Anzikri (28) warga Desa Blang Reuling Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Kamis (17/9/2026) sedang membajak sawah miliknya.
Dengan cangkul bantuan dari Palang Merah Indonesia (PMI) dia membersihkan lumpur sisa banjir pada 26 November 2025 lalu dari dalam sawah. Awalnya, dia menunggu janji pemerintah yang akan membersihkan lumpur sisa banjir secepatnya. Harapan pun kandas.
“Dua kali musim tanam terlewati. Jadi, mau tunggu apa lagi? Saya bersihkan sendiri saja,” kata Anzikri.
Tujuannya untuk segera bisa turun menanam padi. Sebelas bulan pascabanjir, dia tak mengelola sawah itu. Dampaknya, keuangan keluarga merosot drastis. Bekerja serabutan juga tak mampu memenuhi kebutuhan biaya hidup.
“Jadi, berjuang sendiri, tangan sendiri dan mencangkul sendiri. Sampai kapan harus berharap, maka saya kerjakan pelan-pelan. Berat memang, karena lumpurnya tebal. Tapi mau bagaimana lagi?” ujarnya tersenyum tipis.
Jika lumpur sisa banjir masih mengendap di sawah, dipastikan sawah itu gagal panen. “Lumpur itu merusak tanaman. Maka harus bersihkan dulu, buang dulu lumpurnya sampai ketemu tanah dasar. Barulah bisa ditanami padi lagi layaknya sebelum banjir,” terangnya.
Kepala Desa Blang Reuling Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara Isbahannur menyebutkan kondisi area persawahan di kecamatan pedalaman itu belum pulih. “Bagi masyarakat yang punya uang, menyewa alat berat masing-masing untuk membersihkan lumpur di sawah. Bagi yang tidak punya uang, ya manual, pakai cangkul,” katanya.
Dia pun mengeluhkan kondisi saluran irigasi kini lebih rendah dibanding area persawahan. Pasalnya, saluran itu penuh endapan lumpur sisa banjir dan belum dibersihkan. Dampaknya, air irigasi tak bisa mengalir ke sawah.
“Karena sawah lebih tinggi daripada saluran irigasinya. Jadi, tak bisa mengalir air irigasi ke sawah. Sawah lebih tinggi karena penuh lumpur sisa banjir,” katanya.
Dia berharap, pemerinah tidak hanya berjanji namun lamban menepatinya. “Sawah itu bagi rakyat kami urat nadi ekonomi. Itu sumber pendapatan utama,” katanya.
Beralih Tanam Sawit
Belasan petani lainnya sambung Isbahannur tak lagi menanam padi di sawah. Mereka kini beralih menanam sawit. Pasalnya, petani kesulitan membersihkan tebalnya lumpur sisa banjir.
“Daripada membersihkan lumpur sisa banjir habis banyak uang dan tenaga. Mereka langsung menanami sawit di sawah. Nah, itu kan memperkecil area sawah kita. Tapi mau bagaimana lagi, apa yang bisa dilakukan petani,” katanya pasrah.
Jika kondisi itu dibiarkan dalam waktu lama, maka ratusan hektare sawah akan berubah menjadi kebun sawit. Dampak jangka panjang sambung Isbahannur maka Aceh Utara akan kekurangan beras.
“Saya harap pemerintah fokus ke sawah dan rumah dulu. Dua hal itu paling penting bagi rakyat korban banjir,” terangnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Aceh Utara Mirza Gunawan belum merespon hingga berita ini ditayangkan. Pesan singkat yang dikirimkan belum dijawab. |KOMPAS
ACEH TIMUR — Aksi dugaan pencurian kabel tower HT milik Polri di belakang Kantor Satuan…
ACEH TIMUR – Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si., menerima kunjungan silaturahmi Kapolres…
LHOKSUKON- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh mengeluhkan sikap kontraktor atau…
PEUREULAK – Pemerintah Kabupaten Aceh Timur mulai mendorong pemulihan sektor perikanan budidaya yang terdampak banjir…
ACEH TIMUR — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, mengeluarkan kebijakan tegas untuk menjaga penerapan…
BANDA ACEH — Menikmati kopi dan hidangan sambil bersantai kini menjadi salah satu pilihan masyarakat…
This website uses cookies.