LHOKSUKON – Nafis terpaksa menghabiskan lebaran Idul Adha kali ini di lokasi kebakaran sisa baju banjir Desa Babah Krueng, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, selama empat hari.
Sejak Rabu (27/5/2026) malam, Nafis memimpin timnya berjuang memadamkan api di tumpukan kayu sisa banjir 26 November 2025 lalu. Kayu itu tiba-tiba mengeluarkan api, membesar dan membumbung tinggi. Menimbulkan kepanikan di pedalaman Kabupaten Aceh Utara itu.
Sebagai komandan pos pemadam kebakaran (Damkar) Krueng Mane, Aceh Utara, dia menempuh tujuh kilometer perjalanan menuju lokasi. Dari kejauhan api terlihat jelas.
Setiba dilokasi pukul 18.30 WIB, para petugas langsung berjibaku memadamkan api yang melahap tumpukan kayu sisa banjir. Hingga jarum jam menunjukkan pukul 05.00 WIB, mereka masih berada di lokasi. Mata memerah karena asap, pakaian basah oleh keringat dan air, namun tak seorang pun memilih pulang.
Saat sebagian warga terlelap, mereka tetap berdiri di tengah gelap malam dan terus berjuang untuk memadamkan api. Dia pun meminta bala bantuan, datanglah mobil pemadan kebakaran lainnya dari Pemerintah Kota Lhokseumawe dan Pemerintah Kabupaten Bireuen.
“Prinsip utama damkar, pantang pulang sebelum padam,” tegasnya, Senin (1/6/2026).
Selama lima hari kemudian dia berjuang di lokasi itu siang dan malam. Istirahat hanya saat makan dan shalat. Selebihnya langsung berjuang memadamkan api dibantu warga. Polisi mengerahkan satu water canon membantu tim pemadam.
“Hari pertama itu sempat padam. Tiba-tiba 28 Mei 2026, mereka kembali turun ke lokasi sejak pukul 17.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB. Asap tebal yang menyelimuti kawasan itu menjadi tantangan tersendiri bagi petugas,” ujarnya.
Hal paling sulit, menjangkau titik bara api yang berada di bawah tumpukan kayu. Bagian atas terlihat api sudah padam, tetapi di bagian bawah bara masih hidup dan sewaktu-waktu bisa kembali membesar.
Mereka pun merelakan lebaran kali ini hilang selruuhnya. Belum sempat bercengkerama dengan anak dan membawa buah hati bermain layaknya anak lainnya.
“Bagi kami, tugas ini bukan sekadar memadamkan kebakaran. Tapi tentang menjaga rumah-rumah warga tetap aman, anak-anak bisa tidur tanpa rasa takut, dan tidak ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat amukan api,”ujarnya.
Beruntung, Badan Nasional Pemadam Kebakaran (BNPB) akhirnya menurunkan helikopter water bombing selama dua hari. Sehingga upaya pemadaman lewat jalur darat dihentikan.
“Praktis tujuh hari api baru padam seluruhnya,” terangnya.
Bahkan setelah api padam pun, taka da tepuk tangan gemuruh. Mereka merapikan selang air lalu pulang ke rumah masing-masing. Pemadam bukan sebatas tuntutan pekerjaan, ini panggilan jiwa untuk membantu manusia.
|KCM|MUMUL
Aceh Timur – Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si menghadiri kegiatan Khanduri Laot…
LHOKSUKON- Helikopter water bombing akhirnya berhasil memadamkan api di tumpukan kayu sisa banjir Desa Babah…
LHOKSUKON– Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, mengusulkan sebanyak 200 formasi Calon Pegawai Negeri Sipil…
LHOKSUKON – Kontraktor pembangunan hunian tetap (Huntap) untuk penyintas banjir di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi…
JAKARTA | PT Rekayasa Indsutri (Rekind) memperoleh dua penghargaan di ajang Top CSR Awards 2026.…
LHOKSUKON– Memasuki hari ketiga, kebakaran kayu sisa banjir di Desa Babah Buloh, Kecamatan Sawang, Kabupaten…
This website uses cookies.