AdvertorialMenyegarkan Diri di Sungai Rayap, Permata Wisata Alam di Pedalaman Aceh Utara

Menyegarkan Diri di Sungai Rayap, Permata Wisata Alam di Pedalaman Aceh Utara

TERIK matahari siang terasa membakar kulit ketika kendaraan memasuki kawasan pedalaman Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara. Namun panas yang menyengat itu seakan tak berarti begitu suara gemericik air dan hamparan sungai berbatu di kawasan wisata Sungai Rayap mulai terlihat dari kejauhan.

Di tengah rimbunnya pepohonan dan suasana alam yang masih asri, Sungai Rayap yang berada di Desa Panton Rayeuk Sa menjadi tempat pelarian bagi warga yang ingin melepaskan penat. Airnya yang jernih dan dingin mengalir di antara bebatuan besar, menghadirkan kesejukan alami yang sulit ditemukan di perkotaan.

Perjalanan menuju lokasi ini dapat ditempuh sekitar 30 menit dari Kota Lhokseumawe. Dari Simpang Buloh, Cunda, pengunjung mengikuti jalan menuju Keude Buloh Beureughang di Kecamatan Kuta Makmur. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan hingga menemukan penunjuk arah menuju destinasi Sungai Rayap.

Sepanjang perjalanan, hamparan perkebunan kelapa sawit milik warga membentang di sisi kiri dan kanan jalan. Jalan beraspal yang cukup baik membuat perjalanan terasa nyaman sebelum akhirnya pengunjung menuruni jalan tanah yang curam menuju bibir sungai.

Setibanya di lokasi, wisatawan dikenakan biaya masuk sebesar Rp5.000 per orang. Meski sederhana, suasana kebersamaan dan keramahan masyarakat menjadi daya tarik tersendiri.

Di tepi sungai, sejumlah pondok kayu berdiri berjejer. Pondok-pondok tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung.

“Saya tidak menyewakan pondok. Pengunjung bisa menggunakan secara bebas, kalau ingin memberi, seikhlasnya saja,” ujar Halimah, salah seorang warga yang berjualan di kawasan wisata tersebut.

Air Sungai Rayap yang dingin dan jernih menjadi magnet utama. Anak-anak hingga orang dewasa tampak menikmati kesegaran air sambil bercengkerama bersama keluarga. Sebagian pengunjung bahkan membawa bahan makanan dari rumah untuk dibakar dan disantap bersama di pinggir sungai.

Di sela aktivitas wisata, Halimah mengingatkan agar para orang tua tetap mengawasi anak-anak saat berenang. Pasalnya, beberapa titik sungai memiliki kedalaman yang berbeda dan belum dilengkapi penanda khusus.

“Tempat ini kami kelola secara swadaya. Karena itu kami selalu mengimbau agar orang tua mendampingi anak-anak saat mandi di sungai,” katanya.

Keindahan Sungai Rayap tidak hanya menarik perhatian warga Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Pengunjung dari Aceh Timur, Aceh Tamiang, hingga berbagai daerah lainnya juga mulai berdatangan untuk menikmati suasana alam yang masih alami.

Komitmen Bupati

Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil atau yang akrab disapa Ayahwa, menilai Sungai Rayap memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi salah satu destinasi wisata alam unggulan di Kabupaten Aceh Utara. Keindahan alam yang masih terjaga, kejernihan air sungai, serta suasana pedesaan yang asri menjadi modal utama untuk menarik kunjungan wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah.

Menurut Ayahwa, keberadaan Sungai Rayap tidak hanya menawarkan panorama alam yang memanjakan mata, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pengembangan kawasan wisata tersebut harus dilakukan secara terencana dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan dan pelestarian lingkungan.

“Kita memiliki banyak potensi wisata alam yang luar biasa di Aceh Utara. Sungai Rayap merupakan salah satu aset daerah yang perlu dikembangkan secara bertahap dengan tetap menjaga keaslian lingkungan dan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Wisata yang baik bukan hanya menghadirkan banyak pengunjung, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa merusak alam yang menjadi daya tarik utamanya,” ujar Ayahwa.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara terus berupaya mendorong pengembangan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, sektor pariwisata memiliki efek berantai yang mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan pelaku usaha mikro, serta menggerakkan berbagai sektor pendukung lainnya.

Ayahwa menilai masyarakat Desa Panton Rayeuk Sa telah menunjukkan peran aktif dalam mengelola kawasan wisata Sungai Rayap secara swadaya. Semangat gotong royong yang ditunjukkan warga dalam menjaga kebersihan, membangun pondok-pondok sederhana, hingga memberikan pelayanan kepada pengunjung menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi pengembangan destinasi tersebut.

