NewsDilema Petani Aceh Utara ; Tanam Padi di Sawah Berlumpur Sisa Banjir,...

Dilema Petani Aceh Utara ; Tanam Padi di Sawah Berlumpur Sisa Banjir, Berharap Air Irigasi…

ACEH UTARA– Dua petani di Desa Nibong Baroh, Kecamatan Nibong, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh terlihat sedang melihat hamparan sawah sepanjang mata memandang, Senin (2/2/2026).

Tanah area persawahan telah pecah. Tanah itu lumpur sisa banjir yang ditanami padi. Petani tak sabar menunggu pembersihan lumpur dari pemerintah.

Mereka ingin segera bangkit pascabanjir 26 November 2025 lalu. Sebanyak 20 desa di kecamatan itu mulai menanam padi sebulan terakhir. Namun, kendala lainnya muncul. Kekeringan menjadi ancaman serius.

“Saya dan petani lainnya ingin bangkit segera setelah banjir. Lumpur sisa banjir langsung kami tanami padi. Agar petani punya penghasilan,” kata Kepala Desa Nibong Baroh, Kecamatan Nibong, Kabupaten Aceh Utara, Razali, kepada Kompas.com.

Hal yang sama diakui petani lainnya Mahmuddin. Dia menyebutkan, hamparan sawah itu menjadi sumber penghasilan. Meski berlumpur sisa banjir, petani tetap berupaya menanam padi. “Hasilnya kita serahkan pada Allah SWT. Selagi kita usaha, Allah selalu memberi jalan,” terangnya.

Namun kini, tanah mulai pecah. Hujan tak kunjung turun membasahi area persawahan. Sedangkan irigasi sektor kanan Bendungan Krueng Pase belum dibuka. Sektor kanan telah rampung dikerjakan, namun belum diserahkan ke pemerintah daerah.

“Kami minta pemerintah membuka sektor kanan itu, agar bisa mengaliri sawah kami dengan irigasi. Walau salurannya masih penuh lumpur, tapi kami yakin bisa mengaliri sawah dengan sumber air Bendungan Krueng Pase,” tambah Razali.

Bahkan, kata Razali, para kepala desa di kecamatan itu bersepakat membantu pemerintah atau rekanan pembangunan bendungan untuk segera membuka saluran irigasi.

“Misalnya, kalau ada kendala dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I yang menangani bendungan itu, kami siap bantu. Siap urunan uang dari petani, terpenting bendungan segera dibuka, agar padi selamat dan tumbuh subur,” terangnya.

Permintaan itu telah disampaikan tertulis oleh forum kepala desa ke BWS Sumatera I. Kini, mereka menunggu agar bendungan segera dibuka dan mengaliri seluruh sawah di kecamatan itu.

“Agar kami korban banjir ini bisa segera mandiri, punya penghasilan sendiri, walau belum tentu maksimal, karena menanam padi diatas lumpur sisa banjir,” pungkasnya.

|KOMPAS

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

Lobi Bupati Al- Farlaky, Pembudidaya Tambak Terima Benur Udang Vaname dari KKP

PEUREULAK – Pemerintah Kabupaten Aceh Timur mulai mendorong pemulihan...

Bupati Aceh Timur Tegas: Domino Dilarang, Celana Pendek Pria Tak Boleh Berkeliaran di Tempat Umum

ACEH TIMUR — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky,...

Yuk Ngopi Cantik di ACE INN Hotel Banda Aceh

BANDA ACEH — Menikmati kopi dan hidangan sambil bersantai...

Mengintip Peran Strategis Rekind dalam Pembangunan Pabrik Soda Ash Pertama di Indonesia

Di balik pembangunan Pabrik Soda Ash pertama di Indonesia...

Berbulan-bulan Bertahan di Tenda, Enam KK Korban Banjir Blang Peuria Menanti Kepastian Hunian

ACEH UTARA — Banjir yang melanda Desa Blang Peuria, Kecamatan...