BANDA ACEH | Banda Aceh Membuka tahun 2019, Aceh mengimpor garam hingga tembakau. Total nilai impor selama Januari mencapai 271.183 US$.
Berdasarkan data dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, sepanjang Januari nilai impor komoditi non migas paling besar adalah kelompok komoditi Garam, Belerang dan Kapur dengan jenis barang adalah Gypsum, anhydrite (Gipsum). Angkanya sebesar 220.990 US$ atau sebesar 81,49 persen dari total impor non migas.
“Total nilai impor selama Januari yaitu 271.183 US$. Jika dihitung dari lima kelompok komoditi, angkanya yaitu 269.979 US$,” kata Kepala BPS Aceh Wahyudin, Selasa (6/3/2019).
Nilai impor kelompok komoditi garam, belerang, dan kapur selama Januari mengalami penurunan dibanding Desember 2018. Akhir tahun lalu, nilai impor kelompok komoditas tersebut yaitu 223.685 US$.
Selain garam, sejumlah komoditi lain yang diimpor yaitu tembakau, barang-barang rajutan, mesin atau peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya. Khusus untuk tembakau, baru kali ini Aceh mengimpornya.
“Nilai impor tembakau 46.065 US$,” jelas Wahyuddin.
BACA JUGA : Kisah Gadis Penghapal Quran yang Putus Kuliah karena Biaya
Menurut Wahyuddin, impor non migas terbesar selama Januari berasal dari Thailand sebesar 220.990 US$ dengan komoditi berupa Gypsum, anhydrite (Gipsum). Sementara negara lain yang mengirim barang ke Aceh yaitu Jepang, Tiongkok, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Belanda dan Jerman.
“Jadi nilai Impor Provinsi Aceh pada bulan Januari adalah sebesar 2.438.041 US$. Untuk impor komoditas migas yaitu sebesar 2.166.858 US$ (88,88 persen dari total impor) yang berupa komoditas Petroleum Bitumen (Minyak Aspal). Sisanya impor non migas,” beber Wahyuddin.
Petani garam di Aceh yang memiliki garis pantai sepanjang 2.666,3 km memang tidak banyak lagi. Di Aceh Besar, misalnya, jumlahnya dapat dihitung jari.
|DTC

Subscribe to my channel

