EntertainmentRESENSI FILM | Only : Pandemi Virus HNV-21, 10 Juta Penduduk Bumi...

RESENSI FILM | Only : Pandemi Virus HNV-21, 10 Juta Penduduk Bumi Meninggal Dunia

“Apakah kau mengerti sekarang? Apakah kau memaafkan aku?” ucap Eva (Freida Pinto) kepada pasangannya, Will Freeman (Leslie Odom Jr.). Dua pertanyaan ini membuka adegan film Only, yang naskahnya ditulis dan disutradarai Takaschi Doscher.

Freida Pinto yang menjadi pemeran utama Only, sebelumnya kita kenal lewat film peraih delapan Piala Oscar, Slumdog Millionaire (2008). Only mengisahkan wabah yang mendera dunia.

Kali pertama menyaksikan Only, kami teringat kondisi Bumi yang tengah berjuang melawan pandemi Covid-19. Terasa relevan, aktual, menyentuh, meski disertai sejumlah catatan. Only dimulai dari hari ke-400 sejak wabah kali pertama terdeteksi.

Eva dan Will tinggal bersama temannya, Carolyn (Tia Hendricks). Suatu pagi, Carolyn pamit berolahraga ke luar rumah. Langit kala itu mendung, lalu hujan abu bertekstur lembut turun. Usai berolahraga, Carolyn pulang. Kepalanya berdarah lalu tak sadarkan diri. Will dan Eva melarikannya ke rumah sakit.

Saat itulah Will sadar, mayoritas pasien perempuan mengalami gejala serupa. Mencium ketidakberesan, Will mengajak Eva meninggalkan rumah sakit. Mereka mengisolasi diri di rumah dengan memanfaatkan cairan disinfektan untuk mengelap seluruh perkakas lalu melapisinya dengan plastik bening, dan menyalakan lampu ultraviolet guna mematikan patogen. Belakangan diketahui, abu yang turun dari langit mengandung virus HNV-21.

Ia hanya menginfeksi perempuan. Gejalanya, hari pertama perdarahan. Hari kedua, pusing lalu kehilangan kendali motorik. Hari keempat, kejang-kejang. Nahas, Eva terpapar. Will mati-matian menyemangati lantaran vaksin belum ditemukan. Kondisi diperburuk oleh dua hal.

Pertama, Pemerintah dan oknum pemburu kini mengincar perempuan yang tersisa untuk “diamankan.” Kedua, saat Eva dan Will kabur, ada dua laki-laki menguntit. Mereka yakni Casey (Chandler Riggs) dan ayahnya.

Only kali pertama diperkenalkan kepada publik di Festival Film Tribeca, pada 27 April 2019. Film ini baru dirilis untuk umum, Maret tahun ini. Di Indonesia, Only tayang lewat aplikasi KlikFilm yang bisa diunduh lewat Google Play dan IOS atau mengunjungi situs resminya. Film ini direspons beragam.

Kala menonton, kami teringat film Contagion (2011) yang disebut “meramal” wabah Covid-19. Perkembangan infeksi disajikan per hari namun tidak urut. Takaschi menangkap fenomena secara acak berdasarkan ada tidaknya perkembangan penting seputar wabah atau pertumbuhan karakter dua tokoh utama.

Bisa jadi, pada hari tertentu, pergerakan wabah tampak biasa saja tapi dua tokoh berkonflik. Misalnya, Eva mulai bosan lantaran diam di ruang berlapis plastik. “Aku ingin melihat matahari,” ujarnya histeris.

Bisa dimaklumi. Saat orang diisolasi di sebuah ruangan dalam waktu lama, jenuh akan datang dan itu berdampak pada kejiwaanya. Sayang, yang disajikan Takaschi berat sebelah. Ia fokus pada perkembangan tokoh dan cinta yang diuji wabah. Perkembangan wabahnya sendiri hanya dijadikan latar.

Kita tak melihat bagaimana negara lain heboh menyikapi susutnya populasi perempuan. Sebuah adegan bahkan mengabarkan, 10 juta wanita meninggal akibat infeksi ini. Pemerintah lantas menerapkan kebijakan merekrut dan mengamankan perempuan di sebuah lokasi.

Ada pula kebijakan mengembangkan teknologi rahim buatan agar generasi tidak terhenti. Semuanya dipaparkan secara lisan dan sekilas. Asal wabah dikuak di awal sehingga yang tersisa dari film ini perjalanan berbasis cinta yang diwarnai kejar-kejaran dengan dua pria tak dikenal.

Agak sulit menerima kisah yang tidak utuh ini karena alur kurang fokus dan tidak ada titik terang padahal, masalah yang disajikan meriah. Dibandingkan dengan Contagion, sineas Steven Soderbergh memulai dengan tuturan soal wabah, melukis dampak global tapi akar keluarga (tokoh utama) tak tercerabut.

Pada fase klimaks, kita menemukan titik cerah dari mana wabah ini sebenarnya berasal dan bagimana mulanya virus ini menginfeksi. Setidaknya kita mendapat seberkas harapan dengan memahami muasal. Ya, dari pasar hewan di salah satu provinsi di Tiongkok.

Dalam Only, wabah konon turun dari langit. Sudah begitu saja. Akhir film ini, bergeser menjadi impian yang ingin dicapai orang yang terinfeksi. Untungnya, Only dibekali pertautan emosi Freida dan Leslie yang intens sekaligus menyentuh. Sejumlah momen emosional dieksekusi keduanya dengan meyakinkan.

Mata pun basah. Adegan Eva berkomunikasi via video call dengan ayahnya, momen yang sulit dilupakan penonton. Di sisi lain keputusan Takaschi untuk membelah cerita menjadi dua alur sangat tepat. Selain tampak lebih bergaya, Only jadi tidak membosankan.

Penampakan baju APD (alat pelindung diri), masker, penyemprotan cairan disinfektan, berikut perubahan emosi mereka yang terinfeksi mendatangkan sensasi deg-degan tersendiri mengingat negeri ini sedang dilanda pandemi. Selamat menonton.

 

 

Pemain: Freida Pinto, Leslie Odom Jr., Chandler Riggs, Jayson Warner Smith, Tia Hendricks

Produser: Eyal Rimmon, Gabrielle Pickle

Sutradara: Takaschi Doscher

Penulis: Takaschi Doscher

Produksi: Tadmor, Vertical Entertainment

Durasi: 1 jam, 38 menit

|LIP6

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

Para Kepala Desa Desak Pembangunan Huntap di Aceh Utara

Keuchik (Kepala Desa) Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh...

PNL Perluas Kemitraan Internasional melalui Kolaborasi Strategis dengan Industri dan Institusi Pendidikan di Malaysia

MALAYSIA - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) terus memperkuat peran...

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Hadirkan Pasar Murah untuk 1.000 Warga di Padang

Padang– Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut)...

Bupati Aceh Utara ; Tunda Aturan Desil Hingga Juli demi Akses Berobat Warga

ACEH UTARA — Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil,...

Pertamina Patra Niaga Sumbagut Perkuat Sinergi dengan Polda Riau dalam Menjaga Ketahanan Energi

Pekanbaru – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara...