NewsDari Soeharto sampai Jokowi, Siapa Bapak Utang Luar Negeri Sesungguhnya?

Dari Soeharto sampai Jokowi, Siapa Bapak Utang Luar Negeri Sesungguhnya?

BAKATA.NET – Analis politik dan ekonomi Rustam Ibrahim membahas tentang utang pemerintah dari masa ke masa, sejak zaman Presiden Soeharto sampai Presiden Joko Widodo.

“Kalau mau jujur bernarasi, sebetulnya bapak utang luar negeri Indonesia adalah Presiden Soeharto. Untuk pembangunan beliau berutang sejak 1967 dan menambah utang setiap tahun sampai lengser pada 1998. Presiden-presiden berikutnya hanya meneruskan menambah utang sambil membayar cicilan dan bunga utang,” kata Rustam melalui akun Twitter @RustamIbrahim.

Rustam menambahkan untuk menjamin rezim Orde Baru bisa diberi utangan, bahkan sejak tahun 1967 dibentuk konsorsium negara-negara pemberi utang. Namanya Intergovernmental Group on Indonesia; disingkat IGGI. Di dalamnya ada sejumlah negara dan lembaga-lembaga keuangan, seperti Bank Dunia, IMF, dan ADB.

Rustam mengatakan IGGI bubar tahun 1992, kemudian dibentuk lagi kelompok negara-negara pemberi utang dengan nama baru: Consultative Group on Indonesia, disingkat CGI sampai berakhirnya kekuasaan Soeharto tahun 1998.

Menurut Rustam dengan utangan setiap tahun, Soeharto membangun Indonesia. Hasilnya, kata dia, selama 32 tahun tentu cukup banyak. Orang miskin berkurang dan pendapatan per kapita rakyat Indonesia naik sekitar 20 kali lipat; dari 50 menjadi sekitar 1.000 dollar AS per tahun (1998).

“Kalau mau jujur bernarasi, melonjaknya utang Indonesia dalam rupiah, terjadi menjelang akhir pemerintahan Soeharto, yakni tahun 1998 setelah terjadi krisis moneter. Nilai tukar rupiah terjun bebas dari Rp2.500 menjadi sekitar Rp15.000 per 1 dollar AS (anjlok 600 %),” kata dia.

Rustam menekankan,  B. J. Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jokowi sebenarnya hanya meneruskan dalam arti menambah utang atau membayar cicilan plus bunga dalam dollar AS; yang tentu membutuhkan rupiah yang lebih banyak karena nilai tukar yang merosot.

Tapi sejak Habibie sampai dengan Jokowi (2019), menurut Rustam, kesejahteraan rakyat juga meningkat. Selama 1998 – 2019 PDB per kapita meningkat 4 kali lipat, dari 1.000 jadi 4.000 dollar AS. Meski secara persentase lebih rendah dari masa Soeharto, secara absolut naiknya jauh lebih besar: mencapai 3.000 dollar AS.

“Katanya penambahan utang LN masa Jokowi sangat besar. Tapi juga pembangunan infrastruktur masa Jokowi mungkin lebih banyak dibanding masa Soeharto 32 tahun. Misalnya panjang jalan tol dan rel KA, pembangunan bandara dan pelabuhan baru, pembangunan listrik pedesaan dan lain-lain,” katanya.

|SUARA.COM

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

Genjot Pembangunan, Bupati Al-Farlaky Mulai Aspal Jalan Sungai Raya–Gajah Mentah

Gelontorkan 4,7 Milyar Anggaran Aceh Timur — Pemerintah Kabupaten Aceh...

Perkuat Resiliensi Pasca-Bencana, Kolaborasi Multipihak Resmikan PLTS Atap di Masjid Nurul Iman Aceh Tamiang

ACEH TAMIANG— Upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus resiliensi masyarakat...

Bupati Al-Farlaky: Rp 15 Miliar Untuk Jalan Lintas Keude Geurubak Tahun 2027

ACEH TIMUR — Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky,...

Dukung Produktivitas Pembudidaya Ikan, Pupuk Indonesia Optimalkan Penyaluran Pupuk Bersubsidi di Sumbawa

Sumbawa– PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat dukungan terhadap...

API Wilayah Aceh Gelar Kajian Bulanan Perdana, Bahas Jiwa dan Tahapan Perkembangan Manusia dalam Al-Qur’an

Asosiasi Psikologi Islam Wilayah Aceh menyelenggarakan Kajian Bulanan perdana...