SosokIwan Wahyudi, Spesialis Kelola Bisnis Hotel dan Kuliner...

Iwan Wahyudi, Spesialis Kelola Bisnis Hotel dan Kuliner…

PRIA berbadan tegap itu terlihat sibuk di lantai enam Rooftop Abraj, Hotel Grand Arabia Blangpadang, Banda Aceh, berembus sepoi-sepoi. Dia sesekali mengajak karyawan Grand Arabia Hotel berbicara. Tawa pun pecah. Ditimpalin sejuknya mengalahkan panas cahaya matahari yang direka mencapai 36 derajat celsius. Itulah Iwan. Santai dan bersahabat.

“Beginilah setiap hari,” kata Iwan, sambil tersenyum, Jumat (21/7/2023).

Membuka obrolan santainya, lelaki rapi dan kaya senyum ini bercerita bagaimana ia sejak SMA sudah “berkeringat” bekerja mencari cuan di sebuah kafe. Sejak saat itu pula dia malang melintang di bisnis kuliner dan hotel. Bahkan hingga menamatkan pendidikan tinggi sekitar tahun 2001-2002, pun sempat menjadi karyawan casual (harian lepas) di SSO kafe Semarang dan Yogyakarta.

Tidak berhenti di situ. Dua tahun kemudian Iwan menjelajahi Dubai, ibukota Uni Emirat Arab, sembari menyelesaikan tugas pendidikannya. Di sana, pria yang pernah menetap di Kota Matsum, Medan, ini berkesempatan mengunjungi kota Al Ain, Sarja Abudabi, dan kota-kota lainnya.

Dia ke Dubai dikirim untuk on the job training program dari Kampus Buana Wisata Tourism Academi Yogyakarta. “Cuma, karena waktu itu boleh nyambung oleh perusahaan di sana, trus pihak kampus juga mengizinkan, makanya saya sampai setahun setengah bekerja di sana,” kenang Iwan.

Setahun kemudian, Iwan kembali ke tanah air dan bekerja di hotel kenamaan Grand Angkasa, Medan. Saat itu Iwan sudah menuntaskan kuliahnya. Di hotel ini, posisi awal Iwan sebagai Food & Beverage Banquet Supervisor.

Dia pun menduduki posisi penting mulai dari Iwan Banquet Supervisor, Banquet Manager, dan Assistant Banquet Operational Manager.

Di Hotel Grand Angkasa Medan, kini bersalin nama menjadi Hotel Grand Mercure, Iwan mendapat pengalaman penting dan paling berharga dalam perjalanan kariernya di dunia perhotelan.

Di sini, Iwan dan tim nya beberapa kali menangani  tamu-tamu penting setingkat menteri, bahkan kunjungan Presiden SBY, Wapres Jusuf Kalla, Presiden Megawati Soekarnoputri, dan Capres Prabowo Subianto.

Melayani tamu-tamu penting sekelas menteri, apalagi RI-1 itu, pengakuan Iwan, memang agak berbeda, sedikit rumit. Tapi, pihak hotel terbantu karena tetap bekerja sama dengan protap atau paspampresnya, sama rumtangnya (rumah tangga presiden), jika itu kunjungan presiden.

“Kita mengikuti masukan dari tim presiden. Beda presiden beda seleranya, misalnya di Grand Angkasa itu pernak menginap Pak SBY, Pak Jusuf Kalla, Bu Megawati, dan Pak Prabowo. Mereka punya selera yang berbeda-beda soal makanan,” sebut Iwan.

Dari kacamata Iwan, secara sekilas selera makan Presiden SBY itu lebih condong ke masakan tradisional. Sedangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla lebih ke masakan modern.

“Jadi, selera-selera presiden dan orang penting itu harus kita tahu juga, biar matching,” lanjut Iwan Wahyudi sambil sesekali melepas senyum khasnya.

Kehadiran presiden di sebuah hotel, kata Iwan, mutlak ditentukan oleh pihak istana. Mereka (pihak istana) akan melihat hotel terbaik mana—didukung dari sisi keamanan—yang layak untuk menjadi tempat istirahat presiden ketika berkunjung ke kota itu.

Jika presiden dan rombongan menginap di Hotel Grand Angkasa, berapa lantai gedung yang harus dikosongkan (dibooking)? “Biasa kalau presiden, pernah menginap di Grand Angkasa, itu karena orangnya banyak, jadi dua lantai yang dikosongkan,” katanya.

Akses keluar masuknya, lanjut Iwan, juga khusus, tidak sama dengan tamu-tamu umum. Sedangkan kamar untuk presiden disiapkan di President Suite yang Excellent. Waktu itu, di tahun 2008-2009, harga kamar untuk presiden itu sekitar Rp30 juta per malam.” Sekali presiden menginap, mengeluarkan cost untuk hotel bisa mencapai ratusan juta rupiah, bahkan bisa lebih,” jelas Iwan.

Ya, kunjungan presiden ke satu kota, lalu menentukan tempat rehat di sebuah hotel pilihannya, adalah kebanggaan puncak bagi pengelola hotel. Inilah yang dirasakan Iwan Wahyudi, juga manajer-manajer hotel lain di pelosok Nusantara ini.

