Kapal Republik Indonesia (KRI) Siwar 646 menepi di Pelabuhan Pabrik Asean Aceh Fertilizer (AAF), Jumat (21/6/2019). Kapal cepat rudal keluaran 27 September 2014 itu singgah untuk mengisi air bersih dan bahan bakar. Seorang personel TNI AL, Hasan, bersiaga di bagian belakang kapal. Lengkap dengan pakaian dinas loreng.
Dilengkapi dua rudal dan tiga meriam (dua sisi belakang, dan satu sisi depan) kapal ini menjadi salah satu andalan di gugus tempur laut Koarmada Satu TNI AL Indonesia. Di belakang kapal lantai satu terdapat dua rudal siap diluncurkan.
“Baru keliling perairan dari Belawan, Sumatera Utara hingga Aceh Utara ini,” kata Komandan KRI Siwar, Mayor Laut (P), Ricky Ricky Intriadi kepada wartawan di ruang rapat KRI Siwar. Nama Siwar, diambil dari senjata tradisional khas Riau.
Dengan 38 awak, kapal itu membelah Selat Malaka-selat terpadat yang dilalui ribuan kapal dari berbagai negara di dunia. Itu pula menjadi tandatangan Mayor Laut (P) Ricky untuk mengamankannya.
Dalam sekali patroli laut, mereka menghabiskan waktu enam hari membelah samudera. Memasuki hari ketujuh mereka menepi untuk mengisi bahan bakar. “Kapal ini bisa lari dengan 30 knot. Sangat taktis dan cepat. Dia kecil, tapi mematikan,” kata Ricky bangga.
Kapal itu memiliki bobot 250 ton, dengan panjang 44 meter dan lebar 7,40 meter. Buatan anak bangsa di PT Palindo Marine Industries, Batam. Lalu bagaimana Siwar beroperasi mengawasi laut nan luas di Selat Malaka?
“Kami maksimalkan komunikasi dengan nelayan setempat. Nelayan di daerah yang kita lintasi, apa ada informasi dan seterusnya. Penyelundupan sabu-sabu dan kejahatan lainnya semua menjadi monitor kita,” terang Ricky.
Menurutnya, sepanjang dua bulan ini, tak ada kasus menonjol di laut. Terakhir Siwar menangkap kapal MV Vox Maxima berbendera Belanda yang membuang limbah di perairab Pulau Galang, Bintan, Kepualuan Riau, 8 April 2019 lalu.
Selain itu, setiap kali bertemu dengan kapal lainnya, Ricky selalu menanyakan gangguan di laut. Jika ada keluhan dari awak kapal maka segera ditindaklanjuti. Ricky menyebutkan prajurit TNI AL siap mengamankan perairan itu.
“Selat Malaka ini harus aman dan nyaman bagi kapal yang melintas,” terangnya.
Matahari semakin membungkuk, belasan remaja mendekati KRI Siwar. Setiap menepi, KRI bisa dikunjungi untuk masyarakat umum. Mereka bisa berfoto bersama seluruh senjata yang ada. Termasuk personel TNI AL siap menemani dan memberi penjelasan.
Bagi Ricky, menepi di Aceh Utara suatu kebahagiaan. Sebagai putra asli Blang Tuphat, Kota Lhokseumawe dia sempat singgah ke rumah dan bertemu teman-teman lamanya. Untuk masyarakat dipersilakan melihat seluruh peralatan KRI itu. “Bangsa kita pelaut, jiwa bahari harus tumbuh di benak anak muda kita,” pungkasnya. |KCM
LHOKSUKON– Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh memberlakukan kurikulum darurat untuk sekolah…
ACEH TIMUR — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, melantik Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi…
LHOKSUKON – Sejumlah penyintas banjir duduk di dalam hunian sementara (Huntara) di Desa Matang Bayu,…
Keuchik (Kepala Desa) Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Mansur, mendesak pemerintah…
MALAYSIA - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) terus memperkuat peran strategisnya dalam pengembangan pendidikan tinggi vokasi…
Padang– Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melalui Integrated Terminal (IT) Teluk Kabung…
This website uses cookies.