SEJUMLAH petani berkumpul di sudut Desa Meunasah Buket, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Sebuah pondok disiapkan untuk para pembeli durian yang datang ke pedalaman kabupaten itu.
Masyarakat menyebutnya durian Buloh, mengacu nama populer Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara. Harganya ramah dikantong hanya Rp 25.000-Rp 30.000 tergantung ukuran. Jika ukuran sangat kecil, bahkan diberikan secara gratis untuk sekadar dicicipi di lokasi itu.
Salah seorang petani Amiruddin, menyebutkan mereka membuat pondok itu untuk menampung buah durian dari sejumlah kebun petani lainnya. Sehingga, bagi pembeli yang tidak ingin langsung ke kebun, bisa membeli di pondok tersebut.
“Tujuannya memudahkan pembeli saja. Ini rutin kita buat setiap musim durian,” katanya. Jumat (10/7/2026).
Pembeli juga dibolehkan langsung membeli dibawah pohon durian. Untuk rasa, publik Aceh tau, durian Buloh salah satu durian kampung ternikmat, manis, tebal dan legit. Jika ingin memakan durian langsung dipondok itu juga dibolehkan. Bahkan tersedia pulut bakar untuk dimakan bersama durian.
Selain dijual di lokasi, buah durian itu dijual hingga ke Sumatera Utara, dan sejumlah kabupaten/kota di Aceh. “Kalau jual dalam partai besar itu borongan, besar kecil digabung. Kalau di sini, kita jual kualitas terbaik,” terangnya.
Salah seorang pembeli dari Kota Lhokseumawe, Mulyadi, menyebutkan khusus datang ke lokasi itu setiap kali musim durian. “Jika beli di kota, harganya lumayan mahal. Ukuran terkecil di sini bisa dijual Rp 50.000 per butir di kota. Rasanya juga belum tentu enak,” katanya.
Karena itu, dia memilih datang bersama keluarganya untuk langsung ke pedalaman itu. “Kalau datang kemari, kualitas buahnya sudah terjamin,” terangnya.
Juni-Agustus 2026
Sementara itu, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, menyebutkan bahwa durian merupakan salah satu komoditas unggulan yang menjadi andalan petani di Kabupaten Aceh Utara. Selain di Kecamatan Kuta Makmur yang selama ini dikenal sebagai sentra durian, buah musiman tersebut juga banyak dibudidayakan oleh masyarakat di Kecamatan Geureudong Pase, Paya Bakong, dan Sawang. Kawasan-kawasan tersebut memiliki bentang alam berbukit dengan kondisi tanah dan iklim yang sangat mendukung pertumbuhan tanaman durian, sehingga menghasilkan buah dengan cita rasa khas yang diminati masyarakat.
Menurut Ismail A. Jalil, musim durian bukan hanya menjadi momen yang dinanti para pecinta buah, tetapi juga menjadi sumber perputaran ekonomi bagi masyarakat pedesaan. Saat panen tiba, banyak warga memperoleh tambahan pendapatan dari hasil penjualan durian, baik yang dipasarkan di pinggir jalan maupun dikirim ke berbagai daerah di Aceh. Aktivitas perdagangan musiman itu turut menggerakkan sektor lain, mulai dari jasa transportasi hingga usaha kuliner berbahan dasar durian.
Kabupaten Aceh Utara sendiri memiliki wilayah yang cukup luas, terdiri atas 27 kecamatan dengan karakteristik geografis yang beragam. Kecamatan seperti Sawang, Paya Bakong, Geureudong Pase, dan Kuta Makmur dikenal memiliki kawasan perkebunan rakyat yang masih asri dan menjadi habitat ideal bagi tanaman buah tahunan, termasuk durian. Kondisi tersebut menjadikan daerah pedalaman Aceh Utara sebagai salah satu kantong produksi durian yang potensial di Provinsi Aceh.
Ia berharap potensi durian Aceh Utara dapat terus dikembangkan melalui pembinaan petani, peningkatan akses infrastruktur, serta promosi yang lebih luas sehingga mampu menjadi daya tarik wisata berbasis pertanian. Dengan pengelolaan yang baik, durian tidak hanya menjadi komoditas musiman, tetapi juga dapat berkembang menjadi identitas daerah yang memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat.
“Bagi pecinta durian, Juni hingga Agustus adalah waktu yang tepat untuk berburu durian di Aceh Utara. Silakan datang dan rasakan langsung sensasi menikmati durian dari kebun-kebun masyarakat dengan harga yang sangat terjangkau. Yang paling penting, rasanya dipastikan enak dan tidak mengecewakan,” ujar Ismail A. Jalil.
