ACEH TAMIANG – Sekitar 1.200 jiwa atau 260 kepala keluarga menghabiskan hari pertama ramadhan di tenda pengungsian di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kamis (19/2/2026).Mereka mendirikan tenda diatas lahan rumah masing-masing. Sebagian sudah membuat rumah papan dari kayu sisa banjir yang dimanfaatkan.
“Sampai detik ini pun kami tidak tahu dimana bentuk Huntara (Hunian Sementara) untuk Desa Sekumur ini. Belum ada pembangunan sama sekali, padahal ini desa hancur seluruhnya,” terang seorang penyintas banjir Wahyu Rahmah per telepon.
Hanya tersisa masjid di desa itu dan dua bangunan rumah warga. Selebihnya rata dengan tanah.
“Shalat tarawih masjid kami bisa digunakan. Hanya masjid satu-satunya yang utuh didesa kami saat banjir 26 November 2025 lalu. Selebihnya rata dengan tanah seluruhnya,” terang gadis yang disapa Wara ini. Dia berharap, pemerintah segera membangun Huntara untuk desa itu.
Dia pun menyebutkan pemerintah tidak lagi memberi bantuan bahan pangan. Hanya relawan yang datang memberi bantuan bahan pangan untuk penyintas banjir di pedalaman Aceh Tamiang itu.
Sekretaris Desa Sekumur M Saiful Juari, menyebutkan 1.200 jiwa pengungsi masih bertaha di tenda dan rumah papan seadanya. Desa itu, salah satu desa terparah rusak karena banjir di Aceh Tamiang.
“Semoga pemerintah segera membangun hunian sementara, termasuk memenuhi seluruh kebutuhan bahan pangan selama ramadhan ini untuk pengungsi,” pungkasnya.
Sementara itu, Jurubicara Pemeirntah Aceh Tamiang, Muhammad Fajri, menyatakan tidak mengetahui detail jumlah hunian sementara yang sudah rampung di kabupaten itu.
“Saya cek dulu datanya,” pungkasnya ringkas.
Sekadar diketahui, Sekumur, merupakan desa yang viral saat awal banjir pada November 2026 lalu. Kampung itu berada dipedalaman dan terisolasi. Hingga hari ini, ribuan Huntara belum rampung dikerjakan di sejumlah desa di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
|KOMPAS

Subscribe to my channel

