UncategorizedKoko Buat Putra, Anak Pemulung Sudut Kota

Koko Buat Putra, Anak Pemulung Sudut Kota

MATA bulatnya berbinar. Tangannya menggenggam erat plastik berhias pita merah. Baju koko berwarna hitam terlihat ada di dalam bungkusan tersebut. “Ini baju oo puta (ini baju koko putra-red)…” ujar bocah lelaki yang belum genap berusia empat tahun itu dengan senyum manis tersungging di bibirnya.

Putra, nama bocah lelaki itu, merupakan salah satu anak di perkampungan pemulung Pondok Labu, Jakarta Selatan, Sabtu (25/05) sore kemarin. Di sudut lain, terlihat seorang nenek tak kuasa menahan air matanya tatkala mendengar, seluruh peserta yang hadir akan memperoleh sembako dan beras gratis.

Entah apa yang ada di benaknya. Namun jelas terlihat ia mengucapkan alhamdulillah berkali-kali. Tangan rentanya bergantian menyeka air mata yang mengalir dan mengusap kepala dua bocah perempuan yang ada di pangkuannya.

Ah, hati siapa tak bergetar melihat pemandangan manis ini. Putra, bersama puluhan anak lainnya serta ratusan warga yang hadir sore itu merupakan warga binaan Penyuluh Agama Jakarta Selatan, yang tergabung dalam Rumah Penyuluhan Kreatif (RPK).

“Ini luar biasa untuk mereka. Saat saya sampaikan tadi, mereka tidak mengira akan memperoleh paket sembako yang tergolong mewah bagi mereka. Ini semua hasil sumbangan dari donatur,termasuk Dharma Wanita Pusat Kemenag,” cerita penyuluh agama Jakarta Selatan Dzurrotun Ghola.

Ghola, yang juga merupakan inisiator Rumah Penyuluhan Kreatif mengaku makin bahagia karena kehadiran Pembina DWP Kemenag Trisna Willy dalam acara Pesona Ramadan 3.0. Ini sebenarnya kali kedua bagi Trisna Willy hadir di tengah warga perkampungan pemulung ini. Sebelumnya, Willy beserta jajaran DWP Kemenag pernah hadir di sana untuk memberikan support bagi penyuluh-penyuluh agama.

“Alhamdulillah ibu-ibu, adek-adek, ini kali kedua saya bisa hadir di sini,” ujar Willy yang disambut tepukan dari semua warga yang hadir.
Willy mengaku terus mengikuti kegiatan yang diinisiasi oleh Penyuluh Agama Jakarta Selatan Dzurrotun Ghola ini. “Saya dengar RPK banyak ya kegiatannya? Bukan cuma pengajian saja ya? Ada pelatihan parenting juga ya ibu-ibu?,” tanya Willy yang disambut anggukan dari para warga.

Jangan bayangkan majelis taklim yang dibentuk oleh para penyuluh agama di perkampungan pemulung ini layaknya majelis taklim pada umumnya ya sahabat. Di sini tak ada ruang pengajian yang nyaman, jajanan yang biasa jadi rebutan ibu-ibu pengajian, apalagi seragam yang dicicil bulanan.

Tempat pengajian perempuan-perempuan di perkampungan pemulung ini seadanya. Rata-rata bilik berdinding triplek bekas, dengan lantai yang dipelur seadanya. Bahkan tempat kami duduk ini hanya puing-puing batu yang ditutup terpal tebal. Tak nyaman untuk duduk berjam-jam sebenarnya, karena kerasnya batu amat terasa menusuk pantat ketika kita duduk. Sengatan matahari sore pun masih terasa menerabas dari langit-langit yang sebenarnya hanya selembar terpal tebal membentang juga.

Kehadiran DWP Kemenag untuk mendukung proses majelis taklim di kampung pemulung ini dirasa amat bermanfaat oleh warga. “Alhamdulillah tuh karpet sama speaker yang dibawain bu menteri waktu itu masih bisa dipake. Jadi gak repot saya manggilin ibu-ibu kalau bu ghola dateng buat ngajar,” tutur Kartini salah satu warga yang bertugas untuk memanggil teman-temannya bila jadwal mengaji tiba. Hal ini pula yang membuat Trisna Willy beserta DWP Kemenag berkomitmen untuk terus mendukung kiprah dari penyuluh agama. “Saya minta anak-anak dan ibu-ibu harus terus rajin ngajinya. Kalau ada yg dibutuhkan, nanti bisa bilang ke DWP Kemenag. InsyaAllah kalau bisa dibantu akan kita bantu ya” ujar Willy yang didampingi oleh Muliati Muhammadiyah Amin,  Ella Abdurahman Mas’ud, serta Anis Imam Syafei.

Dalam acara tersebut, Trisna Willy dan pengurus DWP Kemenag berbaur dengan para warga yg rata-rata berprofesi sebagai pemulung ini. Acara dimulai dengan solat ashar berjemaah, pembacaan sholawat, hingga pembagian bingkisan ramadan. “Untuk anak-anak yang rajin mengaji ada tambahan baju koko, mukena atau sarung yang kita berikan bagi mereka,” kata Ghola.

Menurut Ghola, ini salah satu strategi yang diterapkannya dalam berdakwah. “Ini salah satu cara agar mereka lebih terpanggil untuk ikut belajar agama di sini. Hanya dengan cara ini kita bisa membantu mereka, terutama anak-anak untuk memperbaiki masa depannya,” tutur alumni UIN Syarif Hidayatullah ini.

Harapan Gholla untuk dapat mengubah cara berpikir kaum pemulung ini jelas mulai terasa. Sebut saja Amel, anak pemulung yang dulu tak segan untuk mengemis ini kini mengerti pentingnya belajar. “Sekarang gak mau ngemis lagi kak. Malu. Harus belajar rajin, biar ga ngemis-ngemis. Kan dosa juga menurut agama..” tuturnya.

Selamat berjuang para penyuluh agama. Terus berikan pengabdian terbaik, untuk Indonesia yang lebih baik. |KEM

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

Pertamina Patra Niaga Sumbagut Perkuat Sinergi dengan Polda Riau dalam Menjaga Ketahanan Energi

Pekanbaru – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara...

24.500 UMKM Rusak Karena Banjir Aceh Timur, Berharap Stimulus dari Pemerintah

IDI RAYEUK- Sebanyak 24.500 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)...

Derita Anak Penyintas Banjir Tamiang, Ribuan Belum Miliki Seragam dan Alat sekolah

KUALA SIMPANG - Ribuan pelajar Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi...

Bupati Al-Farlaky Minta Camat dan Geuchik Uji Publik Ulang Data Penerima Bantuan Rumah BNPB

Aceh Timur — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky,...

Kebangkitan Wisata Aceh Tengah Masih Terkendala, Ini Harapan Pelaku Bisnis

Takengon — Kebangkitan sektor pariwisata di Aceh Tengah pasca...