Terhubung dengan kami

Mengantar Barang dengan Senyuman  ke Seluruh Nusantara

News

Mengantar Barang dengan Senyuman  ke Seluruh Nusantara

HARI itu, jam menunjukan pukul 14.00 WIB, Selasa (8/12/2020). Misna (18), sedang duduk di depan layar komputer di Kantor Agen Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Lhokseumawe, Jalan Tgk Chik Ditiro, Desa Lancang Garam, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Udara sejuk meruap begitu pintu kaca kantor itu terbuka. Lokasi ini hanya buat menerima barang untuk dikirim seluruh nusantara. Dua kursi berada di depan meja pelayanan untuk para konsumen pengirim barang.

Bangunan bercat biru tua khas JNE itu terlihat mencolok. Karena berada di pusat kota, berlantai dua. Di sisi kanan tertulis sejumlah poin barang yang tidak dibenarkan untuk dikirim seperti narkotika dan obat terlarang (Narkoba) dan lain sebagainya.

Di atas meja, sebuah timbangan manual terletak. Di sampingnya ada timbangan digital, untuk menimbang berat barang yang dikirim konsumen.

Warga mengirim paket lewat Agen JNE Lhokseumawe, Selasa (8/12/2020). BAKATA | MASRIADI

Sejurus kemudian, seorang ibu rumah tangga, Rahmi (40) warga Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe memarkirkan sepeda motor persis di depan kantor itu. Turun dari motor dan jalan tergesa-gesa. Mendorong pintu.

Derit pintu kaca itu setengah dibanding. Wanita ini panik, dalam portal pengecekan data pengiriman barang jne.co.id, barang dilaporkan sudah tiba di Lhokseumawe namun dikirim ulang ke Banda Aceh, Provinsi Aceh.

“Barang saya sudah tiba di Lhokseumawe. Itu sudah ditunggu pembeli. Ini dilaporkan kembali ke Banda Aceh, ini saya lihat di aplikasi,” kata Rahmi mengibas hijab warna biru dongker ke belakang.

LIHAT VIDEO : Layanan JNE Lhokseumawe

Nafasnya memburu. Tak beraturan. Tampak dia sangat tergesa-gesa.

Misna tersenyum. Dia menjelaskan apa yang terjadi. “Itu sudah tiba barangnya di Lhokseumawe. Dalam sistem tertulis kembali ke Banda Aceh itu artinya bukan dikembalikan ke Banda Aceh. Kita di Aceh ini masuk ke area Banda Aceh. Artinya barang sudah ditempat,” kata Misna.

“Jangan potong saya bicara dulu. Ini resinya. Tolong dicek,” kata Rahmi dengan suara tinggi.

Lalu, Misna menjelaskan bahwa barang sudah tiba dan silakan diambil di kantor JNE Cabang Cunda, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Suaranya rendah dan santai. Tidak panik apalagi merespon dengan suara tinggi pula.

Mendengar penjelasan itu, senyum membuncah di wajah Rahmi. Kerut wajahnya mengendur drastis. Lalu berangkat untuk mengambil paketnya.

“Sebenarnya ndak perlu panik. Pasti ditelepon oleh delivery (pengantar barang). Hanya saja, ibu itu mungkin tidak menjawab telepon dan tidak membaca pesan. Langsung lihat aplikasi dan panik,” kata gadis yang sudah tiga tahun bekerja di Agen JNE Lhokseumawe itu.

Sebaliknya Rahmi tersenyum malu melihat kepanikannya sendiri. “Saya jualan online. Beli barang dari Pulau Jawa buat dijual lagi, seperti baju dan sepatu anak-anak. Sebagian saya kirim ke sejumlah kabupaten di Aceh. Masalahnya satu barang ini sudah ditunggu pembeli di rumah, makanya saya panik begitu diaplikasinya tertulis Banda Aceh,” katanya.

Infografis 30 Tahun JNE di Indonesia BAKATA | MASRIADI

Sebelum meninggalkan lokasi itu, Rahmi meminta maaf atas sikapnya. Setengah membentang dan membanting pintu. Misna hanya mengangguk dan tersenyum ramah. Bahkan sangat ramah termasuk mengantar Rahmi ke pinggir jalan tempat sepeda motornya di parkir.

Lain Rahmi, lain pula cerita Muammar, warga Desa Blang Bayu, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara. Kolektor mobil tua ini selalu memesan barang lewat pemesanan online.

Misal, power steering, dipesan dari Batam. “Itu menggunakan jasa pengiriman JNE. Jadi, tinggal lihat lewat sejumlah toko online, lalu pesan dan minta mereka kirim lewat JNE. Agar pasti barangnya sampai,” kata pria paruh baya ini.

