Asosiasi Psikologi Islam Wilayah Aceh menyelenggarakan Kajian Bulanan perdana dengan tema “Jiwa (Al-Nafs) dan Tahapan Perkembangan Manusia dalam Al-Qur’an”, pada Ahad (4/10/2026), secara daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan ini merupakan program kerja Divisi Bidang Kajian dan Keilmuan Asosiasi Psikologi Islam Wilayah Aceh yang direncanakan berlangsung secara rutin setiap bulan sebagai wadah pengembangan wawasan, diskusi akademik, dan penguatan kajian psikologi Islam di Aceh.
Kajian menghadirkan Dr. Miftahul Jannah, S.Ag., M.Si., dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang memiliki bidang keahlian Psikologi Perkembangan. Ia juga merupakan ketua Divisi Kajian dan Keilmuan Asosiasi Psikologi Islam (API) Wilayah Aceh. Ia menyelesaikan pendidikan magister Psikologi Perkembangan di Universitas Padjadjaran dan pendidikan doktoral pada School of Applied Psychology, Social, and Policy, Universiti Utara Malaysia.
Kegiatan dibuka oleh MC sekaligus moderator, Ella Suzanna, S.Psi., M.HSc., dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa oleh Galih Trisurya Nugraha, serta sambutan Ketua Umum API Wilayah Aceh, Hafnidar, S.Psi., M.Sc., Ph.D.
Kajian diikuti oleh dosen, mahasiswa, praktisi, serta pemerhati psikologi Islam dari berbagai wilayah di Aceh. Hadir pula unsur pengurus API Wilayah Aceh serta HIMPSI Wilayah Aceh.
Dalam pemaparannya, Miftahul Jannah menjelaskan bahwa pembahasan tentang manusia dalam perspektif Islam tidak hanya menyangkut perilaku dan proses mental, tetapi juga melibatkan dimensi ruh, nafs, dan qalb. Ruh dijelaskan sebagai unsur kehidupan yang berasal dari Allah, nafs berkaitan dengan kesadaran diri dan keinginan, sedangkan qalb berperan sebagai pusat kendali dan pengambilan keputusan.
Ia juga membahas tingkatan nafs, yaitu nafs al-ammarah, yang cenderung mendorong manusia pada keburukan; nafs al-lawwamah, yang ditandai dengan munculnya kesadaran dan penyesalan; serta nafs al-mutma’innah, yakni kondisi jiwa yang tenang dan selaras dengan nilai-nilai ilahiah.
Selain membahas konsep jiwa, kajian juga mengulas perkembangan manusia dalam perspektif Al-Qur’an mulai dari fase kandungan, bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga usia lanjut. Setiap fase tidak hanya dipahami sebagai perkembangan biologis, tetapi juga memiliki tugas perkembangan psikologis, moral, sosial, dan spiritual.
Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab. Diskusi menjadi semakin menarik ketika seorang audience mengangkat persoalan remaja yang kesulitan menemukan jati diri ketika dukungan orang tua dan lingkungan sosial tidak tersedia. Ia mempertanyakan sejauh mana perkembangan nafs berperan dalam proses tersebut dan bagaimana remaja dapat kembali menemukan identitas dirinya. Pertanyaan ini relevan dengan materi tentang masa remaja sebagai fase pencarian jati diri serta teori Erikson mengenai identity versus role confusion. Kajian ini juga membuka ruang diskusi mengenai cara mendialogkan teori psikologi modern dengan konsep manusia dalam Al-Qur’an secara ilmiah, tanpa sekadar mencocokkan istilah atau teori.
Ketua Umum API Wilayah Aceh, Hafnidar, S.Psi., M.Sc., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan dukungan terhadap terselenggaranya kajian keilmuan secara berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, API Wilayah Aceh diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan bagi akademisi, praktisi, mahasiswa, dan pemerhati psikologi Islam untuk saling berbagi ilmu dan mengembangkan kajian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sebagai kajian perdana, kegiatan ini diharapkan menjadi awal terbentuknya tradisi diskusi akademik yang rutin di lingkungan Asosiasi Psikologi Islam Wilayah Aceh. Ke depan, Kajian Bulanan API Aceh direncanakan menghadirkan beragam tema psikologi Islam yang aktual dan relevan dengan perkembangan ilmu psikologi serta konteks sosial masyarakat Aceh.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta. Berdasarkan susunan acara, rangkaian kajian berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga 10.30 WIB.|MULYADI

Subscribe to my channel

