Categories: Sosok

Cerita Tina dan Revolusi Kecilnya

SULIT untuk menghapuskan kesan yang satu itu. Ada semangat yang tak lekas berakhir ketika seorang ibu melancarkan revolusi kecil-kecilan di sebuah kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia Dra. Tina Hastani MM, camat di Kabupaten Sleman.

Dia memang bukan politikus yang di tahun politik mendapat tempat istimewa di panggung nasional negeri ini. Tapi lihatlah, bagaimana perempuan yang kemudian biasa dipanggil Bu Tina itu berkarya di dunia nyata: mengobarkan perang melawan demam berdarah. Masyarakat yang semula menyamakan pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan fogging kini berangsur-angsur sadar dan menemukan cara yang tepat buat membasmi nyamuk pembawa virus itu, yakni dengan memutus siklus hidup sang nyamuk.

BACA JUGA : Hunggul dan Tekadnya Menerangi Masyarakat di Hutan

Tina Hastani, dialah “dirigen” yang mengajak segenap unsur masyarakat – termasuk Muspida dan seluruh instansi se-kecamatan dan pemerintahan desa – membangun lingkungan bersih dalam gerakan yang dinamakannya Gentong Banyu (Gerakan Gotong Royong dan Pemberantasan Sarang Nyamuk). Tidak berhenti sampai di situ, Bu Tina pun membentuk pasukan anak-anak yang senantiasa memantau jentik ke seluruh pelosok. Gerakan yang satu ini disebut Gelatik (Gerakan Melawan Jentik).

Menduduki posisi Sekretaris Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman, sekarang Bu Tina bukan lagi seorang camat. Namun program Gentong Bayu yang dilancarkannya terus berjalan. Ya, inilah Tina Hastani yang pandai menggunakan jembatan keledai, seraya menerbitkan pelbagai istilah baru yang membuat orang tak mudah lupa – seperti Gentong Banyu, Gelatik, Gerbank Asa, Gemar Mengaji dan banyak lagi – serta menggerakkan semua elemen masyarakat.

Ratu program 

Siapa sih sebenarnya Bu Tina ini? Dia Aparatur Sipil Negara (ASN), istri seorang insinyur yang juga letnan kolonel Angakatan Darat, dan ibu seorang anak lelaki. Ketika di wisuda sebagai sarjana S-1 dari Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dia tercatat sebagai mahasiswa angkatan 1988 yang paling cepat lulus. Dia kemudian meraih predikat cumlaude saat menyelesaikan S-2  dari UPN Veteran Yogyakarta, dan merupakan juara pertama saat mengikuti diklat camat dari Kementerian Dalam Negeri.

Sejak itu bergulirlah beraneka program yang efektif, namun namanya memancing senyum. Berkerjasama dengan KWT (Kelompok Wanita Tani) Seruni dan Puskesmas, dia menyalurkan hasratnya untuk memenuhi gizi anak balita di Kabupaten Sleman dalam program Aku Butuh Gizi – disingkat ABG. Bahkan untuk memberikan semangat kepada pelaku PAUD dan memudahkan komunikasi dengan anak-anak itu, Bu Tina tidak cuma meluncurkan program Bercanda (Bermain belajar bersama Camat dan Bunda), dia juga menciptakan lagu sederhana dengan judul “Bercanda”. Pada kesempatan lain tapi dengan niat yang sama, Bu Tina juga mengkomposisi lagu berjudul “Pasukan Gelatik,” sebuah lagu mars yang mengiringi anak-anak anggota Pasukan Gelatik mendeteksi dan membasmi jentik di lingkungan sekolah dan rumah.

Bu Tina selalu melibatkan diri secara total dalam setiap program. Perhatiannya kepada anak anak, keahliannya dalam membangun tim yang kompak, kepeduliannya terhadap kaum difabel, kesungguh-sungguhannya mengurangi kemiskinan, kegigihannya melawan kekerasan terhadap anak, kemampuannya membangun sistem dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat, kerukunan umat beragam di wilayahnya serta menggerakkan masyarakat, semua ini terbilang inspiratif.

Menyimpulkan apa yang selama ini telah dicapainya, Bu Tina dengan tenang menyetir motivasi yang selama ini telah disampaikannya kepada koleganya sesama ASN. “Ayo semangat! Kita halalkan gaji kita dan memandang prestasi adalah bentuk pertanggungjawaban dari amanah yang di terima,” katanya. Tentu saja, pandangan Bu Tina yang mengaitkan amanah dengan tanggung jawab kerja secara tak langsung merupakan lecutan terhadap stereotip pola kerja pegawai negeri yang santai, tak memasang target tinggi. Tanpa ampun, Bu Tina menganggap pola kerja santai itu perlu “dihalalkan” dengan prestasi yang bagus. Tak usah menunggu datangnya bantuan pemerintah, dunia tempat kita berpijak bisa berubah jika semua orang memainkan perannya dengan baik.