Pilihan membeli barang dari luar Aceh karena sejumlah bengkel di Lhokseumawe tidak tersedia barang itu.

“Apalagi lebih murah juga. Setelah harga barang plus ongkos kirim masih lebih murah. Maka beli lewat online saja,” katanya.

Untuk mengecek barang, Muammar memilih sejumlah aplikasi semisal cekresi.com. “Jadi lebih mudah. Tinggal kita cek saja barang sudah sampai mana, hanya tekan nomor resi ke aplikasi itu maka akan terlihat alur pengiriman barang,” katanya.

Dia menggunakan jasa pengiriman JNE sejak delapan tahun terakhir. Sejak hobi mengoleksi mobil tua, sejak itu pula dia berburu onderdil secara digital.

“Kurirnya JNE itu juga mudah. Kalau mereka telepon kita lagi di warung kopi, kita minta antar ke warung pun, mereka tetap mau antar,” terangnya.

Dia mengapresiasi sikap ramah para pekerja JNE yang mau mengantar barang dimana pun penerima. “Mereka kerja ikhlas. Saya bersyukur dilayani begitu. Karena sudah langganan nyaris semua pekerja JNE itu saya kenal,” sebutnya.

***

 Jasa pengiriman barang JNE belasan tahun melayani masyarakat Lhokseumawe. Dari kota yang dulu dijuluki petro dollar itu, sejumlah barang dikirimkan ke seluruh pelosok nusantara.

Warga mengirim paket lewat Agen JNE Lhokseumawe, Selasa (8/12/2020). BAKATA | MASRIADI

Saat ini, tim antar barang sebanyak tujuh orang. Mereka seluruhnya karyawan JNE. Bekerja sejak 2013 lalu hingga kini.

Senyum menjadi andalan para pekerja menghadapi masyarakat pengguna jasa. Di Kantor Cabang JNE Lhokseumawe, di Jalan Medan-Banda Aceh, Cunda, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, dua pekerja berada di depan.  Mereka Yani dan Arif menyambut kedatangan seluruh masyarakat. Sebagian mengambil barang yang sudah tiba. Sebagian lagi mengirim barang.

Di sisi kiri kantor terdapat tumpukan barang yang akan diantar ke konsumen. Barang itu tertata rapi. Sudah dikelompok sesuai rute jalan, semisal arah timur Kota Lhokseumawe. Sehingga sekalian diantar untuk alamat penerima rute yang sama.

Senyum selalu menghias wajah mereka. “Prinsip kami sederhana, mereka itu mengeluarkan uang buat kirim barang. La, barangnya ditanya apa sudah sampai atau belum, itu saja. Masak iya, kita harus merengut, mereka keluar duit buat jasa kita,” kata Yani filosofis.

Dua pekerja itu pun sibuk dengan urusannya masing-masing. Welly, supervisor JNE Lhokseumawe menyebutkan, selama ini mereka bekerjasama dengan sejumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) untuk pengiriman barang. Barang itu akan diterima di kantor Lhokseumawe, seterusnya dikirim ke Banda Aceh baru ke seluruh penjuru tanah air.

“Dalam sehari kami kirim minimal itu 20 paket, berbagai ukuran,” terang Welly. Era digital, sambung Welly, bisnis jual-beli online tumbuh subur. Bisnis ini juga tak terpengaruh pandemi virus Covid-19 yang melanda Indonesia.

“Banyak online shop itu yang menggunakan JNE. Masyarakat mau kepastian sampai barangnya dan mudah ngecek, barangnya sudah sampai dimana. Aplikasi milik JNE lewat website bisa mengecek itu,” sebut pria berambut ikal ini.

Itu pula yang membuat JNE menurut Welly menjadi mitra pengusaha kecil dan menengah di Lhokseumawe.

Sektor kerajinan tas Aceh, hingga bubuk kopi Gayo, menjadi industri paling banyak yang menggunakan jasa JNE. “Kami yakin semakin mudah mengirim barang, semakin banyak bisnis jual-beli dari Aceh ke seluruh Indonesia,” sebutnya.

Sampai Rumah

Untuk memastikan barang sampai tujuan, Welly menyebut butuh waktu tiga hari. Misalnya, barang tiba di Lhokseumawe, maka dipastikan akan diantar ke alamat tujuan dalam tempo tiga hari.

