NewsMengintip Peran Strategis Rekind dalam Pembangunan Pabrik Soda Ash Pertama di Indonesia

Mengintip Peran Strategis Rekind dalam Pembangunan Pabrik Soda Ash Pertama di Indonesia

Di balik pembangunan Pabrik Soda Ash pertama di Indonesia terselip peran strategis PT Rekayasa Industri (Rekind). Peran aktifnya sangat terasa dalam mewujudkan lahirnya kemandirian industri di tanah air.

Sebagai perusahaan EPC (Engineering, Procurement, and Construction) milik negara, Rekind kembali mendapat kepercayaan untuk membangun fasilitas baru yang mencakup sistem kelistrikan, offsites, serta tie-in dengan fasilitas operasi eksisting. Proyek ini menjadi bagian penting dalam mendukung operasional Pabrik Soda Ash dan Pabrik Ammonium Chloride yang ditargetkan mampu mengurangi ketergantungan impor nasional, dengan kapasitas produksi mencapai 300 ribu ton per tahun. Proyek berlokasi di kawasan PT Pupuk Kaltim dan Kawasan Industri Kaltim (Kaltim Industrial Estate/KIE), Bontang, Kalimantan Timur.

Jika diibaratkan tubuh manusia, peran Rekind seperti urat nadi. Proses aktivitasnya juga menunjang pergerakan tahapan penting proyek lainnya, sekaligus memegang peran strategis dalam menjaga agar irama pembangunan proyek tetap berjalan sesuai rencana.

Secara lebih rinci, pekerjaan interkoneksi yang dilaksanakan Rekind mencakup pembangunan jaringan perpipaan utilitas seperti steam, raw condensate, CO2, dan lainnya, sebagai penghubung dari fasilitas eksisting menuju Pabrik Soda Ash dan Pabrik Ammonium Chloride yang baru dengan jarak bentangan sekitar 1,3 kilometer.

Pada aspek kelistrikan, Rekind bertanggung jawab membangun substation (gardu induk) baru sekaligus mengintegrasikannya dengan substation eksisting, sebagai titik distribusi listrik bagi Pabrik Soda Ash dan Pabrik Ammonium Chloride.

Selain dua pekerjaan utama tersebut, lingkup Rekind turut mencakup pembangunan infrastruktur pendukung berupa warehouse dan workshop, guna menunjang kelancaran operasional pabrik secara keseluruhan.

“Proyek Soda Ash sangat besar, dipastikan setiap paket pekerjaan memiliki peran dan kontribusi yang saling terhubung. Bagi Rekind, keberhasilan bukan hanya diukur dari selesainya lingkup pekerjaan, tetapi dari seberapa jauh pekerjaan tersebut mampu mendukung keseluruhan proyek mencapai targetnya,” tegas Direktur Utama Rekind Triyani Utaminingsih.

Ditambahkan wanita yang akrab disapa Yani itu, saat ini progres keseluruhan paket pekerjaan yang dikerjakan Rekind menunjukkan perkembangan signifikan, mencapai sekitar 59,10%. Sementara target yang ditentukan dalam perencanaan berada di kisaran 34,3%.

“Kami berupaya mempercepat pekerjaan dari target kontrak yang disepakati, agar keseluruhan proyek dapat berjalan lebih efisien dan mendukung tahapan berikutnya. Rekind memastikan seluruh utilitas dan infrastruktur pendukung siap lebih awal, sehingga tahapan berikutnya dapat berjalan tepat waktu dan aman,” tambah Yani meyakinkan.

Percepatan kerja yang ditunjukkan Rekind selaras dengan harapan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, saat groundbreaking Pabrik Soda Ash pada 31 Oktober 2025. Saat itu, Rahmad menegaskan pentingnya proyek berjalan tepat waktu (on schedule) mengingat pembangunan Pabrik Soda Ash ini menjadi tonggak bersejarah bagi sektor kimia dalam negeri. Ia menambahkan, selama lebih dari tiga dekade, Indonesia sepenuhnya bergantung pada impor soda ash untuk memenuhi kebutuhan industri, mulai dari kaca, tekstil, hingga deterjen.

Menurut Project Manager Soda Ash PKT Rekind Ari Soesilo, pencapaian progres yang relatif lebih cepat ini tidak terlepas dari karakteristik pekerjaan Rekind yang berfokus pada penyediaan utilitas pendukung. “Rekind memastikan seluruh kebutuhan utilitas seperti listrik, steam, raw condensate, CO₂, dan lainya yang bersumber dari existing facility dapat tersedia tepat waktu. Kesiapan utilitas ini menjadi faktor krusial dalam keberhasilan proyek secara keseluruhan, terutama menjelang tahapan commissioning,” tandas Ari.

Dalam konteks ini, milestone power energize menjadi titik kritis yang harus dicapai sesuai target. “Tanpa kesiapan utilitas yang memadai, kegiatan commissioning di area proses tidak dapat dilanjutkan. Oleh karena itu, Rekind menempatkan aspek integrasi dan kesiapan utilitas sebagai prioritas utama, guna memastikan seluruh rangkaian proyek berjalan selaras dan tepat waktu sesuai harapan,” tambahnya meyakinkan. |DIMAS

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

Yuk Ngopi Cantik di ACE INN Hotel Banda Aceh

BANDA ACEH — Menikmati kopi dan hidangan sambil bersantai...

Berbulan-bulan Bertahan di Tenda, Enam KK Korban Banjir Blang Peuria Menanti Kepastian Hunian

ACEH UTARA — Banjir yang melanda Desa Blang Peuria, Kecamatan...

14 Rumah Penyintas Banjir Aceh Utara Terbelangkalai, BNPB Angkat Bicara

LHOKSUKON- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI berjanji menyelesaikan...

Ketua TP-PKK Kabupaten Aceh Timur Borong Tiga Penghargaan Di Banda Aceh

Banda Aceh – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Aceh...

Enam Nama, Enam Gagasan di Bursa Rektor Unimal 2027–2030

LHOKSEUMAWE — Bursa pemilihan Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) periode 2027–2030...