BANDA ACEH– Penangan virus corona atau Covid-19 di Provinsi Aceh harus evaluasi kembali, karena belum semua desa di daerah yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah itu, melakukan penanganan secara komprehensif.
Pengamat Kebijakan Publik Aceh Nasrul Zaman mengatakan, apabilan keadaan seperti saat sekarang ini, maka akan terjadi ledakan pasien yang positif terinfeksi virus yang berasal dari Wuhan, China tersebut.
“Begitu juga dengan puskesmas yang ada di Aceh, belum melakukan pemantauan dengan baik terhadap pasien yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP), tentunya ini disebabkan oleh berbagai faktor,” ujar Nasrul Zaman, Kamis, 30 April 2020, saat dihubungi melalui telepon seluler.
Nasrul Zaman menambahkan, seharusnya apabila ada orang yang pulang dari luar kota ke desa masing-masing, harusnya kepala desa melaporkan ke puskesmas dan puskesmas lah yang memantau bagaimana kondisi kesehatan orang tersebut.
Apabila dilihat dari kenyataan saat sekarang ini, dari 8.000-an total seluruh desa di Aceh, hanya 10 persen saja yang melakukan pencegahan corona secara komprehensif dan tentunya hal tersebut menjadi persoalan.
“Pengawasan puskesmas pun masih belum efektif, persoalannya masing persoalan klasik, yaitu karena Alat Pelindung Diri (APD) yang tidak memadai, jumlah sumber daya yang terbatas,” tutur Nasrul.
Tambahnya, hal kecil saja, misalkan anggaran untuk memeriksa kesehatan pasien ODP dikediamannya masing-masing apa ada ditanggung oleh pemerintah dan biaya untuk menelpon pasien ODP dalam setiap harinya.
Hal yang membuat miris, sejumlah biaya yang anggarkan untuk penanganan corona, belum lagi diperuntukkan untuk sektor-sektor tersebut, agar bisa menunjang efektivitas kerja petugas kesehatan di puskesmas.
“Begitu juga Biaya jalan petugas puskesmas untuk memantau pasien ODP dalam setiap harinya ada tidak ditanggung, apalagi untuk mewawancari bagaimana kondisinya, melakukan diagnosa dan itu tidak ada ditanggung,” kata Nasrul Zaman.
|RIL

Subscribe to my channel

