ACEH UTARA | Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Aceh Utara, Qusthalani, kepada wartawan di Lhokseumawe, Siang ini menyatakan, untuk proses belajar secara daring bagi siswa itu terkendalanya dengan jaringan internet ada yang tidak terjangkau, sehingga agak sulit mengakses kelas-kelas digital yang dibuka. Namun demikian, upaya lain yang diberikan untuk para siswa itu pihaknya juga memberikan tugas mingguan yang dikumpulkan dalam waktu tertentu.
“Jadi, para siswa bisa mengerjakan kapan saja tanpa dibatasi waktu harian dan mereka boleh mencari jaringan internet, sehingga dalam waktu seminggu itu tugasnya harus dikumpulkan. Kalau bagi siswa di daerah pedalaman (Aceh Utara) itu paling hanya 30 persen yang belajar secara online, tapi diperkotaan tentu tidak ada masalah karena mudah terjangkau jaringan internet,” kata Qusthalani.
Beberapa guru sambung Qust, masih kesulitan, karena rata-rata mereka itu guru-guru yang hampir pensiun dan sudah senior, untuk berbicara via internet itu terkadang mereka masih harus belajar lagi. Jadi, ketika instruksi proses belajar daring ini sehingga mereka harus belajar dulu bagaimana pembelajaran daring apakah menggunakan kelas digital atau berupa lainnya.
“Setelah para guru belajar berkenaan itu, maka baru mereka bisa mengimplementasikan untuk siswa, itu kendalanya bagi guru. Kalau saya melihat untuk daerah kita sendiri masih kurang efektif (belajar daring), karena kendala-kendala tersebut. Tetapi kalau kendala itu bisa diminimalisir mungkin itu akan lebih bagus lagi,” ungkap Qusthalani.
|MU

Subscribe to my channel

