WisataKini Mendunia, Ini Awal Mula Kisah Tas Aceh ....

Kini Mendunia, Ini Awal Mula Kisah Tas Aceh ….

ZAINABON (71) warga Desa Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, terlihat lebih rileks. Pengrajin tas ini berpuluh tahun menghabiskan hidupnya dengan benang dan kain. Mengubah menjadi tas aneka warna, beragam ukuran, multifungsi. Seluruhnya bermotif Aceh.

Mulai motif rencong, pinto Aceh dan lain sebagainya. Bagi wanita yang lahir tahun 1949 itu, kerajinan itu bukan sebatas usaha. Bukan sekadar bisnis untuk menghidupi keluarga. Namun, usaha itu turun temurun. Sejak ibu dan neneknya.

Kenangan Zainabon melambung ke puluhan tahun silam. Dulu, kata nenek ini, kerajinan bordir masih sebatas untuk kupiah dan sajadah. Lalu berkembang menjadi tas.

“Awalnya hanya kupiah dan sajadah saja. Belakangan baru ke model tas,” katanya, Kamis (28/2/2020).

Maka munculah variant as, mulai dari tas jinjing, dompet, ransel, dan koper. Terkini, Usaha puluhan tahun masyarakat Ulee Madon pernah mendapat apresiasi dari Ketua Dekranasda Aceh, Hj Niazah A Hamid beberapa tahun lalu. Saat itu, istri Niazah sebagai istri gubernur Aceh, Zaini Abdullah memberikan predikat desa kerajinan terbaik se-Aceh untuk desa tersebut.

“Kalau saya awalnya buat sajadah. Lalu saya jual ke pasari di  Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Saat itu, tikar sajadah dari ayaman pandan, tapi pembeli meminta dengan harga murah,” sebutnya.

Lalu Dinas Industri Kabupaten Aceh Utara memesan 20 sajadah untuk dibawa ke festival kerajinan di Banda Aceh. Medio tahun 1980an, Zainabon pun mengajak masyarakat untuk menganyam sajadah itu.

 “Saat itu waktu diberikan sangat singkat, lalu saya mengajak warga untuk membantunya mengayam tikar pesanan itu,”katanya.

Pada tahun yang sama, Pemerintah Aceh mengirimnya untuk mengikuti festival di Tasikmalaya, Jawa Barat. Dari sana, Zainabon banyak belajar. Sebulan penuh menimba ilmu bordir dengan segala macam kerumitannya.

Sepulang dari Tasikmalaya, dia mulai mengembangkan tas motif Aceh yang dikenal luas hingga ke mancanegara saat ini.

Tas semakin populer setelah tsunami melanda Aceh 2004 silam. Beragam bule yang membantu rehab dan rekon Aceh menyukai ta situ. Dari sana pula, ta situ semakin dikenal luas ke mancanegara.

Ratusan Pengrajin

Seiring waktu, kerajinan ini terus berkembang. Setidaknya 17 unit usaha kini berada di desa itu. Tak kurang 500 pengrajin terampil selalu menghasilkan beragam tas.

Salah seorang Pengrajin, Maryana, menyebutkan mulai bisnis kerajinan itu tahun 2006. Hingga kini, 50 pekerja berada di unit usaha miliknya.

Dulu, dia memulai dengan bermodal Rp 500.000. Plus tiga pekerja. Kini, usaha itu semakin berkembang. Tak kurang dia meraup omset Rp 150 juta per bulan.

Dalam sehari, Maryana mengaku bisa memproduksi 150 tas. Pesanan itu bahkan tembus ke pasar internasional, seperti Kanada, Amerika Serikat, Malaysia, Spanyol dan sejumlah negara di Asia Tenggara.

Untuk bahas baku, dia mengaku impor dari China. Kini, Maryana sadar, pengetahuan bisnisnya bukan sebatas miliknya. Tas Aceh makin mendunia. Maka, dia pun beberapa kali memberikan pelatihan untuk pengrajin di Aceh Utara.

Kepala Desa Ulee Madon, Tgk Salahuddin AB KOMPAS| MASRIADI

Kepala Desa  Ulee Madon, Tgk Salahuddin AB mengapresiasi seluruh pengrajin di desanya. Dia tak henti-hentinya mengajak seluruh lembaga keuangan, lembaga sosial, dan pemerintah untuk bekerjasama dengan pengrajin desa itu.

Harapannya, pengrajin semakin sejahtera. Mengurai angka pengangguran dan mengurai masalah sosial yang ditimbulkan pengangguran.

Dia menyebutkan, Bandabags salah satu toko online bahkan menjual tas ke Amerika Serikat. “Sekarang sudah banyak super market juga menjual tas Aceh. Bisa kita lihat mulai dari supermarket di Lhoksuemawe, Jakarta, Medan, Bandung. Itu menandakan, tas ini bukan sebatas karya khas Aceh, namun juga keren untuk segala usia,” katanya berpromosi.

Badan usaha desa, Ulmajaya sambungnya juga menjual tas Aceh itu. Untuk merk dan hak paten, umumnya belum diurus ke Kantor Kementerian Hukum dan HAM. Ini pula yang diharapkan Salahuddin menjadi perhatian pemerintah.

“Soal merk dan hak paten masing personal sekali. Kita harap, ini bisa dibantu pemerintah untuk urusan hak paten ini,” katanya.

Kini, Ulee Madon terus menggeliat dengan kerajinannya. Asa mereka melambung agar terus berkembang. Tinggal butuh sentuhan pemerintah, agar bisnis rumahan itu bukan hanya dikenal karena usaha mereka sendiri. Namun dikenal lebih luas dari tangan pemerintah.

|KCM

Bagikan Postingan

Postingan Terpopuler

Pilihan Untukmu

Murid Jatuh Menyeberang Rakit, Disdik Aceh Utara ; Berlakukan Kurikulum Darurat, Keselamatan Murid Paling Utama

LHOKSUKON– Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi...

Bupati Al- Farlaky Kukuhkan Pengurus DPC APDESI Aceh Timur 2026-2031

ACEH TIMUR — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky,...

Menempati Hunian Alakadar di Aceh Utara…

LHOKSUKON – Sejumlah penyintas banjir duduk di dalam hunian...

Para Kepala Desa Desak Pembangunan Huntap di Aceh Utara

Keuchik (Kepala Desa) Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh...

PNL Perluas Kemitraan Internasional melalui Kolaborasi Strategis dengan Industri dan Institusi Pendidikan di Malaysia

MALAYSIA - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) terus memperkuat peran...