PONDOK-pondok kecil berdiri di sepanjang jalan yang menghubungkan Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.
Pondok itu sebagian berada di depan rumah warga. Mereka petani kebun penghasil aneka buah segar di dataran tinggi gayo itu.
Itulah Desa Buntul Kepies, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, Sabtu (31/10/2020). Saat orang tua bertani, dagangan buah tetap dilakukan. Anak-anak menjaganya. Menunggu pembeli atau wisatawan singgah.
Mulai dari jeruk, strawberry, pokat, hingga aneka buah lainnya. Semua dijajakan di pinggir jalan. Ini pula menjadi oleh-oleh khas mereka.
“Murah-murah, singgah-singgah. Silakan beli-beli,” sebut Nurti Sakdiah, seorang pedagang remaja di desa itu.
Dia bersama adiknya menunggu pembeli. Sedangkan orangtuanya bertani di kebun. Jika sore hari, orang tuanya yang berjualan.
Di kebun masyarakat desa ini, Anda bisa juga membeli langsung dari pohonnya. Namun, harus bersiap menuju kebun nun jauh di pebukitan. Nah, jika membawa anak-anak, rasanya tak mungkin mencoba sensasi panen di kebun dan membeli aneka buah itu.
“Kalau harga strabery per bungkus Rp 10.000. Kalau markisa Rp 20.000 per kilogram,” kata Nurti.
Di sinilah sentra oleh-oleh jika ingin buah segar. Mayoritas pelancong singgah di daerah ini untuk membawa pulang oleh-oleh setelah berwisata ke daratan tinggi itu.
Salah satu diantaranya, Afkar, wisatawan dari Lhokseumawe, Aceh. Dia memborong satu kilogram markisa dan lima bungkus strawberry.
“Harganya lumayan lah. Tidak terlalu mahal. Terpenting segarnya itu. Karena di sini, sore dibawa petani dari kebun langsung dijual,” katanya.
Bagi Anda yang melintas ke kawasan ini silakan singgah, belilah aneka buah untuk oleh-oleh atau sekadar penganan sepanjang perjalanan. Selamat mencoba.
|KCM

Subscribe to my channel