Menurutnya, keunggulan durian Aceh Utara terletak pada rasa manis yang khas, tekstur daging buah yang lembut, serta aroma yang kuat namun tetap disukai banyak orang. Keramahan masyarakat dan suasana pedesaan yang masih alami juga menjadi pengalaman tersendiri bagi para pengunjung yang ingin menikmati durian langsung dari sentra produksinya.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mengajak masyarakat dari berbagai daerah untuk menjadikan musim durian sebagai agenda wisata tahunan. Selain menikmati kelezatan buah lokal berkualitas, kunjungan tersebut juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap para petani yang selama ini menjaga dan merawat kekayaan hortikultura daerah. Dengan demikian, durian tidak hanya menjadi kebanggaan Aceh Utara, tetapi juga dapat tumbuh sebagai penggerak ekonomi rakyat yang berkelanjutan.
Komunitas Durian
Sebelumnya, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Poraparekraf) Kabupaten Aceh Utara, Zulkifli, menilai musim durian di sejumlah kecamatan di Aceh Utara memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata berbasis masyarakat atau community based tourism. Menurutnya, keberadaan sentra-sentra durian di Kuta Makmur, Geureudong Pase, Paya Bakong, dan Sawang tidak hanya menghadirkan hasil pertanian berkualitas, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata yang unik bagi para pengunjung.
Zulkifli mengatakan, tren wisata saat ini tidak lagi hanya berfokus pada kunjungan ke destinasi alam atau objek buatan semata. Wisatawan kini mulai mencari pengalaman yang lebih autentik, seperti menikmati kehidupan pedesaan, berinteraksi langsung dengan masyarakat, hingga merasakan sensasi memetik atau menyantap hasil kebun langsung dari sumbernya. Potensi inilah yang dimiliki Aceh Utara melalui kekayaan komoditas duriannya.
“Musim durian dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan wajah lain pariwisata Aceh Utara. Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli dan menikmati durian, tetapi juga dapat merasakan suasana pedesaan yang sejuk, melihat langsung proses budidaya di kebun masyarakat, serta menikmati keramahan warga. Ini merupakan paket wisata sederhana, tetapi memiliki daya tarik yang kuat,” ujar Zulkifli.
Ia menjelaskan, jika dikelola secara terencana, wisata durian akan memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat. Tidak hanya petani yang memperoleh keuntungan dari penjualan buah, tetapi juga pelaku usaha mikro, pedagang kuliner, penyedia jasa transportasi, pemilik penginapan, hingga pelaku ekonomi kreatif lainnya. Kehadiran wisatawan pada musim panen diyakini mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian daerah.
Menurut Zulkifli, pemerintah daerah juga mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mengembangkan potensi tersebut. Diperlukan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah kecamatan dan gampong, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), komunitas pemuda, hingga pelaku usaha setempat agar sentra durian dapat dikemas menjadi destinasi wisata musiman yang nyaman dan aman dikunjungi.
Ia menambahkan, promosi berbasis digital juga perlu diperkuat untuk menjangkau wisatawan yang lebih luas. Pemanfaatan media sosial, konten kreatif, serta publikasi melalui berbagai platform dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan durian Aceh Utara ke tingkat nasional. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, wisata kuliner berbasis produk lokal terbukti mampu menarik minat generasi muda untuk berkunjung ke suatu daerah.
“Ke depan, kami berharap dapat menghadirkan agenda khusus seperti Festival Durian Aceh Utara yang melibatkan para petani, pelaku UMKM, komunitas seni, dan masyarakat setempat. Festival tersebut bukan hanya menjadi ruang promosi produk unggulan daerah, tetapi juga wadah untuk melestarikan budaya, memperkuat identitas lokal, serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Aceh Utara,” kata Zulkifli.
Ia optimistis, dengan potensi alam yang dimiliki serta dukungan masyarakat yang kuat, durian Aceh Utara dapat berkembang menjadi ikon wisata baru yang mampu bersaing dengan daerah lain di Indonesia. “Aceh Utara memiliki banyak kekayaan yang belum sepenuhnya dikenal publik. Durian adalah salah satunya. Jika dikelola dengan baik dan dipromosikan secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin Aceh Utara akan dikenal sebagai salah satu destinasi wisata durian unggulan di Tanah Air,” pungkasnya.
|ADVERTORIAL

Subscribe to my channel

