Harapan baru mulai menyelimuti warga Desa Gunci dan Desa Sawang, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, setelah pemerintah pusat memastikan pembangunan jembatan permanen yang menghubungkan dua wilayah tersebut dipercepat tahun ini.
Keputusan itu lahir saat Koordinator Satuan Tugas Penanggulangan Pascabencana (Galanapa) DPR RI Aceh, TA Khalid, meninjau langsung kondisi jembatan bersama tim Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Jumat (22/3/2026).
Di lokasi, mereka menyaksikan sendiri bagaimana warga harus bertahan dengan jembatan kayu seadanya yang dibangun secara swadaya pascabanjir besar pada 26 November 2025 lalu.
Jembatan kayu itu tampak rapuh. Papan-papan tipis disusun seadanya di atas aliran sungai yang deras. Dua perahu karet tertambat di sisi jembatan sebagai alat alternatif ketika air sungai naik sewaktu-waktu.
Bagi masyarakat, melintasi jembatan tersebut bukan sekadar aktivitas harian, melainkan perjuangan yang penuh risiko.
“Kalau hujan deras kami takut lewat. Anak-anak sekolah juga harus hati-hati karena papan jembatan sering goyang,” kata Rahmawati (43), warga Desa Gunci, Jumat (23/5/2026).
Ia mengaku warga tidak punya pilihan lain karena jembatan itu menjadi satu-satunya akses menuju pasar, sekolah, hingga fasilitas kesehatan.
“Kalau malam lebih menyeramkan lagi. Pernah ada warga hampir jatuh karena kayunya licin. Kami berharap pemerintah benar-benar segera membangun jembatan permanen,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Fauzan (36), seorang petani asal Desa Gunci. Menurutnya, kondisi jembatan sangat menyulitkan distribusi hasil kebun warga.
“Kalau membawa hasil panen harus pelan-pelan. Mobil tidak bisa lewat. Kadang kami harus angkut pakai sepeda motor satu-satu. Kalau banjir datang, jembatan ini pasti hanyut lagi,” katanya.
Awalnya, pembangunan jembatan tersebut masuk dalam rencana induk Kementerian PU pada 2027. Namun, melihat kondisi masyarakat di lapangan, TA Khalid langsung melakukan panggilan video dengan Menteri PU, Dody Hanggodo, untuk meminta percepatan pembangunan.
“Pak Menteri ini sangat mendesak, lihat sendiri bagaimana kondisinya. Tolong dibantu dikerjakan tahun ini, sayang masyarakat Aceh,” kata TA Khalid saat menunjukkan kondisi jembatan kepada menteri.
Merespon permintaan tersebut, Dody langsung memerintahkan Kepala Balai Jalan dan Jembatan Wilayah Sumatera I, Zulkarnain, untuk menyiapkan seluruh kebutuhan teknis pembangunan, mulai dari desain hingga revisi anggaran.
“Prinsipnya saya setuju. Tetap kita bantu Aceh, secara teknis dipersiapkan terus, desain jembatan dan lain sebagainya,” ujar Dody di hadapan warga penyintas banjir.
Jembatan yang direncanakan memiliki panjang sekitar 100 meter itu nantinya akan menghubungkan Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bireuen. Infrastruktur tersebut sebelumnya amblas diterjang banjir besar tahun lalu dan hingga kini belum sepenuhnya pulih.
Bagi warga Desa Gunci, percepatan pembangunan jembatan bukan hanya soal infrastruktur, melainkan tentang keselamatan dan harapan untuk kembali menjalani hidup normal tanpa rasa takut setiap kali menyeberang sungai.
|MUMUL|KOMPAS
ACEH UTARA — Minggu dini hari, 24 Mei 2026, ketika sebagian besar warga masih terlelap,…
Aceh Timur – Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si mengajak seluruh masyarakat untuk…
IDI — Pemerintah Kabupaten Pemerintah Kabupaten Aceh Timur terus mempercepat proses pemulihan pascabencana dengan menyerahkan…
ACEH UTARA – Warga memasang spanduk larangan mendekati area sumur bor gas di kawasan perkebunan…
LHOKSUKON— Sejumlah masyarakat di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh mengeluh akan pemadaman…
LHOKSUKON– Sebanyak 80 jiwa warga Desa Blang Reubek, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh,…
This website uses cookies.