkit dan menjadi salah satu penggerak pertumbuhan sektor pariwisata daerah, menuju Aceh Utara Bangkit, bangkit dari kerusakan destinasi wisata pascabanjir,” pungkasnya.
|ADVERTORIAL

Subscribe to my channel

