ACEH UTARA – Jam menunjukan pukul 12.00 WIB, saat mobil yang ditumpangi Kompas.com, menyusuri jalan lintas Krueng Mane ke Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Senin (9/2/2026).
Sepanjang jalan itu, sawah tertimbun lumpur mulai mengering. Terlihat area sawah itu pecah. Sawah lebih tinggi dibanding badan jalan. Sebagian petani, langsung menanam ubi kayu. Sedangkan lumpur sisa banjir masih tertumpuk di kiri-kanan jalan.
Lalu lintas di sepanjang jalan itu pun sepi. Nyaris layaknya Sawang sebelum bencana. Hanya angin dan debu yang beterbangan. Sedangkan kerusakan disebabkan banjir, langsung terlihat di sepanjang kiri-kanan jalan itu.
Liha saja jembatan gantung antar kabupaten yang terjungkal karena banjir di Desa Rambong Payong, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Jembatan gantung ini dilalui masyarakat dua kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bireuen.
Potongan besi jembatan gantung masih terlihat jelas, sedangkan fondasi jembatan nyaris rubuh. Di bawah jembatan, warga lokal memasang rakit penyeberangan untuk penghubung.
“Kalau anak sekolah Rp 10.000 pulang pergi. Kalau masyarakat Rp 10.000 sekali jalan. Itu sungguh berat,”kata Saiful, yang menetap di sisi jembatan. Dia pun membangun kayu seadanya, hanya sisa pondasi rumah yang selamat saat banjir. Seluruh bangunannya hancur.
Mobil yang kami tumpangi menyusur hingga ke Desa Riseh Tengoh, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Jalan amblas dan jembatan putus menjadi pemandangan sepanjang perjalanan.
Sepi Alat Berat
Di setiap desa, hanya terlihat satu exscavator yang bekerja. Misalnya di Desa Sawang, satu escavator untuk membangun jembatan permanen penghubung antar Desa Gunci dan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Fondasi jembatan telah rampung di satu sisi. Sedang dikerjakan di sisi lainnya.
“Masih lama pak, masih banyak tahapan membangun jembatan ini,” sebut seorang pekerja.
Hal yang sama terlihat di Desa Riseh Tengoh dan Riseh Tunong, Kecamatan Sawang. Masing-masing desa satu alat berat bekerja. Membuka jalan agar tidak terisolasi.
“Jalanan ini bisa dilalui mobil dan sepeda motor jika kondisi sekarang ini. Karena debit air sungai kecil. Jika air sungai besar, kami seluruhnya terisolasi. Tak bisa dilalui,” kata Kepala Dusun Cot Calang, Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Mukhtar.
Dia menyebutkna, 900 lebih warga dusunnya akan terisolasi saat hujan dan air sungai meluap. Dua jembatan darurat dibangun swadaya menjadi penghubung dusun itu ke desa.
“Satu mobil yang menimbun jalan, lihat itu satu mobil. Targetnya dibuat sama seperti jalan sebelumnya, tapi entah kapan selesai dengan satu mobil itu,” terang Mukhtar.
Jalan Amblas
Sedangkan Nasruddin, warga Desa Tengoh, Kecamatan Sawang, memperlihatkan jalan di depan rumahnya yang amblas. “Syukur rumah saya selamat. Kami pasrah saja, kapan dibangun-dibangunlah. Terpenting kita terus menjalani hidup,” terangnya.
Sepanjang mata memandang dari rumah Nasruddin, jalanan masih putus dan penuh air. Satu alat berat terlihat bekerja di kejauhan. “Alat berat itu harus menutup aliran air dulu, baru bisa menutup jalan yang amblas ini. Satu saja alat beratnya,” pungkas Nasruddin.
Sepanjang jalan Sawang tak terlihat lagi mobil relawan yang mengantar bantuan bahan pangan. Pengungsi masih bertahan di tenda. Sedangkan hunian sementara belum rampung hingga hari ini.
Dua bulan lebih pascabanjir 26 November 2025 lalu, Sawang kini sunyi dari mobil relawan, dan sepi dari alat berat. Hanya korban banjir yang berusaha bangkit, kembali menata hidup dan menatap masa depan.
|KOMPAS

Subscribe to my channel