“Selama tiga hari itu, petugas mengantar barang akan berusaha mengantarnya. Kadang diantar hari pertama, orangnya tidak di rumah. Pintunya kunci, ditelepon enggak aktif. Maka, itu akan dicoba terus sampai tiga hari, barang harus sampai di tangan pemiliknya,” kata Welly.

Namun, jika tiga hari tidak juga terhubung dengan pemilik barang, di sistem JNE akan ditulis barang disimpan di kantor cabang terdekat. Informasi itu akan dikirim pada pengirim barang. Sehingga pengirim barang akan memberitahu penerima untuk mendatangi kantor JNE terdekat.

“Sejauh ini tidak ada yang sampai tiga hari. Satu hari biasanya sudah terhubung dan barang sudah ditangan,” katanya.

Namun, untuk alamat tujuan seperti kantor pemerintah dan swasta, maka sangat tergantung hari libur. “Misal barangnya tiba di kantor JNE Lhokseumawe hari Jumat. Itu kita baru antar Senin, karena Sabtu dan Minggu hari libur,” katanya.

Itu cerita buat proses mengantar barang. Buat pengiriman, sambung Welly, dibutuhkan waktu sekitar dua atau tiga hari baru tiba ke lokasi tujuan.

“Misalnya dikirim ke Papua dari Lhokseumawe. Itu butuh waktu sekitar dua atau tiga hari sudah tiba di kantor cabang JNE Papua. Lalu diantar ke alamatnya,” katanya.

Warga mengirim paket lewat Agen JNE Lhokseumawe, Selasa (8/12/2020). BAKATA | MASRIADI

Digitalisasi Jasa Pengiriman

Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Malikussaleh (FEB-Unimal), Aceh Utara, Halida Bahri, menyebutkan jasa pengiriman barang terus tumbuh dari waktu ke waktu.

Jasa pengiriman barang itu akan mendorong suatu daerah untuk maju dari sisi penjualan produk kerajinan dan pertanian. Apalagi, era digital membuat layanan bisnis online semakin pesat.

“Tinggal lagi, bagaimana pemerintah mendorong agar pengusaha pengiriman barang seperti JNE itu untuk bekerjasama dengan pengrajin, UMKM, dan bisnis kecil lainnya. Bisnis UMKM ini terbukti tahan ditengah krisis moneter 1998 dan ditengah pandemi corona sekarang ini,” kata dosen pengajar ilmu manajemen dan perilaku konsumen, Halida Bahri.

Dia menyebutkan, JNE sejauh ini menyesuaikan diri dengan produk digital dan seluruh jenis angkutan. Sehingga, JNE masih tampil terdepan sebagai bisnis pengiriman barang di tanah air.

“Mereka (JNE) punya layanan basis digital. Era internet ini, terjadi perubahan perilaku konsumen, dimana mereka ingin mudah. Semuanya harus bisa diakses lewat aplikasi, dan JNE menyiapkan aplikasi itu, maka dia unggul dibanding perusahaan sejenis lainnya,” terangnya.

Prinsip lain, sambung Halida Bahri, bisnis jasa harus manusiawi. Mengedepankan sisi kemanusiaan dan santun dalam pelayanan.

“Bisnis jasa itu bisnis kepuasan konsumen. Kalau mereka puas, mereka tidak akan bergeser ke perusahaan kompetitor lainnya. Maka, saya selalu ingatkan perusahaan itu harus manusiawi, jangan senyum saja tidak mau,” katanya.

Padahal, senyum dan keramahan tidak membutuhkan biaya dalam bentuk uang. “Namun itu sikap mental untuk melayani. Karakter pekerja harus melayani,” katanya.

Dia mendorong ke depan pengusaha angkutan barang seperti JNE bekerjasama dengan UMKM secara resmi. Sehingga, UMKM di Indonesia memiliki sektor pengiriman yang unggul.

“Aceh ini banyak kerajinan. Kadang itu kendala pasar. Maka, kalau ada kerjasama antar pelaku usaha dengan JNE, itu suatu bentuk kepastian untuk pembeli. Ini idealnya diformalkan, dan pemerintah harus ikut serta didalamnya,” katanya.

Bagi Halida, digitalisasi harus disosialisasikan pada masyarakat. Sehingga, masyarakat paham dan melek teknologi. Pada akhirnya, bisnis pengiriman barang semakin memudahkan masyarakat.

“Dalam cakupan lebih luas, ini bisnis yang membawa nama baik Indonesia. Menghantarkan barang ke seluruh dunia. Itu juga misi mulia,” pungkasnya.

|MASRIADI

 

 

Baca selengkapnya
Rekomendasi...

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Ke Atas