Sukses di Medan, tiga tahun setelahnya, Iwan kembali ke kota yang banyak mengajarkan tentang beragam ilmu dan kehidupan; Kota Yogyakarta. Di kota gudeg ini Iwan bergabung di hotel Grup Santika, Kompas, sebagai Assistant Food & Beverage Manager. Ini salah satu hotel bintang lima terbaik di Yogya, milik Sultan Hamengkubuwono.

Tahun 2011, Iwan pindah lagi ke hotel Sibayak, Berastagi, Sumatera Utara, sebagai Food & Beverage Manager. Dari situ, dia pindah lagi ke Karibia Boutique Hotel Medan sebagai Food & Beverage Manager, tahun 2012-2015.

“Di situ saya mulai dari nol atau dari opening team,” kata Iwan sembari sesekali menyeduh water lemon hangatnya.

Tahun 2015-2017 Iwan menjajal hotel sohor Garuda Plaza, Medan, sebagai Food & Beverage and Marcom Incharge, membawahi seluruh unitnya Garuda Group.

Kemudian, di tahun yang sama hingga 2018, ia bekerja di LJ group di Bandung, Padang, dan Medan. Tahun 2018, barulah ia bergabung ke Grand Arabia Banda Aceh. “Waktu itu masih menjadi Cluster GM PT Grand Arabia Hotel Group,” cerita Iwan.

Grand Arabia Hotel Banda Aceh

Bahkan, pada 2020, Iwan sempat bergabung sebentar di Hotel Parkside Takengon, Aceh Tengah, sebagai Pre Opening GM Parkside Hotel. Satu tahun kemudian, Iwan kembali lagi ke Grand Arabia sebagai Director Operational Arabia Hospitality Group.

Dari pengalaman-pengalaman yang meluas itu, Iwan membekali dirinya dengan latar belakang pendidikan di bidang perhotelan di Akademi Pariwisata Buana Wisata.

Keunggulan Syariat Islam

Bagi Iwan, Aceh adalah tantangan menarik. Apalagi provinsi ini sudah 20 tahun menerapkan Syariat Islam. Sehingga seluruh hotel di Kota Serambi Makkah wajib mematuhi segala aturan yang diberlakukan di provinsi ujung barat Indonesia itu.

Konsep syariah yang diberlakukan di Aceh, kata Iwan, memiliki keunggulan tersendiri, berkarakter dan menjanjikan. “Ini menjadi sesuatu yang sangat unik dan menantang. Sehingga tamu-tamu hotel yang datang ke Aceh penasaran ingin melihat langsung penerapan negeri Syariat Islam itu seperti apa,” kata Iwan.

Hotel Grand Arabia Grup seluruhnya menerapkan konsep syariah. “Tak ada ruang bagi tamu yang ingin berbuat aneh-aneh di hotel kami. Tidak ada minuman keras, dan melarang tamu non muhrim menginap satu kamar di hotel kami. Kontrol ini dilakukan sangat ketat,” tegas General Manager di Grand Arabia ini.

Siapa saja tamu-tamu penting yang pernah menginap di Grand Arabia? Kata Iwan, selama di Grand Arabia, ia dan timnya baru meng-handle pejabat-pejabat setingkat menteri. “Itu juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” katanya.

Menurut Iwan, daya menginap wisatawan di Aceh saat weekend kian melonjak. Syariat Islam justru menjadi destinasi wisata khusus, menarik dan memberi kesan lain. Banyak orang dari luar kota seperti Padang, Pekanbaru, Medan, Penang, berbondong datang ke Aceh. Mereka penasaran melihat Aceh.

“Di Rooftop Abraj Grand Arabia ini, setiap pekan tamunya terus membludak. Mereka tamu luar yang menginap di hotel dan warga lokal. Inilah sisi bisnis lain penopang pemasukan hotel kami dari keuntungan yang didapatkan lewat Food and Beverage,” ungkap Iwan.

Di mata Iwan, Aceh adalah kota yang aman, nyaman, dan menarik untuk ditempati dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Ini juga didukung keluarganya yang memutuskan untuk menetap di Aceh. “Kalau saya belum berkeuarga mungkin saya masih akan pindah-pindah lagi,” kata Iwan sambal tersenyum lebar.

 Apa obsesi ke depan? Iwan berkeinginan memiliki usaha di bidang hospitality sepeti punya hotel, kos-kosan, restoran, dan coffee shop. “Bisnis ini kalau bukan F&B, ya, ngamar,” tutup lelaki ramah, lues, dan gampang bergaul ini.

|DIMAS|RIL

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

Hadiri Khanduri Laot dan Santunan Anak Yatim, Bupati Al-Farlaky Ajak Sinergi Bangun Aceh Timur

Aceh Timur – Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky,...

Helikopter Water Bombing Padamkan Tumpukan Kayu Sisa Banjir di Aceh Utara

LHOKSUKON- Helikopter water bombing akhirnya berhasil memadamkan api di...

Aceh Utara Usulkan 200 Formasi CPNS Tahun 2026

LHOKSUKON– Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, mengusulkan sebanyak...

Kontraktor Pembangunan Huntap Korban Banjir Mengeluh Harga Semen Mahal di Aceh Utara

LHOKSUKON – Kontraktor pembangunan hunian tetap (Huntap) untuk penyintas...

Bukti TJSL Berdampak Nyata dan Berkelanjutan: Rekind Raih 2 Penghargaan Top CSR Award 2026

JAKARTA | PT Rekayasa Indsutri (Rekind) memperoleh dua penghargaan...