AdvertorialDinkes Aceh Utara Ajak Masyarakat Rajin ke Posyandu

Dinkes Aceh Utara Ajak Masyarakat Rajin ke Posyandu

ACEH UTARA | Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, mengajak masyarakat untuk rajin berkunjung ke Posyandu atau Pos Pelayanan Terpadu.

Saat ini, di kabupaten itu tercatat 969 Posyandu berada di seluruh desa dalam kabupaten itu. Jumlah ini sekaligus sebagai terbanyak di Provinsi Aceh. Padahal, Aceh Utara hanya memiliki 852 desa. Artinya, satu desa bahkan memiliki dua Posyandu, berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayah di desa tertentu.

“Bayi dibawah lima tahun (Balita) penting untuk dibawa ke Posyandu terdekat. Di sana ada bidan desa yang siaga untuk memantau kondisi bayi itu,” kata Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Amir Syarifuddin, Selasa (2/5/2023).

Dia menyebutkan, Balita harus rajin dibawa ke Posyandu untuk memastikan kondisinya baik dan selalu sehat. “Jika pun ada sakit, segera bisa dideteksi dan disembuhkan,” katanya.

Sisi lain, sambungnya, tujuan utama posyandu adalah mencegah peningkatan angka kematian ibu dan bayi saat kehamilan, persalinan, atau setelahnya melalui pemberdayaan masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara | Amir Syarifuddin,SKM

Dia mengaku, motivasi masyarakat yang masih kurang untuk mengakses layanan Posyandu secara rutin dan minimnya pembinaan Kelompok Kerja Operasional Pembinaan Posyandu (Pokjanal Posyandu) dan Kelompok Kerja Posyandu (Pokja Posyandu) terhadap peningkatan kualitas penyelenggaraan aktivitas Posyandu.

Namun saat ini yang menjadi kendala tak lain adalah kurangnya kesadaran di masyarakat untuk mengikuti Posyandu.

“Padahal di Posyandu sendiri masyarakat dapat dengan mudah melakukan pengecekan kesehatan. Mulai dari, Posyandu lansia, remaja, Posyandu terintegrasi hingga Posyandu untuk ibu hamil dan balita,” sebut Amir.

Dia menyebutkan, bidan desa juga kerap memberitahu secara rutin kepada masyarakat tentang jadwal Posyandu. Namun masih ada dari masyarakat yang kurang proaktif dalam mengikuti program tersebut. Hal itu pun pihaknya inisiasi, dengan melakukan himbauan melalui tokoh-tokoh adat hingga tokoh agama yang ada di desa-desa setempat.

“Karena sangat penting bagi masyarakat, tentang pemahaman seputar posyandu. Nah, kalau dia sakitnya tidak bisa diselesaikan di puskesmas, nanti kita bisa rujuk ke rumah sakit,” ujarnya.

Sebenarnya sekarang yang menjadi kendala, masyarakat tidak memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada secara maksimal. Ia menghimbau agar para orangtua untuk rutin membawa anaknya ke Posyandu setiap bulannya. Posyandu menjaga Ibu dan Anak tetap sehat.

Kader Posyandu
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Aceh Utara, Samsul Bahri, mengatakan kalau kader posyandu proses rekrutmennya dilakukan oleh perangkat Gampong dan di SK-kan oleh Keuchik Gampong setempat.

Meurutnya, jika kader itu sudah terpilih, nantinya Dinas Kesehatan (Dinkes) melalui seksi promosi kesehatan dan Puskesmas daerah setempat melakukan pembinaan kepada para kader posyandu tersebut.

“Dalam proses pembinaan itu juga ikut terlibat beberapa unsur stakeholder pemerintahan. Memang saat ini para kader posyandu itu tidak diberikan gaji. Namun, melalui kesepakatan Gampong, para kader itu nantinya diberikan insentif. Tapi dia tergantung kesepakatan. Dia tiap Gampong beda-beda,” kata Samsul.

Dia merincikan, setiap posyandu harus memiliki lima orang kader, hal itu diperlukan agar mendapat kriteria sebagai posyandu aktif. Kriteria tersebut bisa dicapai jika posyandu tersebut, minimal buka 10 kali dalam setahun.

“Memiliki lima kader, cakupan minimal 50 persen dari sasaran posyandu mendapatkan pelayanan KIA, KB, Gizi dan imunisasi, serta memiliki alat pemantauan dan melakukan kegiatan pengembangan,” tuturnya.

Dia menyebutkan, bidan desa, petugas Puskesmas di seluruh kabupaten itu tidak bosan-bosan mengajak masyarakat agar mengikuti posyandu. “Sebab, di posyandu anak-anak dan bumil dapat dipantau kesehatan guna mencegah anak yang lahir nanti stunting. Itu harus segera kita deteksi,” katanya.

Stunting penyebab utamanya ia adanya permasalahan asupan gizi dari kecil. Karena balita dipantau kesehatannya sejak nol hari kehidupan. Hal itu pula yang harus menjadi atensi bagi masyarakat untuk rutin melakukan pengecekan di posyandu.

“Sebab dia, kalau anak hari ini gizinya bagus, bulan depan belum tentu bagus. Jadi dia lama prosesnya. Karena saat ada masyarakat yang ekonominya lemah, kita harus melakukan pemantauan kepada calon bumil oleh bidan desa,” ungkapnya.

Di posyandu sendiri, lanjut Samsul, ada lima meja pelayanan, yakni pendaftaran balita, ibu hamil, ibu menyusui, penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan, pencatatan hasil penimbangan dan pengukuran tinggi badan, penyuluhan dan pelayanan gizi bagi ibu balita, ibu hamil dan ibu menyusui, serta pelayanan kesehatan KB dan imunisasi.

Ia mengatakan, dengan masyarakat mengikuti posyandu, pihaknya dapat melakukan pengecekan rutin kepada masyarakat. Hal itu tak lain demi mencegah anak dari stunting dan gizi buruk. Jika cepat ditemukan, cepat pula dilakukan tindakan.

|ADVERTORIAL

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

24.500 UMKM Rusak Karena Banjir Aceh Timur, Berharap Stimulus dari Pemerintah

IDI RAYEUK- Sebanyak 24.500 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)...

Derita Anak Penyintas Banjir Tamiang, Ribuan Belum Miliki Seragam dan Alat sekolah

KUALA SIMPANG - Ribuan pelajar Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi...

Bupati Al-Farlaky Minta Camat dan Geuchik Uji Publik Ulang Data Penerima Bantuan Rumah BNPB

Aceh Timur — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky,...

Kebangkitan Wisata Aceh Tengah Masih Terkendala, Ini Harapan Pelaku Bisnis

Takengon — Kebangkitan sektor pariwisata di Aceh Tengah pasca...

2 Jembatan Amblas Penghubung Antar Kecamatan Aceh Utara Belum Diperbaiki

LHOKSUKON - Sebanyak dua jembatan yang amblas karena banjir...