Beda kultur

Tina Hastani yang asli Yogyakarta diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil pada tahun 1996 di Balikpapan, Kalimantan Timur. Karirnya cukup bagus dan menduduki eselon IV pada tahun 2001 dengan jabatan Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Baru Tengah yang sehari-hari langsung berhubungan dengan masyarakat.

Pada tahun 2001, ia harus pindah ke Yogyakarta, mengikuti tugas suami. Jadilah ia kembali sebagai staf karena status titipan. “Saya kembali merintis dari awal sebagai staf kecamatan,” ujarnya. Karena keuletan dan integritas yang ada pada dirinya, dengan singkat karirnya terus menanjak, mulai dari Kepala Seksi Perkonomian Pembangunan, kemudian naik menjadi Sekretaris Kecamatan  Sleman dan kemudian dipindahkan menjadi Sekretaris Kecamatan Berbah. Di Berbah inilah Tina kemudian diangkat menjadi Camat pada tahun 2013, kemduian dipindah menjadi Camat Kecamatan Klasan pada tahun 2017, dan menjadi Sekretaris Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman, sejak  Maret tahun 2018.

Pernah bekerja di Balikpapan dan kemudian pindah ke Sleman yang secara kultur masyarakatnya berbeda tidak menyulitkan Tina beradaptasi dengan masyarakat dan rekan kerja. “Berbeda kultur iya, tapi semuanya baik, tergantung cara kita berhadapan dengan mereka,” kata Tina. Ia mengaku tidak pernah melihat seseorang berdasarkan sukunya dan itu bisa diterima dengan baik.

Sebagai orang Jawa pedalaman, wilayah kerja di Balikpapan terasa baru bagi Tina. Di sana ada pelabuhan, sementara di Sleman tidak ada, ini berbeda sekali,” ujarnya.

Kunci pendekatan Tina kepada masyarakat adalah dengan membangun kepercayaan mereka kepada pemerintah. “Kita menumbuhkan kepercayaan mereka terlebih dahulu, setelah itu baru bisa bekerjasama dengan baik,” katanya.

Ketika ada masalah atau gesekan yang terjadi di satu wilayah, Tina mengumpulkan semua stakeholder, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda  dan lain-lain. “Mereka kita ajak bersepakat mencari jalan keluar. Masukan-masukan dari mereka saya tampung dan ditindaklanjuti. Semua akhirnya bisa satu kata, satu komitmen,” tuturnya menjelaskan.

Kepiawaian Tina mengelola pemerintah berbuah penghargaan. Selama menjadi camat, setiap tahun ia meraih Juara Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Kecamatan. Prestasi lain di tingkat Kabupaten Sleman, ia menjadi Juara Tim Penanggulangan Kemiskinan Award (2014-2017), Juara Kecamatan Layak Anak (2015-2017), Juara Penyelenggaraan Pemerintahan Kecamatan Terbaik (2014, 2015, dan  2017) dan Juara 1 Bunda PAUD Berprestasi (2015).

Untuk tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Tina meraih Juara 1 Bunda PAUD Berprestasi (2015), Anugerah Prestasi dari Gubernur (2016) dan penghargaan Teknorat Pejuang Perempuan dari masyarakat pemerhati perempuan dan anak.

Sementara di tingkat nasional Tina Juara 1 Diklatapim 3 (2012), Juara 1 Diklat Camat oleh Kemendagri (2014), Juara 2 Bunda PAUD Berprestasi (2015) oleh Kemendikbud, Bunda PAUD Teladan (2016), Rekor Dunia MURI dan Deklarasi Kecamatan Layak Anak. |Suwardi

Bagikan Postingan
Redaksi

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Recent Posts

Pertamina Patra Niaga Sumbagut Perkuat Sinergi dengan Polda Riau dalam Menjaga Ketahanan Energi

Pekanbaru – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) yang dipimpin oleh Executive General…

22 hours ago

24.500 UMKM Rusak Karena Banjir Aceh Timur, Berharap Stimulus dari Pemerintah

IDI RAYEUK- Sebanyak 24.500 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh…

3 days ago

Derita Anak Penyintas Banjir Tamiang, Ribuan Belum Miliki Seragam dan Alat sekolah

KUALA SIMPANG - Ribuan pelajar Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, belum memiliki seragam sekolah dan…

3 days ago

Bupati Al-Farlaky Minta Camat dan Geuchik Uji Publik Ulang Data Penerima Bantuan Rumah BNPB

Aceh Timur — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, meminta seluruh camat agar memerintahkan para…

4 days ago

Kebangkitan Wisata Aceh Tengah Masih Terkendala, Ini Harapan Pelaku Bisnis

Takengon — Kebangkitan sektor pariwisata di Aceh Tengah pasca bencana longsor dan banjir bandang hingga…

5 days ago

2 Jembatan Amblas Penghubung Antar Kecamatan Aceh Utara Belum Diperbaiki

LHOKSUKON - Sebanyak dua jembatan yang amblas karena banjir November 2025 lalu hingga hari ini,…

5 days ago

This website uses cookies.