Terhubung dengan kami

Meraup Cuan Saat Pandemi…

News

Meraup Cuan Saat Pandemi…

Khaidir MG, sibuk dengan baskon di depannya. Dalam baskom itu penuh ikan lele sangkuriang. Ini lakon bisnis yang ditekuni sejak awal pandemi, Maret tahun lalu.

Di depannya, tiga lajur kolam penuh ikan. Kolam terpal itu beragam ukuran, disesuaikan dengan ukuran tanah. Ada yang 2 x 7 meter dan ukuran lainnya.

“Ini bisnis paling cocok buat era pandemi. Ngurusnya mudah. Pembelinya tinggi, kita bahkan belum mampu menyuplai kebutuhan rumah makan di Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe,” kata Khaidir.

Kolam terpal itu tak jauh dari rumahnya di Desa Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Bibit dibeli dari pedagang lokal seharga Rp 300 per ekor. Selama dua setengah atau tiga bulan, lele itu sudah bisa dipanen. Tujuh ekor lele setara satu kilogram dengan harga jual Rp 18.000 per kilogram.

Dia pun sempat tiga kali bangkrut. Lele itu terkena penyakit jamur kulit. Saat itu, Khaidir belum paham benar cara merawat lele. “Saat musim hujan, itu pasti kena jamur lele. Maka, harus diobati. Kalau tidak, mati dia,” kata Khaidiri.

Belakangan, dia menemukan obat tradisional buat menyembuhkan penyakit jamur kulit pada lele itu. “Obatnya kunyit yang digiling dan ditabur ke kolam,” katanya.

Untuk pakan pun terbilang mudah, cukup dengan perut ikan atau perut ayam yang dibeli dengan harga murah di pasar tradisional. Bisa juga memberi dengan pakan pabrikan. “Kalau selalu dengan pakan pabrikan (pelet) itu laba kita jadi kecil hehehe. Maka kita siasati dengan pakan yang murah,” katanya.

Dalam tiga bulan, dengan modal Rp 13 juta, Khaidir bisa menghasilkan Rp 18 juta. “Itu kalau jual pada agen pengumpul. Harga agen pengumpul itu Rp 18.000 per kilogram. Kalau langsung jual ke rumah makan, itu jauh lebih mahal bisa Rp 23.000 per kilogram,” sebutnya.

Namun, kata Khaidir, modal Rp 13 juta itu merupakan modal tahap awal. Termasuk untuk membangun kolam terpal. Sedangkan pada panen berikutnya untuknya bisa mencapai 80 persen dari modal awal.

Dia mengilustrasikan, untuk modal pertama kali memulai bisnis, dengan hitungan 10.000 bibit lele sangkuriang. Maka, selama perawatan diasumsikan mati 3.000 lele. “Lele hidup jadi 7.000 lalu dibagi 7 ekor itu sama dengan 1000 kilogram. Maka, 1.000 kilogram ini dikalikan harga jual 18.000 per kilogram ditingkat agen pengumpul. Hasilnya itu Rp 18 juta. Itu sudah untung. Total modal awal itu 13 juta rupiah dengan asumsi 10.000 bibit tadi,” terangnya.

“Panen berikutnya kan kita hanya biaya pakan dan biaya benih saja. Tidak lagi biaya pembuatan kolam,” terangnya.

Bisnis ini menjanjikan, maka ramai-ramailah anak muda kota itu mendirikan Komunitas Ikan Air Tawar Kota Lhokseumawe. Tercatat 25 pemuda beternak lele sangkuriang dan ikan air tawar lainnya tergabung dalam komunitas ini.

Salah satunya, Syamsul Bahri. Menurutnya, ide bisnis lele sangkruiang ini menjanjikan sekali. “Dalam tiga bulan kita bisa dapat 10 – 15 juta. Tergantung kita jual kemana, baiknya jual langsung ke restoran atau warung makan,” katanya.

Merawat lele butuh pengetahuan mengatasi penyakit jamur. Itu kendala terberat dan debit air. Maka komunitas ini menjadi tempat berbagi pengetahuan. “Kita bagi pengalaman, sampai berhasil kolam kawan-kawan itu,” sebut Syamsul.

Kini, mereka menjadi generasi milineal penggemar lele, sekaligus berbisnis. Hasilnya lumayan. Bahkan protokol kesehatan pun diterapkan saat bisnis era pandemi.

“Kita bisa sendiri merawat kolam ini. Dengan begitu, jarang bersentuhan dengan orang lain ditengah pandemi. Maka, ini protokol kesehatan alami, tercipta dengan sendirinya,” pungaks Syamsul.

Kini, mereka terus berbisnis. Komunitas itu telah punya 700 kolam terpal berbagai ukuran. Mereka ingin menunjukan pandemi tak merusak kreatifitas untuk terus meraup cuan.

|MAS

Baca selengkapnya
Rekomendasi...

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Ke Atas