Categories: Sosok

Soal 4 Pulau Aceh Dicaplok Sumut, Pengamat : Mualem Senyap, Tegas dan Solutif

 

LHOKSEUMAWE – Pengamat Komunikasi Politik, Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, Masriadi Sambo, memuji gaya komunikasi politik Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf akrab disapa Mualem dalam persoalan 4 pulau milik Aceh diserahkan ke Sumatera Utara.

Mualem sekilas enggan berkomentar, namun dalam senyap berkomunikasi dengan sejumlah elit di Jakarta.

“Hari ini masyarakat baru mengetahui sikap tegas Mualem. Bahwa empat pulau itu soal sejarah dan soal harga diri,” kata Masriadi, Jumat (13/6/2026).

Dia mengapresiasi sikap Mualem, bahwa polemik di media massa tidak akan menyelesaikan akar masalah.

“Mualem sadar betul, bahwa Jakarta adalah kunci. Karena itu, tidak mau berpolemik di media massa yang bisa memicu amarah publik atau tambahan masalah baru. Ini pola komunikasi pemimpin yang umum berlatar militer,” terangnya.

Dia menyebutkan, dalam MoU Helsinki jelas disebutkan batas wilayah Aceh mengacu pada tahun 1956, saat Undang-undang pendirian Provinsi DI Aceh disahkan oleh Presiden Sukarno.

“Sisi lain, Mualem memanggil seluruh anggota DPR RI dan DPD RI asal Aceh. Ini gaya elegan komunikasi politik,” terangnya.

Sisi lain, aktivis, organisasi masyarakat, dan kepemudaan di Aceh dan Jakarta juga melakukan tekanan ke pemerintah pusat.

“Mualem pasti punya akses ke Presiden. Tentu ini dibicarakan, jadi, akan selesai dengan duduk bersama serta dikeluarkannya perubahan keputusan Mendagri tentang status pulau itu,” sebutnya.

Bagi awam, sambung Masriadi, tidak lazim gubernur tidak banyak bicara di medja massa. Namun, sesungguhnya solusilah yang menjadi titik tembak Mualem.

“Apalagi Mualem paham betul, batas wilayah Aceh itu dasarnya undang-undang, tak mungkin bisa dikalahlan selevel keputusan Mendagri,” sebutnya.

Untuk itu, dia mendorong Mendagri RI Tito Karnavian segera merevisi keputusan yang keliru itu.

“Solusinya revisi keputusan Menteri, akui ada kekeliruan, dan Aceh akan tentram. Ingat, bagi Aceh, empat pulau itu bukan soal teritorial, tapi soal harga diri Aceh,” pungkasnya.

|MULYADI

Bagikan Postingan
Redaksi

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Recent Posts

Perkuat Peran EPC Nasional, Rekind Bangun Pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida Petrokimia Gresik

JAKARTA -PT Rekayasa Industri (Rekind) kembali memperkuat kiprahnya dalam pembangunan industri kimia nasional melalui kepercayaan…

18 hours ago

Pertamina Patra Niaga “Cadiak Pandai Goes to School” Kukuhkan Satuan Tugas Lingkungan Sekolah, Semarakkan Hari Inovasi Indonesia di Ulakan Tapakis

Padang Pariaman– Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melalui Aviation Fuel Terminal Minangkabau…

1 day ago

Tak Berhenti, Bupati Al-Farlaky Kembali Lobi Wamensos RI Perjuangkan Pencairan Jadup

Jakarta-- Upaya mempercepat pencairan bantuan Jatah Hidup (Jadup) bagi korban banjir di Aceh Timur terus…

2 days ago

Ketua PCNU Lhokseumawe Bekali Santri Pemahaman Turats, Tegaskan Pentingnya Penguasaan Kitab Kuning

LHOKSEUMAWE – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Lhokseumawe, Dr. Tgk. M. Rizwan Haji…

2 days ago

Forbes DPR RI Asal Aceh Kecam Penembakan Warga Saat Pengibaran Bendera Bintang Bulan

BANDA ACEH | Ketua Forum Bersama (Forbes) DPR RI - DPD RI Asal Aceh, TA…

2 days ago

Mantan Kapolri Diduga Sadap Presiden Prabowo, Kini Dipenjara

JAKARTA – Institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) diguncang kasus serius. Mantan Kapolri yang kini…

4 days ago

This website uses cookies.