Categories: Wisata

PLTD Apung, Pengingat Tsunami Aceh

Kapal milik perusahaan listrik negara ini berdiri kokoh di kota Banda Aceh. Bukti sejarah dahsyatnya bencana tsunami yang melanda Aceh sekitar 14 tahun yang lalu ini memiliki bobot seberat 2.600 ton. Jika dipikir lagi, kapal yang dibawa gelombang tsunami ke tengah kota Banda Aceh ini memang nyaris tak masuk akal. Saat kejadian tsunami 26 Desember 2004 silam, kapal ini sedang berada di Pantai Ulee Lhee, Banda Aceh.

BACA JUGA : Pantai Banda Aceh, Penuh Sampah hingga Popok Bayi

Akibat diterjang tsunami, kapal terseret dan terdampar 5 km ke perkampungan Gampong Punge, Blangcut, Banda Aceh. Kini duka pun sudah berlalu, masyarakat Aceh perlahan pun  mulai bangkit dan berbenah diri.

Monumen tsunami
Kapal besar ini menjadi saksi sejarah bencana tersebut. Sehingga saat ini, kapal pun di jadikan monumen peringatan tsunami di aceh sekaligus tempat wisata bagi masyarakat Aceh. Sejak April 2012, kapal ini sengaja di kelilingi  pagar besi setinggi 1,5 meter. Beragam fasilitas ditambah, mulai dari jembatan, prasasti hingga ruang dokumentasi.

Di depan pos jaga terdapat prasasti setinggi kurang lebih 2,5 meter. Di bagian paling atas terdapat jam bundar yang merujuk angka 07.55 WIB yang merupakan waktu terjadinya tsunami kala itu. Di bawah prasasti berisi nama-nama desa dan korban jiwa. Di dekat prasasti terdapat relief terbuat dari tembaga yang berkisah terdamparnya PLTD.

Setelah melintasi prasasti, pengunjung langsung dihadapkan pada kapal raksasa yang bagian bawahnya terbenam di tanah. Ada beberapa undakan di kapal ini. Di puncak terdapat beberapa teropong. Jika diarahkan ke utara, maka terpampang Samudera Hindia, ke selatan dan timur ada Kota Banda Aceh, dan ke arah barat ada kota dan perbukitan.

Kondisi kapal pun masih utuh. Sisa-sisa tsunami juga terlihat jelas, seperti rumput yang tersangkut di ban, pasir di dalam ruangan, kabel yang putus, dan lain-lain. Jangkar tergeletak berada di dek paling bawah.

Masyarakat sekitar juga sangat ramah, bahkan tak jarang para pedagang souvenir di tempat ini kerap menceritakan kejadian yang terjadi kala itu. Mereka tak segan menceritakan bekas rumah siapa yang terkena tsunami. Ada juga cerita soal masjid yang tidak hancur terkena tsunami yang semuanya dengan senang hati mereka ceritakan kepada para wisatawan.

Menurut masyarakat setempat PLTD Apung juga sebenarnya bertengger menimpa sebuah rumah. Wisatawan masih bisa melihat sisa tembok, bahkan sofa kusam dari rumah tersebut dibiarkan begitu saja.

|PI

Bagikan Postingan
Redaksi

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Recent Posts

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Hadirkan Pasar Murah untuk 1.000 Warga di Padang

Padang– Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melalui Integrated Terminal (IT) Teluk Kabung…

1 day ago

Bupati Aceh Utara ; Tunda Aturan Desil Hingga Juli demi Akses Berobat Warga

ACEH UTARA — Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, SE., MM., menyampaikan pernyataan tegas dalam…

1 day ago

Pertamina Patra Niaga Sumbagut Perkuat Sinergi dengan Polda Riau dalam Menjaga Ketahanan Energi

Pekanbaru – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) yang dipimpin oleh Executive General…

2 days ago

24.500 UMKM Rusak Karena Banjir Aceh Timur, Berharap Stimulus dari Pemerintah

IDI RAYEUK- Sebanyak 24.500 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh…

4 days ago

Derita Anak Penyintas Banjir Tamiang, Ribuan Belum Miliki Seragam dan Alat sekolah

KUALA SIMPANG - Ribuan pelajar Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, belum memiliki seragam sekolah dan…

4 days ago

Bupati Al-Farlaky Minta Camat dan Geuchik Uji Publik Ulang Data Penerima Bantuan Rumah BNPB

Aceh Timur — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, meminta seluruh camat agar memerintahkan para…

5 days ago

This website uses cookies.