ArtikelPengaruh Zat Nikotin dalam Rokok Terhadap Kemampuan Belajar Pada Siswa

Pengaruh Zat Nikotin dalam Rokok Terhadap Kemampuan Belajar Pada Siswa

Maya Lestari, M.Ed

Dosen Prodi Psikologi, Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh


REMAJA
sering berhadapan dengan pilihan yang terlihat wajar di lingkungan sekitar, tetapi menyimpan dampak jangka panjang. Merokok menjadi salah satunya. Di banyak konteks sosial di Indonesia, rokok masih dilekatkan pada citra kedewasaan dan maskulinitas. Ungkapan seperti “belum dewasa kalau belum merokok” atau “bukan laki-laki kalau tidak merokok” kerap dinormalisasi, tanpa disadari risikonya bagi perkembangan remaja.


Kesadaran tersebut melatarbelakangi kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Negeri 1 Dewantara pada 26 April 2025. Melalui diskusi terbuka dan penyampaian materi secara sederhana, siswa diajak untuk memahami bahwa dampak rokok tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh pada fokus belajar, daya ingat, dan kesiapan mereka mengikuti pelajaran di kelas.


Dalam salah satu diskusi dengan siswa mengungkap bahwa rokok bukan semata persoalan pilihan individu, tetapi bagian dari tekanan sosial dan lingkungan. Merokok kerap dipandang sebagai cara untuk menyatu dalam pergaulan, sehingga pengalaman pertama merokok sering kali terjadi bersama teman sebaya. Sementara itu, paparan asap rokok di rumah dianggap sebagai hal yang biasa misalnya ketika Ayah merokok di berbagai ruang.

Normalisasi inilah yang membuat dampak rokok terhadap kesehatan dan kemampuan belajar remaja jarang disadari.


Nikotin merupakan zat adiktif yang bekerja langsung pada sistem saraf pusat. Pada remaja, paparan nikotin dapat menurunkan kemampuan fokus, mengganggu kualitas tidur, dan memengaruhi kestabilan emosi. Dampaknya memang tidak selalu terasa seketika, tetapi perlahan memengaruhi kemampuan belajar. Akibatnya, siswa jadi mudah mengantuk atau kesulitan berkonsentrasi di kelas, tanpa menyadari keterkaitannya dengan kebiasaan merokok atau paparan asap rokok di sekitarnya.


Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mendengar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi diajak memahami mengapa suatu perilaku perlu dipertimbangkan. Dialog yang dibangun membuat siswa lebih terbuka dan berani merefleksikan pilihan mereka sendiri. Dari sini tampak bahwa sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan kesadaran hidup sehat, melampaui fungsi akademik semata.

Namun, perubahan perilaku remaja tidak mungkin dibebankan pada satu pihak saja. Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam menguatkan pemahaman yang diperoleh siswa di sekolah. Keteladanan di rumah serta komunikasi yang baik akan membantu remaja menimbang pilihan hidupnya dengan lebih bijak di tengah tekanan pergaulan.


Kegiatan ini menunjukkan bahwa remaja dapat memahami risiko merokok ketika diajak berdialog secara terbuka. Psikoedukasi membantu mereka menyadari bahwa menjaga kesehatan berarti menjaga kemampuan belajar dan masa depan. []

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

Genjot Pembangunan, Bupati Al-Farlaky Mulai Aspal Jalan Sungai Raya–Gajah Mentah

Gelontorkan 4,7 Milyar Anggaran Aceh Timur — Pemerintah Kabupaten Aceh...

Perkuat Resiliensi Pasca-Bencana, Kolaborasi Multipihak Resmikan PLTS Atap di Masjid Nurul Iman Aceh Tamiang

ACEH TAMIANG— Upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus resiliensi masyarakat...

Bupati Al-Farlaky: Rp 15 Miliar Untuk Jalan Lintas Keude Geurubak Tahun 2027

ACEH TIMUR — Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky,...

Dukung Produktivitas Pembudidaya Ikan, Pupuk Indonesia Optimalkan Penyaluran Pupuk Bersubsidi di Sumbawa

Sumbawa– PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat dukungan terhadap...

API Wilayah Aceh Gelar Kajian Bulanan Perdana, Bahas Jiwa dan Tahapan Perkembangan Manusia dalam Al-Qur’an

Asosiasi Psikologi Islam Wilayah Aceh menyelenggarakan Kajian Bulanan perdana...