“Kita mengapresiasi masyarakat yang selama ini telah menjaga dan mengelola kawasan wisata ini dengan kemampuan yang dimiliki. Partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam pengembangan pariwisata. Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha harus terus diperkuat agar potensi wisata yang ada dapat berkembang secara optimal,” katanya.

Lebih lanjut, Ayahwa mengakui bahwa sejumlah fasilitas pendukung di kawasan Sungai Rayap masih perlu ditingkatkan. Kehadiran sarana umum seperti mushala, toilet atau MCK yang representatif, area parkir yang lebih tertata, tempat istirahat yang memadai, serta fasilitas keselamatan bagi pengunjung dinilai menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi secara bertahap.

Menurutnya, peningkatan fasilitas tersebut penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan tanpa menghilangkan karakter alami yang menjadi ciri khas Sungai Rayap. Pemerintah daerah, kata dia, akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi terbaik dalam mendukung pengembangan destinasi wisata tersebut.

“Kita ingin wisatawan yang datang merasa nyaman, aman, dan memiliki pengalaman yang berkesan. Namun pengembangan fasilitas harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Jangan sampai pembangunan yang dilakukan justru mengurangi keindahan alam yang selama ini menjadi daya tarik utama Sungai Rayap,” ujarnya.

Ayahwa juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan kawasan wisata dan tidak melakukan aktivitas yang dapat merusak lingkungan. Ia menekankan bahwa keberhasilan pengembangan wisata alam sangat bergantung pada kesadaran semua pihak dalam menjaga kelestarian sumber daya alam yang ada.

“Kalau alamnya tetap terjaga, maka wisatawan akan terus datang. Ketika wisatawan datang, ekonomi masyarakat juga akan bergerak. Karena itu mari kita rawat bersama aset yang kita miliki ini agar dapat dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” tuturnya.

Ia optimistis, dengan dukungan masyarakat serta perhatian pemerintah yang berkelanjutan, Sungai Rayap dapat tumbuh menjadi salah satu ikon wisata alam Aceh Utara yang mampu bersaing dengan destinasi serupa di berbagai daerah lainnya di Provinsi Aceh.

Kinerja Dinas

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) serta Ekonomi Kreatif, Zulkifli melalui Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Aceh Utara, Umar Ali, mengatakan bahwa Sungai Rayap menjadi salah satu destinasi yang terus dipromosikan sebagai bagian dari wisata alam Aceh Utara.

Menurutnya, daya tarik utama kawasan tersebut adalah kondisi alam yang masih terjaga dan pengalaman wisata yang dekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan.

“Kami melihat minat masyarakat terhadap wisata alam terus meningkat. Sungai Rayap memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi unggulan karena menawarkan keindahan alam yang autentik dan suasana yang masih sangat alami,” kata Umar.

Ia berharap dukungan berbagai pihak dapat mempercepat pembangunan fasilitas umum seperti mushala, toilet, area parkir yang lebih memadai, serta sarana keselamatan bagi pengunjung.

Sore mulai merambat ketika satu per satu pengunjung berkemas meninggalkan lokasi. Tawa anak-anak yang sejak siang bermain di air perlahan menghilang, berganti suara aliran sungai yang kembali tenang.

Sungai Rayap mungkin belum memiliki fasilitas lengkap seperti destinasi wisata modern lainnya. Namun justru kesederhanaan, kesejukan air, dan keasrian alamnya menjadi daya tarik yang membuat banyak orang ingin kembali.

Bagi siapa saja yang melintasi Aceh Utara, Sungai Rayap menawarkan pengalaman sederhana namun berkesan: menikmati kesegaran alam, berkumpul bersama keluarga, dan sejenak melupakan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

|ADVERTORIAL

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

Viral, Penyintas Banjir Bertahan dalam Hujan di Aceh Utara

LHOKSUKON – Video seorang ibu dengan lima anaknya di...

Satu Hari di Com Fes dengan Sejuta Kebahagiaan…

Puluhan mahasiswa meriung di halaman DPR (Di Bawah Pohon...

6 Dapur MBG Lhokseumawe Stop Operasi Buntut Dana Operasional Belum Cair

LHOKSEUMAWE- Sebanyak enam dari 26 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi...

Bupati Al-Farlaky Pantau Operasi Bibir Sumbing, 36 Anak Aceh Timur Kembali Tersenyum

Aceh Timur – Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky,...

Promo JUJUR, Residence Hotel Syariah by Calandra Berikan Diskon Hingga 25 Persen Sambut Liburan Sekolah

Medan, – Menyambut momen liburan sekolah akhir semester, Residence...