LHOKSEUMAWE | Penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Lhokseumawe, menyebutkan jumlah korban pelecehan seksual yang dilakukan pimpinan pesantren dan guru di Lhokseumawe bertambah. Saat ini, sudah enam orang yang mengaku menjadi korban.
“Kemarin lima orang sudah kita mintai keterangan. Hari ini, ada satu orang lagi yang akan dimintai keterangan. Namun, sebelum dimintai keterangan dilakukan terapi oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PTP2A) Banda Aceh,” sebut Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe AKP Indra T Herlambang, lewat Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Ipda Lilis dihubungi per telepon, Senin (15/9/2019).
Dia menyebutkan, sebelumnya sudah teridentifikasi sebanyak 15 korban bahkan lebih. Namun, baru lima yang telah diperiksa. “Tambah satu yang sedang diterapi psikologis ini jadi enam,” katanya.
Selain itu, dia menyebutkan, saat ini mayoritas korban masih mengalami trauma berat. Sehingga diberikan pendampingan psikologis. Bentuk trauma itu, korban merasa minder bergaul dengan teman sebayanya.
“Trauma itu seperti korban minder, terus merasa diri kotor setelah mengalami pelecehan seksual itu dan malu. Itu yang didampingi tim PTP2A Banda Aceh,” kata Lilis.
Sebelumnya diberitakan AI dan MY ditangkap polisi atas dugaan pelecehan seksual terhadap santri di Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Keduanya ditahan di Mapolres Lhokseumawe. Sejauh ini polisi sudah mendeteksi 15 santri yang diduga menjadi korban, lima diantaranya telah dimintai keterangan. |KCM

Subscribe to my channel

