BUDAYA Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) mempunyai tantangan yang cukup besar di Aceh, terutama tantangan terkait vaccine hesitancy (keengganan imunisasi). Banyak misinformasi dan hoaks yang beredar yang menyebabkan orang tua tidak mengimunisasi anak, sehingga berisiko terinfeksi penyakit menular.
Dalam konteks inilah, bertepatan dengan momentum Pekan Imunisasi Dunia (PID) tahun 2025, IDAI Cabang Aceh, Dinas Kesehatan Aceh, dan UNICEF berkolaborasi menyelenggarakan rangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian publik terhadap imunisasi.
Rangkaian kegiatan ini mencakup talkshow radio, Instagram live, webinar untuk tenaga kesehatan, dan pada puncak perayaan pada 30 April 2025, dilakukan edukasi serentak oleh IDAI Cabang Aceh di 23 kabupaten/kota.

Ketua IDAI Cabang Aceh, Dr dr Raihan SpA, Subsp.IPT (K) juga mengingatkan bahwa saat ini banyak sekali anak yang diopname di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) karena campak, difteri, dan pertusis akibat tidak diimunisasi lengkap. Sehingga, sangat penting untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat, dan IDAI Cabang Aceh siap mendukung kegiatan edukasi di seluruh kabupaten/kota.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr Munawar SpOG, memastikan dan menjamin semua posyandu di Aceh menyediakan layanan imunisasi berkualitas dengan tenaga kesehatan terlatih, dan mengajak masyarakat untuk tidak ragu memberikan imunisasi.
Cakupan imunisasi yang rendah di Aceh menyebabkan telah banyak terjadi kejadian luar biasa (KLB) atau wabah penyakit sepanjang tahun, termasuk KLB Polio tahun 2022.
Di akhir acara, Kepala UNICEF Perwakilan Aceh, Andi Yoga Tama, berharap semoga momentum PID ini dapat menjadi pengingat kepada semua pihak bahwa imunisasi di Aceh harus kembali meningkat seperti pernah dicapai di sekitar tahun 2010, agar setiap anak di Aceh mendapatkan haknya untuk terlindungi dari PD3I.
Mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah lama terkait gaya hidup tidak sehat membutuhkan waktu dan upaya yang berkelanjutan.
Anggaran terbatas dan kurangnya sumber daya manusia seringkali menjadi hambatan dalam melaksanakan program GERMAS secara menyeluruh.
GERMAS harus bersaing dengan promosi gaya hidup tidak sehat dari berbagai sumber, termasuk iklan dan budaya populer.
Memastikan koordinasi yang efektif antar kementerian dan lembaga terkait serta melibatkan pihak swasta dan organisasi masyarakat menjadi tantangan tersendiri.
|ADVERTORIAL

Subscribe to my channel

