Matahari terasa begitu panas, Minggu (3/5/2026) di Desa Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Hamidah (55) sempoyongan membawa dua jeriken berisi air laut. Menuju gubuk penyimpanan. Disitulah tungku memasak air laut menjadi garam miliknya. Mengolah menjadi garam tradisional.
Enam bulan terakhir, usaha satu-satunya untuk menghidupi keluarga itu hidup segan mati tak mau. Pasalnya, lahan untuk yang dipakai untuk menampung air garam, meratakannya, dan membilasnya kini sudah berubah menjadi muara baru pascabanjir pada 26 November 2025 silam.
Enam bulan berlalu. Hamidah tak mungkin berpangku tangan. Hidup harus terus berjalan. Mulailah dia turun ke lahan. Membersihkan lahan yang masih bisa digunakan dari lumpur sisa banjir. Kembali memproduksi garam tradisional.
Teknik produksi pun berubah. Hamidah mengandalkan bibit garam. “Tak cukup lahan lagi buat produksi. Dengan bibit 10 kilogram, bisa menghasilkan garam 10 bambu. Sebelum banjir tahun lalu, bibit hanya kami gunakan saat musim hujan saja, karena tak bisa mengendapkan air laut,” katanya.
Bibit garam dibeli Rp 55.000 per sepuluh kilogram. Ditambah beli kayu bakar untuk memasak air garam Rp 100.000 per becak.
Hamidah pun mengeluhkan margin laba sangat tipis. Saat ini, agen pengepul membeli Rp9.000 per bambu. Sedangkan di pasaran dijual Rp 12.000-14.000 per bambu. Ditambah tenaga dan kesabaran yang dikeluarkan memproduksi garam, sungguh pendapatan minimalis.
“Daripada tidak punya penghasilan sedikitpun. Kami tetap bertahan,” katanya.
Dalam sehari, mereka hanya bisa memproduksi 14 bambu garam. Jauh lebih sedikit dibanding sebelum bencana 40 bambu garam per hari.
Belum Ada Bantuan
Pemerintah kata Hamidah sudah melakukan pendataan kerusakan pascabanjir. Namun, sektor petani garam hingga kini belum mendapatkan perhatian. “Kalau bisa kami dibantu bibit garam dan dapur garam,” harapnya.
Dengan bantuan itu, dia yakin bisa kembali aktif memproduksi garam secara maksimal. Sehingga dapur keluarga tetap mengepul.
Saat ini, tercatat 42 dapur petani garam tidak lagi beroperasi pascabanjir di daerah itu. Hanya sepuluh dapur yang aktif memproduksi garam.
Petani garam lainnya Suwarni (42) berharap agar pemerintah segera membantu pemulihan ekonomi petani garam di kawasan itu. “Kalau bisa dibantu panel penjemur garam juga, agar lebih modern sedikit,” pungkasnya.
Bencana banjir di Aceh sudah enam bulan berlalu. Masih banyak sektor yang belum tersentuh dan dipulihkan. Negara terus bekerja, entah sampai kapan pulih layaknya sebelum bencana.|KCM|MUMUL

Subscribe to my channel

