JEJAK tradisi meugang di Aceh dimulai sejak tahun 1907 saat Sultan Iskandar Muda memipin Kerajaan Aceh Darussalam. Meugang adalah tradisi memasak daging sehari sebelum Ramadhan, sebelum Idul Fitri, dan sebelum Idul Adha. Praktis tiga kali dalam setahun tradisi ini dilakukan masyarakat Aceh.
Waringan Sultan Iskandar Muda itu masih bertahan hingga generasi milineal kini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI memasukan meugang menjadi warisan budaya tak benda sejak tahun 2016.
Prof Ali Hasyimi dalam bukunya menyebutkan Sultan membagikan daging untuk yatim dan duafa dalam jumlah besar. Seluruh biaya dikeluarkan ditanggung oleh bendahara istana.
Denys Lombard sejarawan asing menyebut, pada hari meugang, Sultan juga menzirahi makam sultan sebelumnya yang telah meninggal dunia.
Tradisi meugang ini bertahan hingga kerajaan Aceh runtuh. Ketika Belanda berhasil menaklukan Aceh, sebut Denys, tradisi meugang masih dipertahankan. Hanya saja, pembagian daging meugang dilakukan bukan oleh pejabat Belanda. Namun oleh Ulee Balang yang bersekutu dengan Belanda untuk rakyat.
Setelah merdeka pun dan hingga kini, meugang masih abadi. Kebutuhan daging melambung tinggi saat tradisi itu terjadi.
Dampaknya, harga daging sapi meninggi seiring permintaan masyarakat yang bertambah pada hari meugang. Saat ini, harga daging di pasar tradisional Kota Lhokseumawe Rp 170.000-Rp 200.000 per kilogram.
Salah seorang pedagang daging di Pasar Inpres Kota Lhokseumawe, Maimunsyah, menyebutkan untuk kali ini, dia berjualan tiga hari berturut-turut.
Lazimnya, masyarakat Aceh memulai tradisi meugang dua hari sebelum Ramadhan, ini disebut meugang kecil, sedangkan meugang besar sehari sebelum Ramadhan.
“Karena kali ini tidak ada kesamaan penepatan 1 Ramadhan di Indonesia, maka jadi tiga hari meugang,” katanya, Sabtu (2/4/2022).
Ya, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada 2 April 2022, sedangkan Kementerian Agama RI menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada 3 April 2022. Dalam pandangan Islam, perbedaan penetapan 1 Ramadhan sesuatu yang lumrah terjadi.
“Kali ini, minat masyarakat beli daging masih tinggi. Karena ini tradisi, malu jika tidak konsumsi daging saat meugang. Maka, meski ekonomi sedang sulit, masyarakat tetap membeli daging dan kami tetap untung,” sebut Maimunsyah.
Lalu apa kata generasi milineal Aceh? Rizkita, menyebutkan keluarganya turun temurun masih menerapkan tradisi meugang.
“Ini tidak ada urusan dengan modernisasi. Ini tradisi. Kami sampai sekarang masih membeli daging sampai sekarang saat meugang,” terangnya.
Nah, warisan Sultan Iskandar Muda itu masih bertahan hingga zaman berbasis artificial inteligen. Akan selalu abadi. Di bumi Serambi Mekkah.
|KOMPAS

Subscribe to my channel

