LHOKSEUMAWE- Sayed Dahlan Alhabsy akrab disapa Sayed Art, siang itu, menghadiri pementasan kisah hidupnya di pelataran Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (30/7/2026).
Pelukis beusia 80 tahun itu, kini menjadi satu-satunya pelukis senior di Provinsi Aceh. Sayed memiliki ciri khas melukis sejarah Aceh, mulai dari Kerajaan Perlak, Aceh Darussalam, Kerajaan Samudera Pasai dan sejumlah pahlawan nasional asal Aceh.
Lalu bagaimana melukiskan wajah raja zaman dahulu? “Saya berimajinasi. Tidak ada dokumen foto yang bisa kita lukiskan. Apalagi abad 18,” ujarnya.
Saat melukis wajah pahlawan dan tata kota masa kerajaan itu, dia menyebutkan terinspirasi sendiri. Bahkan seakan bagai dipandu oleh kekuatan lainnya.
“Saya melukis istana Darud Donya dan tata letak istana Kerajaan Aceh Darussalam. Itu susah sekali. Berkali-kali gagal, belakangan baru berhasil. Bahkan sudah beberapakali saya ikutkan dalam pameran di Yogyakarta, dan sejumlah tempat,” kata lulusan Universitas Al Wasliyah Medan, Sumatera Utara ini.
Seakan, kata Sayed, tangannya dipandu sendiri saat “menari” diatas canvas. Untuk Darud Donya, dia berkali-kali berhenti. Lukisan itu bahkan tertunda bertahun-tahun, sebelum akhirnya rampung dikerjakan.
Untuk ukuran dia menggunakan media canvas berukuran terkecil 80x 60 sentimeter dan terbesar 4×4 meter. Sejak memasuki perguruan tinggi dia mulai karir sebagai pelukis. Sebanyak 300 lukisan telah dibuat hasil imajinasi, merenenung dan membaca sejumlah literatur sejarah Aceh masa lalu. Dari situlah ide muncul. Lalu berpindah ke canvas.
“Kalau menyenangi lukasan sejak anak-anak. Kalau profesional mulai kuliah,” katanya.
Setemat kuliah, gayung bersambut. Dia bekerja di sebuah perusahaan periklanan. Zaman dulu, media lukis menjadi primadona yang paling digemari. Termasuk oleh Presiden Sukarno.
“Masa pemerintahan Sukarno, pelukis itu makmur. Diperhatikan. Memasuki orde baru, mulai dilupakan. Kini juga begitu, baru akhir-akhir ini sejak ada Kementerian Kebudayaan barulah lukisan menjadi perhatian,” katanya.
Media lukis semakin dilupakan masyarakat seiring munculnya teknologi digital printing. “Kalau printing lebih murah, paling Rp 200.000 sudah besar sekali itu bisa dicetak. Kalau lukisan bisa Rp 7 juta masih ukuran kecil,” katanya.
Dia berpesan pada pelukis muda Aceh untuk memperkaya lukisan dari sisi sejarah. Sehingga Aceh dikenal oleh generasi masa depan. “Kenali sejarah kita, lukiskan dan wariskan. Beberapa lukisan saya simpan, buat saya wariskan ke masyarakat mendatang setelah saya meninggal dunia,” terangnya.
Untuk menambah pendapatan, dia memiliki studio lukis. Sayed Art menerima pesanan dari sejumlah kepala daerah di Aceh untuk melukis pahlawan asal kabupaten/kota.
Sejumlah lukisan di kantor pemerintah di Aceh hasil guratan tangannya. “Melukis itu untuk mewariskan masa lalu ke masa depan,” pungkasnya.
ACEH TAMIANG- Sebanyak 120 anak-anak berkebutuhan khusus dari Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Aceh…
Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membongkar dugaan praktik permainan harga beras fortifikasi…
Bupati Al- Farlaky Tegaskan Tak Anti Kritik, Asalkan Konstruktif Ruang Dialog Bersama Insan Pers Terbuka…
ACEH TIMUR – Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si., memimpin rapat bersama warga…
LHOKSUKON – Sebanyak 50 tim Rapai Pase menabuh rapai (alat musik tradisional) di Desa Dayah…
Semarang – PT Pupuk Indonesia (Persero) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung kemajuan olahraga nasional. Komitmen…
This website uses cookies.