LHOKSEUMAWE – Pengamat ekonomi syariah dari Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, Damanhur, menilai Bank Syariah Indonesia (BSI) pelit dalam melakukan investasi bidang teknologi informasi.
Dia mencontohkan, aplikasi mobile banking yang digunakan BSI merupakan aplikasi berbasis website. Sehingga sangat mudah diretas. “Bukan aplikasi basis utamanya mobile banking dengan pengamanan ekstra. Ini menandakan ketidakseriusan dan pelitnya BSI investasi bidang teknologi. Padahal itu jantung pengamanan sebuah bank,” kata Damanhur, dihubungi per telepon, Jumat (12/5/2023).
Dia meminta agar bank plat merah itu sadar betul prinsip custumer is everything (semua tentang konsumen). Untuk itu, sambung Damanhur, perbankan harus memastikan sejak awal sistem yang mereka gunakan aman untuk nasabah.
“Cerita jaringan ATM eror dan aplikasi mobile banking eror itu bukan kali pertama. Namun, ini kali pertama yang terlama, sampai tiga hari. Kalau kita hitung, bisa ratusan miliar kerugian nasabah, mulai pebisnis, pemerintah sampai masyarakat biasa,” katanya.
Dia mencontohkan, tidak ada pencairan dana sepanjang tiga hari terakhir karena jaringan BSI eror untuk instansi vertikal di Aceh. “Perputaran uang dari instansi vertikal saja itu berapa puluh miliar dalam tiga hari. Ini sungguh merugikan banyak pihak,” katanya.
Dia mendesak Menteri BUMN, Eric Tohir, mengevaluasi total seluruh jaringan keamanan teknologi milik BSI. “Cukup kali ini pertama. Namun, khusus masyarakat Aceh, saya ingatkan, perbaiki banknya, bukan ganti banknya menjadi konvensional. Bank syariah sudah tepat untuk sistem perekonomian Aceh, hanya saja sistemnya perlu dibenahi menyeluruh,” pungkasnya.
|KOMPAS

Subscribe to my channel

