SALAHUDDIN AB, berpikir keras menyiasati pengangguran yang terus meningkat di kampungnya Desa Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara. Ditengah pandemi virus Covid-19, Salahuddin yang menjabat kepala desa tak ingin kampungnya menjadi sarang pengangguran. Berakhir pada sarang narkoba.
Kampung yang beratus tahun silam dikenal sebagai pengrajin tas Aceh itu mulai susah payah sejak enam bulan terakhir. Pandemi virus asal Wuhan, China itu membuat produksi kerajinan lumpuh.
Seluruh pengrajin merumahkan pekerja. Pesanan untuk tas Aceh anjlok nyaris ke titik nadir.
Lalu Salahuddin terpikir buah kelapa. Dalam adat Aceh, buah bibit kelapa kerap digunakan sebagai hantaran pengantin baru.
Dari sanalah ide itu muncul. Maka, lahirlah bonsai kelapa. Hobi membonsai kelapa itu dimulai sebulan terakhir.
Tak tanggung-tanggung, ilmunya disalurkan dengan mendirikan Komunitas Meuroe Bonsai (KMB).
“Selain keindahan yang bisa didapat, hobi ini juga bisa bernilai ekonomis jika diseriusi. Hanya memang, proses pembuatan dan perawatannya membutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra,”kata Ketua KMB, Tgk Salahuddin AB kepada Kompas.com, Minggu (6/9/2020).
Ilmu membonsai tanaman pernah diperolehnya saat belajar di Lembang, Jawa Barat. Saat itu, sejumlah kepala desa ikut bimbingan teknis pengembangan desa ke Jawa Barat.
Teknik dasar membonsai tanaman itulah yang membuatnya percaya diri. Membonsai kelapa bukan tanaman hias biasa.
Langka di tanah air bonsai kelapa. Keunikan bonsai kelapa dilihat dari bentuk daun sampai akar. Makin unik, makin tua usia kelapa, maka makin mahal harga jual.
“Kisaran harga sekarang itu mulai mahal, dari Rp 150.000 hingga Rp 3 juta per bonsai kelapa. Tergantung keindahannya,” kata Salahuddin tersenyum.
Semua jenis kelapa bisa dibonsai. Ini pula yang membuat masyarakat mudah mencari bahan baku.
“Paling bagus kelapa gading yang buahnya agak kuning itu,” katanya.
Cara membonsai kelapa kering ini dibersihkan sampai ke bagian batoknya, hanya menyisakan serabut di ujung saja, sebagai tempat tumbuhnya tunas, dengan memanfaatkan media tanam pot kecil dan batu karang.
Dia bahkan memberi nama bonsai itu semisal dengan nama semut nungging, lepas angin dan sebagainya.
“Ini udah ada 16 orang warga yang bergerak di bonsai. Semoga ini bisa membantu selama pandemi,” pungkasnya.
|KCM

Subscribe to my channel

