DINAS Kesehatan (Dinkes) Aceh Utara, memantau kesehatan pekerja di sejumlah perusahaan dalam wilayah itu.
Selain itu, dinas juga memetakan potensi penyakit yang kerap dialami pekerja.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara Amir Syarifuddin diwakili oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Samsul Bahri, Selasa (6/6/2023), menyebutkan perlu memberikan pemahaman kesehatan kepada petugas di seluruh Puskesmas.
Bahkan, sambung Samsul, mereka pernah menggelar pemetaan tentang potensi penyakit yang kerap dihadapi pekerja. Seluruh petugas Puskesmas diminta membawa satu pekerja.

“Mereka kita berikan pelatihan pengetahuan tentang penyakit akibat kerja. Selama ini mereka kerja sudah sakit tetapi tidak mengetahui penyakit itu disebabkan oleh kegiatan dan pekerjaannya sehari-hari, maka diperlukan contoh nyata, tenaga Puskesmas dan pekerja,” katanya.
Target jangka panjang pekerja bisa mendeteksi penyakit akibat kerja, dan orang yang berobat di Puskesmas dapat diturunkan dan ditekan seminimal mungkin.
Selain itu, di Puskesmas, terdapat petugas kesehatan kerja dan olahraga. “Mereka tersebsar di 32 Puskesmas di Aceh Utara,” kata Samsul.
Mereka sambung Samsul lebih aktif turun kelapangan memberikan penyuluhan kepada masyarakat akibat penyakit kerja dan telah membentu 11 Pos UKK (Upaya kesehatan kerja ) yg tersebar di 11 Puskesmas.
Penyakit akibat kerja (PAK) adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan/atau lingkungan kerja.
Penyakit akibat kerja didiagnosis dan ditetapkan melalui tujuh langkah diagnosis yang mencakup penentuan diagnosis klinis, mengidentifikasi pajanan yang dialami pekerja di tempat kerja, penentuan hubungan antara pajanan dengan diagnosis klinis, besarnya pajanan, adakah faktor dari individu yang berperan, pastikan tidak ada faktor lain yang berpengaruh diluar pekerjaan utama, dan terakhir adalah penentuan diagnosis okupasi.

Penyebab penyakit akibat kerja dikelompokkan menjadi 5 golongan yaitu penyebab fisik (antara lain bising, getaran, radiasi pengion, radiasi non pengion, tekanan udara, suhu ekstrem), penyebab kimiawi yaitu berbagai bahan kimia, penyebab biologi (antaralain bakteri virus, jamur, parasit dll), penyebab ergonomik (antara lain seperti posisi janggal, gerakan berulang dll) serta penyebabn psikososial (antaral ain beban kerja yang terlalu berat, pekerjaan monoton, stress kerja dll).
Diagnosis okupasi yang spesifik pada pekerjaan tertentu dapat dilakukan oleh dokter umum dan berbagai penyakit akibat kerja dapat didiagnosis oleh dokter Spesialis Okupasi sebagai rujukan di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL) yaitu Rumah Sakit.
Hal ini tercantum dalam Konsensus Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja di Indonesia yang bekerjasama dengan beberapa multidisiplin ilmu kedokteran dan profesi.
Berbeda dengan diagnosis penyakit pada umumnya, diagnosis penyakit akibat kerja mempunyai aspek medis, aspek komunitas dan aspek legal.
Dengan demikian tujuan melakukan diagnosis akibat kerja adalah merupakan dasar tatalaksana penyakit di tempat kerja, membatasi kecacatan dan mencegah kematian, melindungi pekerja lain dan memenuhi hak pekerja.

Beragam Penyakit Akibat Kerja
Keluhan yang disebabkan penyakit akibat kerja bisa dihindari jika Anda memahami penyebabnya dan mengubah kebiasaan saat bekerja. Berikut ini adalah contoh penyakit akibat kerja beserta penjelasannya:
1. Asma
Para pekerja yang sering terpapar asap kimia, gas, dan debu rentan mengalami kondisi ini. Keluhan biasanya semakin cepat timbul jika pekerja tidak memakai alat pelindung berupa masker wajah. Pekerja yang berisiko mengalami asma adalah pekerja di pabrik tekstil, penata rambut, tukang kayu, dan tukang las.
Asma yang dipicu oleh pekerjaan memiliki gejala yang sama dengan penyakit asma pada umumnya, yaitu mengi, sesak napas, dan batuk. Hanya saja, gejala asma yang muncul biasanya akan memburuk saat sedang bekerja dan membaik ketika sedang libur.
Tingkat keparahan asma karena pekerjaan tergantung pada seberapa lama Anda terpapar pemicunya. Semakin lama dan semakin sering Anda terpapar, semakin parah gejala asma yang muncul. Namun, ini juga berarti gejala akan lebih mudah disembuhkan jika penderita didiagnosis lebih cepat.
2. Carpal tunnel syndrome (CTS)
CTS rentan dialami oleh pekerja yang sering menggunakan tangannya untuk gerakan yang sama dan berulang-ulang. Pekerja yang rentan terkena kondisi ini adalah pekerja kantoran yang sering mengetik, pengemas barang, pekerja bangunan, dan penjahit.
CTS ditandai dengan gejala berupa sensasi kesemutan, mati rasa, atau kelemahan pada tangan. Keluhan ini bisa diredakan dengan mengistirahatkan tangan sejenak saat bekerja, mengompres tangan dengan es, dan mengonsumsi obat pereda nyeri.
3. Dermatitis kontak
Dermatitis kontak dapat terjadi pada pekerja yang sering bersentuhan dengan zat kimia, pestisida, bahan pengawet, nikel, parfum, pewarna rambut, hingga perhiasan yang dapat mengiritasi kulit atau menimbulkan reaksi alergi.
Dermatitis kontak ditandai dengan ruam merah yang gatal, kering, dan bersisik. Kulit juga bisa mengeras, pecah-pecah, dan terasa nyeri ketika disentuh. Pekerja dapat menghindari keluhan ini dengan menggunakan alat pelindung saat bekerja, misalnya sarung tangan karet.
4. Penyakit paru kronis
Seseorang yang bekerja di tempat tambang batu bara, pabrik tekstil, pabrik bahan bangunan, bengkel, atau pengelas, berisiko terkena penyakit paru kronis. Salah satu contoh penyakit ini adalah asbestosis. Keluhannya bisa berupa batuk kronis, sesak napas, atau nyeri dada.
Berbeda dengan asma, penderita akan tetap mengalami keluhan penyakit paru kronis meski tidak lagi terpapar pemicu. Ini karena kerusakan paru-paru yang ditimbulkan sudah menetap, sehingga gejalanya akan terus-menerus ada.
Oleh karena itu, penderita harus secara rutin memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan jangka panjang.
Selain penyakit di atas, masih banyak penyakit lain yang dapat disebabkan oleh pekerjaan, misalnya gangguan pendengaran, tetanus, vitiligo, hingga kanker. Umumnya, penyakit-penyakit ini berawal dari kurangnya kesadaran akan pentingnya menggunakan alat pelindung diri selama bekerja.
Setiap pekerjaan memiliki risiko kesehatan masing-masing. Agar Anda tidak mengalami penyakit akibat kerja, jangan lupa untuk selalu memakai alat pelindung diri yang sesuai dan beristirahatlah jika merasa lelah.
Lakukan juga pemeriksaan kesehatan secara rutin ke dokter, terlebih jika Anda bekerja di lingkungan yang rentan terkena penyakit akibat kerja.
|ADVERTORIAL

Subscribe to my channel

