ACEH UTARA – Penyintas banjir di Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, sepekan terakhir menemukan hamparan kayu gelondongan yang terbawa banjir di sepanjang daerah aliran sungai desa itu.
Luasnya diperkirakan 30 hekatre. Tersebar di Dusun Pateng, Kareung dan Dusun Tengoh, Desa Buket Linteung, Kabupaten Aceh Utara. Namun, sekitar 20 hekatre diantaranya berada di Dusun Tengoh. Seluruhnya berada di area perkebunan warga.
Muhammad Umar, salah seorang warga menyebutkan tumpukan kayu itu awalnya tidak diketahui warga karena seluruh jalan tertimbun lumpur.
“Akses jalan tertimbun lumpur, jadi tidak ada juga warga yang pergi ke kebun. Seluruhnya itu berada di kawasan perkebunan pinang dan sawit milik warga,” kata Umar per telepon, Selasa (17/2/2026).
Belakangan, seiring akses jalan dibuka oleh tim gabungan, barulah tumpukan kayu itu diketahui warga.
Keuchik (Kepala Desa) Buket Linteung, Mansur dihubungi terpisah memebenarkan tumpukan kayu gelondongan itu. menurutnya, sekitar 30 persen kayu itu bisa dijadikan papan dan tiang. Selebihnya kayu berukuran kecil hanya bisa digunakan untuk kayu bakar.
“Letaknya persis daerah pinggiran sungai. Jaraknya dengan jalan utama sekitar satu kilometer. Dua bulan lalu tidak ada warga ke sana, karena jalan masih belum terbuka, penuh lumpur,” terang Mansur.
Temuan kayu itu pun sudah dilaporkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sedang bekerja di kawasan itu.
“Dugaan saya, kayu itu datangnya dari hutan Kabupaten Bener Meriah. Karena ujung sungai ini berada di Samarkilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah.
“Dulu fokus kita buka jalan dulu, bersihkan rumah, masjid dan fasilitas umum. Setelah akses jalan terbuka, barulah warga memperhatikan kebunnya, dan ketemulah tumpukan kayu itu,” terangnya.
Saat ini, sambung Mansur, sudah ada exsavator dan bulldozer mulai membersihkan tumpukan kayu itu. Jika tidak dibersihkan, dipastikan petani tidak akan pernah bisa menggunakan lahan itu.
“Seluruhnya lahan pinang dan sawit milik petani. Dugaan saya, kalau bekerja setiap hari, mungkin satu tahun baru bersih semua kayu itu. Setelah itu baru bisa ditanami, empat tahun kemudian baru bisa panen sawit lagi,” terangnya.
Lapor Kemenhut
Sementara itu, Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil akrab disapa Ayahwa telah melaporkan temuan kayu gelondongan terbawa banjir itu ke Kementerian Kehutanan RI.
“Saya sudah lapor Menhut Raja Juli Antoni. Sebagian alat berat yang kini mebersihkan kayu di Desa Geudumbak, akan digeser ke Desa Buket Linteung. Semuanya akan ditangani oleh kementerian dan lembaga lainnya. Saya terima kasih dukungan Presiden RI Prabowo Subianto untuk pemulihan Aceh Utara,” pungkasnya.
|KOMPAS

Subscribe to my channel

